RADAR BOGOR - Perubahan sistem penyaluran bantuan sosial (bansos) justru menimbulkan persoalan baru yang dirasakan KPM di lapangan, terkait fenomena gagal buka rekening kolektif (burekol).
Fenomena ini dikenal dengan istilah gagal burekol atau gagal buka rekening kolektif, yang kini dialami oleh KPM di daerah-daerah yang baru saja beralih dari penyaluran bansos via Kantor Pos ke sistem perbankan menggunakan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
Melansir YouTube Ach Haris Efendi, sejak 2025, pemerintah mulai mengalihkan penyaluran bansos untuk KPM dari sistem tunai ke rekening bank. Aturan ini menjadikan masalah gagal burekol sering ditemui penerima.
Dalam proses pembukaan rekening secara massal, bank menghadapi kendala data yang menyebabkan sebagian KPM gagal mendapatkan rekening, sehingga bantuan tidak bisa disalurkan.
Data Lama Jadi Masalah Baru
Dilansir dari kanal YouTube Ach Haris Effendi, terdapat pola yang sama pada KPM yang mengalami gagal burekol.
Sebagian dari mereka ternyata pernah membuka rekening di bank yang sama bertahun-tahun lalu.
Meski rekening tersebut sudah lama tidak digunakan, data identitas yang dulu tidak sinkron masih tersimpan di sistem perbankan.
Ketika sistem membaca adanya ketidaksesuaian data, proses pencetakan rekening baru otomatis dibatalkan.
Tak hanya itu, ada pula KPM yang pernah mengajukan pinjaman di bank terkait.
Riwayat kredit tersebut diduga ikut memengaruhi sistem saat dilakukan pembukaan rekening kolektif bansos.
Bukan Karena Tak Layak
Haris menegaskan bahwa kasus gagal burekol ini tidak berkaitan dengan kelayakan penerima bantuan.
Banyak dari mereka masih berada di desil 3, jauh di bawah ambang batas maksimal penerima bansos.
Saat ini, pihak pendamping sosial dan pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan bank penyalur serta Kementerian Sosial.
Fokus utama adalah rekonsiliasi data berbasis NIK dan nomor KK agar sistem dapat kembali membaca data KPM secara valid.
Sambil menunggu solusi permanen, KPM yang terdampak diminta untuk aktif melakukan pengusulan ulang melalui desa atau kelurahan, serta memastikan data kependudukan mereka telah sesuai dan terbaru.
Pelajaran Penting dari Kasus Gagal Burekol
Kasus ini menjadi pelajaran penting bahwa perubahan sistem besar membutuhkan kesiapan data yang matang.
Tanpa sinkronisasi menyeluruh, masyarakat kecil justru berpotensi menjadi korban dari sistem yang seharusnya membantu mereka.
Meski demikian, ada harapan besar bahwa persoalan ini dapat segera diatasi dan bansos kembali cair pada periode berikutnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga