RADAR BOGOR - Banyak masyarakat mempertanyakan alasan bantuan sosial tidak lagi diterima, meskipun kondisi ekonomi dirasa belum stabil.
Salah satu penyebab yang paling sering terjadi adalah status Desil yang tergolong tinggi dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Sistem ini bekerja dengan menilai kondisi ekonomi rumah tangga secara menyeluruh, bukan hanya dari pengakuan, sehingga hasilnya kerap berbeda dengan persepsi penerima di lapangan.
1. Pemahaman dasar tentang sistem Desil dalam penentuan bantuan
Dilansir dari kanal Pendamping Sosial, sistem Desil membagi tingkat kesejahteraan masyarakat ke dalam sepuluh kelompok.
Desil 1 hingga Desil 5 ditempatkan sebagai kelompok yang dianggap masih membutuhkan dukungan, sedangkan Desil 6 sampai Desil 10 diklasifikasikan sebagai kelompok yang dinilai sudah memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.
Ketika seseorang tercatat berada di Desil tinggi, maka peluang untuk menerima bantuan otomatis menjadi sangat terbatas.
2. Alasan Desil tinggi menyebabkan bantuan tidak cair
Status Desil tinggi menandakan bahwa sistem membaca adanya kemampuan ekonomi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Penilaian ini tidak hanya didasarkan pada satu indikator, melainkan gabungan antara penghasilan, kondisi rumah tangga, usia, serta kepemilikan aset.
Oleh karena itu, meskipun penghasilan terasa pas-pasan, hasil penilaian sistem bisa menunjukkan sebaliknya.
Baca Juga: Bukan Cuma BPNT Tahap 4, Ini Deretan Bansos yang Masih Cair hingga Hari Ini, 20 Desember 2025
3. Langkah yang dapat ditempuh jika merasa masih layak dibantu
Bagi masyarakat yang merasa kondisi ekonominya menurun dan tidak sesuai dengan status Desil yang tercatat, tersedia mekanisme pengajuan perbaikan data.
Proses ini dapat dilakukan melalui aparat setempat atau secara mandiri melalui layanan pengecekan bantuan sosial (bansos).
Setelah diajukan, data akan melalui tahapan verifikasi dan survei ulang, sehingga hasilnya tidak dapat langsung berubah dalam waktu singkat.
4. Penyebab utama pengajuan penurunan Desil sering tidak berhasil
Banyak pengajuan perbaikan data tidak langsung berdampak karena sistem pendataan telah terintegrasi secara digital.
Nomor Induk Kependudukan terhubung dengan berbagai basis data ekonomi, sehingga perubahan status hanya bisa terjadi jika data pendukung benar-benar menunjukkan penurunan kondisi kesejahteraan.
5. Faktor pertama: penghasilan tetap yang masih terdeteksi
Seseorang yang tercatat memiliki pekerjaan dengan penghasilan rutin setiap bulan akan sulit masuk kategori Desil rendah.
Penghasilan tetap dianggap sebagai indikator kuat bahwa kebutuhan dasar masih dapat dipenuhi secara mandiri.
6. Faktor kedua: usia produktif sebagai indikator kemampuan ekonomi
Individu atau kepala keluarga yang berada pada usia produktif dinilai masih memiliki kemampuan untuk bekerja dan mencari penghasilan. Kondisi ini membuat sistem menilai bahwa bantuan bukan lagi prioritas utama.
7. Faktor ketiga: tidak adanya anggota keluarga rentan
Rumah tangga yang tidak memiliki lansia, penyandang disabilitas, atau anggota keluarga dengan kondisi khusus biasanya memiliki prioritas lebih rendah.
Kehadiran anggota rentan menjadi salah satu indikator penting dalam penentuan kelayakan bantuan.
8. Faktor keempat: pola pengeluaran dan gaya hidup
Pengeluaran bulanan yang dinilai cukup tinggi, termasuk pembelian barang non-primer atau aktivitas konsumtif seperti belanja daring dan penggunaan game online terlarang, dapat memengaruhi penilaian sistem terhadap tingkat kesejahteraan seseorang.
9. Faktor kelima: kepemilikan aset atas nama pribadi
Kepemilikan kendaraan, tanah, atau rumah yang tercatat secara resmi atas nama pribadi menjadi faktor paling menentukan.
Walaupun aset tersebut sudah jarang digunakan atau diklaim milik pihak lain, sistem tetap membacanya sebagai kekayaan yang sah.
10. Jenis bantuan yang umumnya disesuaikan dengan tingkat Desil
Kelompok Desil 1 hingga 4 biasanya memiliki peluang lebih besar untuk menerima berbagai jenis bantuan.
Sementara itu, Desil 5 umumnya hanya berkesempatan menerima bantuan pangan, dan peluang bantuan lainnya menjadi sangat terbatas.***
Editor : Eli Kustiyawati