RADAR BOGOR - Desil 3 dan desil 4 dalam data kesejahteraan sosial kembali menjadi sorotan publik.
Di tengah penyaluran bantuan sosial (bansos) yang terus berjalan, muncul pertanyaan besar: apakah kelompok ini masih berhak menerima bantuan, atau justru mulai tersingkir karena dianggap sudah lebih mandiri secara ekonomi?
Dilansir dari YouTube Diary Bansos, pemerintah melalui sistem pendataan kesejahteraan seperti DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) membagi masyarakat ke dalam beberapa kelompok berdasarkan tingkat ekonomi.
Desil 1 dan 2 merupakan kategori paling miskin, sedangkan desil 3 dan 4 berada di posisi rentan, yakni belum sepenuhnya sejahtera namun tidak termasuk paling miskin.
Dalam praktiknya, desil 3 dan desil 4 memang masih masuk dalam cakupan penerima bansos.
Artinya, masyarakat dalam kelompok ini tetap memiliki peluang untuk mendapatkan bantuan dari program seperti PKH (Program Keluarga Harapan) maupun BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai), tergantung kebijakan dan ketersediaan kuota.
Namun demikian, pemerintah kini menerapkan skema prioritas yang lebih ketat. Fokus utama penyaluran bansos diarahkan kepada desil 1 dan 2 sebagai kelompok yang paling membutuhkan.
Hal ini membuat posisi desil 3 dan 4 menjadi tidak sekuat sebelumnya dalam daftar penerima manfaat.
Baca Juga: Tanda-tanda Cair Muncul! Bansos PKH-BPNT Tahap 2 Ada Status Baru di SPM dan SI, KPM Mohon Sabar
Kondisi tersebut memunculkan potensi pergeseran penerima bansos. Jika kuota terbatas atau anggaran mengalami penyesuaian, maka desil 3 dan 4 berisiko dicoret lebih dahulu dibandingkan kelompok yang lebih miskin.
Dengan kata lain, status mereka sebagai penerima tidak lagi bersifat aman.
Selain faktor prioritas, pembaruan data juga menjadi penentu penting. Pemerintah secara berkala melakukan verifikasi dan validasi data lapangan.
Jika ditemukan bahwa kondisi ekonomi seseorang sudah membaik, maka namanya bisa dihapus dari daftar penerima bansos meskipun sebelumnya terdaftar.
Desil 4 menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak pencoretan. Hal ini karena posisinya yang sudah mendekati kategori masyarakat menengah bawah, sehingga sering kali dianggap sudah memiliki kemampuan ekonomi yang lebih stabil dibandingkan kelompok lainnya.
Sementara itu, desil 3 masih memiliki peluang yang lebih besar untuk tetap menerima bantuan, meskipun tidak sepenuhnya aman.
Keberlanjutan status mereka sangat bergantung pada kondisi daerah, jumlah penerima, serta hasil pembaruan data terbaru dari pemerintah setempat.
Situasi ini membuat masyarakat di desil 3 dan 4 perlu lebih aktif memantau status mereka. Pemeriksaan data secara berkala menjadi langkah penting untuk memastikan apakah masih terdaftar sebagai penerima bansos atau tidak, sekaligus mengantisipasi perubahan kebijakan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Kesimpulannya, desil 3 dan desil 4 memang masih layak menerima bansos, namun tidak lagi menjadi prioritas utama.
Potensi dicoret tetap ada, terutama jika kondisi ekonomi dinilai sudah membaik atau jika kuota bantuan dialihkan kepada kelompok yang lebih membutuhkan.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap sistem desil dan pembaruan data menjadi kunci agar masyarakat tidak salah persepsi terhadap hak dan peluang mereka dalam program bansos.***
Editor : Eli Kustiyawati