RADAR BOGOR - Di tengah tekanan ekonomi yang kian terasa, program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) kembali menjadi sorotan publik.
Banyak pihak menilai pencairan bansos ini sangat efektif membantu masyarakat bertahan dalam situasi yang kerap disebut sebagai “survival mode” ekonomi nasional saat ini.
Berdasarkan dari YouTube Arfan Saputra Channel, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, ditambah dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, membuat daya beli masyarakat lapisan bawah semakin tertekan.
Dalam situasi tersebut, kehadiran bansos dinilai menjadi penyangga utama agar masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Baca Juga: Meski 11.014 KPM Dicoret, Pemerintah Justru Perketat Monitoring Agar Bansos Lebih Tepat Sasaran
PKH dan BPNT secara langsung menyasar kelompok paling rentan, mulai dari keluarga prasejahtera, ibu hamil, anak sekolah, hingga lansia.
Bantuan yang diberikan tidak bersifat abstrak, melainkan langsung menyentuh kebutuhan riil seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan. Hal inilah yang membuat dampaknya terasa cepat di tengah masyarakat.
Sejumlah penerima manfaat mengaku bantuan tersebut sangat membantu, terutama untuk membeli bahan pokok seperti beras, telur, dan kebutuhan dapur lainnya.
Dalam kondisi pendapatan yang tidak menentu, bansos menjadi sumber tambahan yang cukup signifikan untuk menjaga keberlangsungan hidup keluarga.
Namun demikian, efektivitas bansos tidak dapat dilihat secara sepihak. Meski mampu menjaga konsumsi rumah tangga, bantuan ini belum tentu mampu mengangkat kondisi ekonomi penerima secara jangka panjang.
Banyak keluarga penerima manfaat yang tetap berada dalam kondisi rentan, meskipun telah menerima bantuan secara rutin.
Di sisi lain, tantangan dalam penyaluran bansos masih menjadi perhatian. Proses pencairan yang sering kali dilakukan secara bertahap membuat sebagian masyarakat harus menunggu lebih lama.
Selain itu, perubahan data penerima berdasarkan pembaruan kategori ekonomi juga memicu kebingungan di lapangan.
Ketidaktepatan sasaran juga masih menjadi isu yang belum sepenuhnya terselesaikan. Meski pemerintah terus melakukan pembaruan data, potensi inclusion error (yang tidak berhak tapi menerima) dan exclusion error (yang berhak tapi tidak menerima) tetap ada.
Hal ini menjadi pekerjaan rumah besar dalam meningkatkan akurasi penyaluran bantuan.
Dari sisi cakupan, jumlah penerima PKH dan BPNT memang cukup besar dan menjangkau jutaan keluarga di seluruh Indonesia.
Namun, jika dibandingkan dengan total masyarakat yang berada di ambang kerentanan ekonomi, angka tersebut masih belum sepenuhnya mencakup semua pihak yang membutuhkan.
Baca Juga: Tanda-tanda Cair Muncul! Bansos PKH-BPNT Tahap 2 Ada Status Baru di SPM dan SI, KPM Mohon Sabar
Pengamat ekonomi menilai bahwa bansos seperti PKH dan BPNT lebih tepat diposisikan sebagai “penahan jatuh” daripada “alat pengangkat naik”.
Artinya, bantuan ini efektif mencegah kondisi ekonomi masyarakat semakin terpuruk, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong kemandirian ekonomi secara signifikan.
Meski demikian, dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, keberadaan bansos tetap menjadi instrumen penting.
Tanpa bantuan tersebut, risiko meningkatnya angka kemiskinan dan penurunan kualitas hidup masyarakat bisa menjadi lebih besar.
Ke depan, pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada penyaluran bansos, tetapi juga memperkuat program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dengan demikian, bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mampu menjadi jembatan menuju kemandirian.
Sebagai langkah antisipatif, masyarakat juga diimbau untuk secara aktif mengecek status penerimaan bansos melalui situs resmi cekbansos.kemensos.go.id maupun aplikasi Cek Bansos.
Hal ini penting untuk memastikan apakah bantuan sudah masuk serta menghindari kesalahan informasi di tengah masyarakat.
Dengan berbagai kelebihan dan keterbatasannya, PKH dan BPNT tetap menjadi salah satu instrumen vital dalam menjaga stabilitas sosial di tengah tekanan ekonomi.
Di era “survival mode” seperti sekarang, bansos bukan sekadar bantuan, melainkan penopang kehidupan bagi jutaan masyarakat prasejahtera.***
Editor : Eli Kustiyawati