RADAR BOGOR — Rencana pembentukan puluhan ribu koperasi desa atau kelurahan berwarna merah putih memberi peluang kerja dalam jumlah besar, terutama bagi masyarakat pendapatannya rendah dan selama ini mengandalkan dan ketergantungan bantuan sosial atau bansos.
Program kerja sama antar kementerian ini diperkirakan bisa menyerap ratusan ribu orang sebagai tenaga kerja.
Perhitungan itu merujuk pada target pembentukan sekitar 80 ribu koperasi di berbagai daerah, dengan setiap unit membutuhkan tenaga kerja rata-rata belasan orang.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan, kesempatan ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang berada di tingkat ekonomi paling bawah agar memiliki penghasilan yang lebih tetap.
“Harapannya nanti setelah jadi anggota Koperasi, mereka bisa mendapatkan sisa hasil usaha yang akan menambah pendapatan, sehingga mereka nanti diharapkan bisa keluar dari kelompok di Desil 1 dan Desil 2,” kata Ferry.
Lapangan kerja yang disediakan tidak hanya menargetkan satu jenis pekerjaan saja. Dalam berjalannya operasional koperasi, diperlukan beberapa peran seperti tenaga yang menangani distribusi, pengelola logistik, serta fungsi-fungsi pendukung lainnya.
Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah menyampaikan bahwa detail mengenai skema pekerjaan masih dalam proses penyusunan, termasuk penentuan posisi yang akan ada di setiap koperasi.
“Kita masih sedang membuat skemanya, yang pasti nanti ada driver, tentu saja karena ada mobil dan lain sebagainya, ada satpam, ada penjaga gudangnya dan lain sebagainya, ini masih proses pematangan,” kata Farida.
Dari sisi sosial, langkah ini dianggap sebagai cara baru yang mungkin membantu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pemerintah.
Masyarakat yang sebelumnya hanya mendapat bantuan kini diajak berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang atau jasa.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa partisipasi tersebut merupakan bagian dari strategi pemberdayaan yang lebih berkelanjutan.
“Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih ini adalah bagian dari pemberdayaan keluarga penerima manfaat, termasuk memberikan kesempatan untuk bekerja di dalamnya," katanya.
Menurutnya, ukuran sukses sebuah program tidak hanya tergantung pada penyaluran bantuan, tetapi juga pada perubahan kondisi ekonomi penerima yang mulai bisa mandiri.
Dengan cara itu, kita bisa mengetahui berapa banyak keluarga yang sudah mandiri dan tidak lagi memerlukan bantuan karena sudah memiliki penghasilan yang lebih baik, ujarnya.
Selain penghasilan yang diperoleh secara rutin, anggota koperasi juga bisa mendapatkan bagian dari sisa hasil usaha (SHU) yang dibagikan secara berkala, sehingga memberikan manfaat ekonomi tambahan di luar penghasilan utama mereka.
Keuntungan yang diperoleh koperasi akan kembali kepada anggota dalam bentuk SHU, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh para penerima, tutur dia.
Jika berjalan sesuai rencana, koperasi ini tidak hanya menjadi tempat untuk berkembangnya usaha, tetapi juga menciptakan pekerjaan baru di tingkat masyarakat setempat.
Program ini diharapkan bisa menjadi salah satu motor penggerak dalam memperluas kesempatan kerja yang berbasis komunitas di berbagai wilayah.***
Editor : Eli Kustiyawati