RADAR BOGOR - Program Indonesia Pintar (PIP) kembali menyalurkan harapan bagi ribuan pelajar dari keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia.
PIP, yang merupakan program bantuan dana pendidikan dari pemerintah, dirancang untuk mencegah anak putus sekolah akibat kesulitan ekonomi.
Dalam pengecekan terbaru yang dilakukan siswa terkonfirmasi masuk dalam daftar penerima maupun calon penerima bantuan untuk periode 2024–2025.
Nama-nama tersebut mencerminkan betapa pentingnya program ini bagi keberlangsungan pendidikan anak-anak Indonesia.
Salah satunya adalah Muhammad Nurwan, siswa SMA asal Jawa Barat, yang tercatat menerima bantuan pertama kali pada tahun 2024.
Aktivasi rekening dilakukan pada akhir Juli, sementara dana baru masuk pada September.
Waktu tunggu sekitar satu bulan lebih ini menjadi pola yang umum dialami banyak penerima, menunjukkan bahwa meski bantuan tersedia, pencairan tetap membutuhkan kesabaran.
Kisah lain datang dari Rehan Firdaus, siswa SMK yang sudah akrab dengan program PIP sejak sekolah dasar.
Hampir setiap tahun namanya masuk daftar nominasi.
Namun, pengalaman pahit sempat dialami ketika dana bantuan dikembalikan ke kas negara akibat rekening tidak diaktivasi tepat waktu.
Kejadian tersebut menjadi pelajaran penting, aktivasi rekening adalah langkah krusial yang harus segera dilakukan agar bantuan tidak hilang begitu saja.
Ibnu Alkhattab, pelajar SMP Negeri di Banten, juga masuk nominasi PIP tahun 2025.
Ia telah melakukan aktivasi rekening pada Juli tahun ini, dan seperti pola sebelumnya, dana diharapkan masuk pada bulan September.
Ibnu hanyalah satu dari sekian banyak siswa yang penuh harap menanti pencairan.
Sementara itu, Dastan Alvarizki, siswa SD dari Aceh, mencerminkan sisi lain PIP.
Dastan berasal dari keluarga kategori "sangat miskin" (desil 1 P3KE) sehingga masuk prioritas penerima.
Dengan penyaluran melalui Bank Syariah Indonesia (BSI), Dastan diharapkan tetap mendapat bantuan secara berkelanjutan agar bisa menyelesaikan pendidikan dasarnya.
Namun tidak semua berjalan mulus. Rizki Eka Putra, pelajar SD asal Kalimantan Selatan, justru gagal terdeteksi dalam sistem akibat kesalahan pengisian data NISN.
Akibatnya, ia harus mengulang proses agar bisa masuk dalam daftar valid penerima.
Cerita dari para siswa ini menggambarkan peran vital PIP dalam membuka akses pendidikan.
Program ini bukan hanya soal rupiah yang masuk ke rekening, melainkan jaring pengaman sosial agar anak-anak dari keluarga miskin tidak terputus pendidikannya.
Baca Juga: Pengumuman, Kolam Renang Mila Kencana Kota Bogor Ditutup Pekan Depan karena Ada Perbaikan
Dengan pengelolaan yang lebih baik, PIP dapat terus menjadi benteng agar mimpi anak bangsa tetap terjaga. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim