SURABAYA-RADAR BOGOR, Di tengah guyuran prestasi dan kisah epik Persebaya Surabaya, terdapat satu nama yang tetap bersinar sebagai legenda dan pencipta sejarah ia adalah Subodro. Dia akrab disapa Bodem oleh suporter setia Persebaya, Bonek.
Subodro lahir pada 13 April 1950 di Kota Solo, Jawa Tengah. Meski mengalami banyak perpindahan tempat tinggal sejak kecil, Surabaya menjadi tempat di mana bakat sepak bolanya berkembang pesat. Di sinilah ia memulai perjalanannya bersama sepak bola, bermain di Lapangan Prapat Kurung, yang menjadi saksi bisu awal kiprahnya.
Pada 1967, Subodro bergabung dengan Assyabaab, klub internal kompetisi Persebaya. Tidak butuh waktu lama bagi Subodro muda untuk menarik perhatian. Pada 1968, dia dipromosikan ke skuad junior Persebaya dan seiring waktu, Subodro menanjak menjadi pemain inti di skuad senior.
arirnya bersama Persebaya mencapai puncaknya pada Kejuaraan Perserikatan 1977-1978. Subodro berperan besar membawa Persebaya Surabaya meraih gelar juara yang begitu dinantikan oleh publik Jawa Timur.
Sebagai stopper dan gelandang bertahan, Subodro tidak hanya menjaga pertahanan dengan ketat tetapi juga memberikan kontribusi luar biasa dalam membangun serangan.
Sebagai Asisten Pelatih, Meramu Kejayaan di Balik Layar
Setelah mengakhiri kiprahnya sebagai pemain pada 1985, Subodro tidak meninggalkan dunia sepak bola begitu saja. Pada 1986, dia memilih bertransformasi menjadi seorang pelatih.
Setelah menempuh kursus kepelatihan bersama dengan nama-nama besar sepak bola Indonesia seperti Rusdy Bahalwan, Mudayat, dan Ngurah Rai, Subodro kembali ke pangkuan Persebaya sebagai asisten pelatih.
Perjalanan Subodro sebagai asisten pelatih Persebaya mengukir prestasi mengesankan. Bersama sahabatnya, Rusdy Bahalwan, yang menjabat sebagai pelatih kepala, mereka membawa Persebaya meraih gelar juara Piala Utama 1990 dan Liga Kansas 1996-1997.
Kolaborasi keduanya melahirkan momen bersejarah dan membuktikan bahwa keberhasilan tidak hanya diraih di atas lapangan hijau tetapi juga di balik layar.
Legenda Berpulang, Mengenang Kembali Subodro
Pada Sabtu, 18 Mei 2019, suporter Persebaya dan pecinta sepak bola Indonesia kehilangan salah satu ikonnya. Subodro, sang legenda, meninggalkan dunia pada usia 69 tahun.
Kabar itu membawa duka mendalam. Namun, dunia sepak bola diingatkan untuk tidak hanya berduka, melainkan merayakan perjalanan gemilang yang telah ditempuh oleh sang pahlawan sepak bola.
Sebagai seorang pemain, Subodro telah menuliskan namanya dalam buku sejarah Persebaya. Keberaniannya sebagai stopper dan ketekunannya sebagai gelandang bertahan meninggalkan jejak yang tak terlupakan.
Sebagai seorang pelatih, kontribusinya bersama Rusdy Bahalwan membuktikan bahwa kunci kejayaan tim tidak hanya terletak pada bakat pemain, tetapi juga pada kepemimpinan dan pengetahuan taktis.
Manajemen Persebaya tidak lupa memberikan apresiasi kepada legenda mereka. Pada acara lelang di tahun 2018, Subodro mendapatkan penghargaan dari Mitra Pinasthika Motor (MPM) Distributor sebagai salah satu legenda yang memberikan kontribusi besar. Apresiasi ini menjadi cermin dedikasi dan kesetiaan Subodro terhadap Persebaya.
Melihat Masa Depan dengan Semangat Subodro
Perginya Subodro meninggalkan kekosongan yang sulit diisi. Namun, sukses dan kejayaan yang pernah diraih bersama Persebaya menjadi inspirasi untuk terus berjuang.
Generasi muda dan pemain masa kini diharapkan dapat melihat Subodro sebagai panutan, mengambil hikmah dari kisah perjuangan dan dedikasi yang telah diberikan sang legenda.
Pada akhirnya, Subodro akan tetap hadir dalam kenangan sebagai salah satu bintang yang mewarnai langit Persebaya. Jejaknya yang terukir dalam sejarah klub tidak hanya menjadi warisan berharga bagi Bonek, tetapi juga sebagai inspirasi abadi bagi pecinta sepak bola Tanah Air.
Subodro, sang legenda, selamanya akan diingat sebagai stopper Persebaya yang dengan gagah berani berdiri di garis pertahanan, melindungi kehormatan Persebaya Surabaya, dan merajut kisah kejayaan bersama klub tercinta. (jpg/salsa-pkl)
editor: Yosep Awaludin
Editor : Administrator