RADAR BOGOR – Pemerintah melalui Kementerian Sosial memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperbarui data desil sosial ekonomi mereka sepanjang tahun 2026, khususnya mulai Maret hingga Juli.
Langkah ini bertujuan agar penyaluran bantuan sosial (bansos) semakin tepat sasaran dan menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan.
Apa Itu Desil dan Mengapa Penting?
Dilansir dari laman kemensos.go.id, desil merupakan pengelompokan kondisi sosial ekonomi masyarakat berdasarkan data yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Masyarakat dibagi ke dalam skala desil 1 hingga 10, di mana desil 1 menunjukkan kondisi paling tidak mampu dan desil 10 paling sejahtera.
Pembagian desil ini menjadi penentu utama siapa saja yang berhak menerima berbagai program bansos, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBIJK) atau BPJS Kesehatan gratis.
Masalahnya, tidak sedikit warga yang tercatat pada desil lebih tinggi dari kondisi ekonomi sebenarnya.
Hal ini bisa terjadi karena data yang belum diperbarui, atau karena identitas pribadi digunakan untuk mencatat aset yang bukan milik mereka.
Lima Bulan Berpeluang: Maret hingga Juli 2026
Meski pembaruan desil sejatinya bisa dilakukan kapan saja, terdapat dua momentum strategis di rentang Maret–Juli 2026 yang sayang untuk dilewatkan:
• Survei Ground Checking PBIJK: Petugas dari Kementerian Sosial akan turun langsung ke lapangan untuk memverifikasi kondisi sosial ekonomi warga, khususnya terkait pemutakhiran data penerima BPJS Kesehatan gratis.
Pada saat survei, masyarakat diimbau untuk menyampaikan kondisi ekonomi secara jujur dan terbuka.
• Sensus Ekonomi 2026: Dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Mei hingga Juli 2026, sensus ini hanya digelar setiap 10 tahun sekali.
Terakhir dilakukan pada 2016, sensus ekonomi ini akan melibatkan petugas BPS beserta mitra yang akan mendatangi rumah tangga untuk mencatat kondisi sosial ekonomi terkini.
Prinsip "Tepat Sasaran" Berarti Ada yang Tercoret
Pemerintah menegaskan bahwa pembaruan data ini adalah bagian dari upaya menjadikan bansos lebih tepat sasaran.
Konsekuensinya, penerima lama yang kondisi ekonominya sudah membaik akan dicoret, dan anggaran dialihkan kepada mereka yang lebih membutuhkan.
Hal ini memang memunculkan berbagai reaksi di masyarakat. Namun pemerintah berkomitmen bahwa proses ini dilakukan berdasarkan data, bukan subjektivitas.
Waspada: Jangan Pinjamkan Identitas untuk Aset Orang Lain
Dilansir dari YouTube Ach Haris Efendy, salah satu penyebab desil seseorang menjadi tinggi tanpa disadari adalah karena identitas mereka (KTP/KK) digunakan orang lain untuk mencatat kepemilikan kendaraan bermotor bernilai tinggi, tanah, atau pinjaman online.
Dalam sistem DTSEN, aset yang tercatat atas nama seseorang otomatis meningkatkan skor sosial ekonominya.
"Jangan mau meminjamkan identitas Anda untuk keperluan pembelian kendaraan mahal atau pinjaman orang lain," demikian pesan yang ditekankan. "Karena identitas Anda yang tercatat, otomatis desil Anda yang naik."
Cara Memperbarui Desil Secara Mandiri
Bagi warga yang merasa desil mereka tidak sesuai kondisi sebenarnya, tersedia beberapa jalur resmi pembaruan:
1. Aplikasi Cek Bansos: Unduh di smartphone, masukkan data diri, lalu ajukan pembaruan desil secara mandiri.
2. Kantor Desa atau Kelurahan: Datangi langsung petugas setempat untuk dilakukan pemutakhiran data sosial ekonomi.
3. Dinas Sosial Kabupaten/Kota: Dapat dikunjungi untuk proses lebih lanjut jika diperlukan.
Dengan memanfaatkan momentum ini, masyarakat yang seharusnya menerima bansos namun belum terdaftar berpeluang lebih besar untuk mendapatkan hak mereka melalui proses yang valid dan berbasis data.***
Editor : Eli Kustiyawati