RADAR BOGOR – Penyaluran BPNT tahap 4 tahun 2025 kembali mencuri perhatian publik.
Tanpa banyak pengumuman resmi, ribuan KPM melaporkan saldo bantuan masuk ke KKS mereka secara bertahap sejak pagi hingga malam hari.
Tidak sedikit yang mengaku terkejut karena nominal yang diterima jauh di atas ekspektasi.
Secara resmi, BPNT tahap 4 dialokasikan sebesar Rp600.000 per KPM untuk periode Oktober–Desember 2025, atau setara Rp200.000 per bulan.
Program ini menyasar 18,3 juta keluarga di seluruh Indonesia.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan variasi pencairan yang cukup signifikan.
Dilansir dari kanal YouTube Info Bansos, berdasarkan pantauan terbaru, Bank BNI menjadi aktor utama dalam penyaluran BPNT.
Mayoritas laporan pencairan berasal dari KKS BNI, terutama di wilayah perkotaan.
Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mencatat progres tertinggi.
Banyak KPM mengaku saldo masuk sejak dini hari dan langsung dapat digunakan untuk belanja kebutuhan pokok.
Yang menarik, tidak semua KPM menerima jumlah yang sama.
Penerima lama dengan KKS aktif umumnya menerima Rp600.000 sesuai ketentuan BPNT murni.
Namun, bagi KPM baru atau yang mengalami pembaruan data, nominal yang masuk dapat mencapai Rp1 juta.
Tambahan dana ini berasal dari kebijakan penebalan bantuan sembako yang digabungkan dengan BPNT tahap 4.
Fenomena pencairan ganda ini paling banyak dilaporkan di Jawa Timur dan Sumatera Selatan.
Di Palembang, penyaluran BLT Kesra senilai Rp900.000 turut masuk bersamaan, sehingga total saldo yang diterima KPM meningkat signifikan.
Sejumlah pelaku usaha mikro bahkan mengaku menggunakan dana tersebut sebagai modal tambahan menjelang akhir tahun.
Lebih lanjut, KPM yang masuk kategori PKH menerima nominal paling besar.
Akumulasi BPNT dan PKH termin 7 membuat saldo KKS menembus Rp1,2 juta hingga Rp1,3 juta.
Di Bali, dana tersebut dimanfaatkan untuk perbaikan rumah pascabencana.
Sementara itu, di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara, dana bansos digunakan untuk kebutuhan pendidikan dan kesehatan keluarga.
Dari sisi regional, Pulau Jawa masih menjadi pusat penyaluran tercepat.
Sumatera menyusul dengan progres 70–80 persen, khususnya untuk KKS baru.
Bali dan Sulawesi menunjukkan tren positif untuk pencairan akumulasi bantuan sosial.
Di sisi lain, Kalimantan dan Papua masih dalam tahap penyesuaian distribusi.
Bank Mandiri mulai aktif menyalurkan BPNT di wilayah timur, termasuk NTT, Maluku, dan sebagian Sulawesi.
Meskipun porsinya masih sekitar 15 persen secara nasional, kenaikan progres hari ini cukup signifikan dibandingkan hari sebelumnya.
Bank Syariah Indonesia mencatat performa kuat di Aceh, sedangkan Bank BRI hingga kini masih minim laporan pencairan.
Secara keseluruhan, penyaluran BPNT tahap akhir 2025 dipastikan masih berlangsung hingga akhir Desember.
Pemerintah menegaskan bahwa perbedaan nominal bantuan disebabkan oleh akumulasi beberapa program sosial, validasi data terbaru, serta status kepesertaan PKH dan BLT Kesra.
KPM diimbau tidak panik dan terus memantau saldo KKS secara berkala karena pencairan dilakukan bertahap sesuai wilayah dan bank penyalur.***
Editor : Eli Kustiyawati