CIBINONG-RADAR BOGOR, Kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) di Kabupaten Bogor terus mengalami peningkatan. Peningkatan kasus DBD ini mulai terjadi pada Desember tahun lalu kemudian sempat mereda awal tahun dan naik kembali.
Banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan kasus DBD ini, cuaca yang tidak menentu disebut menjadi salah satu faktor penting. Cuaca yang tidak menentu membuat perkembangbiakan nyamuk menjadi lebih cepat.
"Untuk penanganan sendiri dari kasus DBD di RSUD Cibinong sesuai protap yaitu pemberian cairan karena DBD itu cairan sangat penting. Serta memberikan obat-obatan sesuai gejala yang muncul," kata Dokter IGD RSUD Cibinong dr. Gita Puspitasari.
Baca Juga: Kasus DBD di Kabupaten Bogor Terus Meningkat, Hampir Dekati Kasus Tahun Lalu
Gita menyebut pihaknya sudah mulai memperhatikan kasus DBD ini sejak November tahun lalu. Kemudian di Desember terjadi peningkatan 70-75 persen. Setelah itu sempat menurun di Februari dan April terjadi peningkatan kembali.
"Rentang usia pasien bervariasi yah namun memang banyak kasus terjadi di anak kecil. Usia 10-15 tahun lalu disusul orang dewasa," sebutnya.
Ia menjelaskan kondisi pasien yang ditangani oleh RSUD seringkali sudah ditahap DSS atau ditahap kritis. Kondisi ini ditandai tingginya demam yang dialami oleh pasien dan penurunan secara drastis trombosit dalam darah.
"Ini biasanya terjadi pada hari ketiga dan keempat. Sebab setelah dua hari biasanya demam akan turun namun belum hilang. Ini seringkali diabaikan padahal demam ketiga dan keempat bisa saja merupakan masa kritis pasien," ungkapnya.
Iapun mengimbau masyarakat untuk segera berobat ke RS apabila mengalami demam lebih dari dua hari. Sebab pasien yang kritis akibat DBD seringkali karena terlambat mendapatkan penanganan setelah demam lebih dua hari.
"Pada bulan April pasien DSS ini cukup banyak. Pada 3 atau 4 hari yang lalu saja bisa sampai 3 pasien anak sekaligus yang datang" ujarnya.
"Namun alhamdulilahnya bulan ini tidak ada pasien meninggal. Namun dari catatan pada Januari lalu sempat ada pasien yang masuk sudah DSS dan kondisinya sangat parah sehingga tidak tertolong," tambahnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Cibinong Suparno mengatakan adanya peningkatan kasus DBD membuat mereka menjadi lebih gencar melakukan sosialisasi ke masyarakat. Sosialisasi ini agar masyarakat bisa lebih paham pentingnya menjaga lingkungan.
"Kami selalu memberikan sosialisasi ke masyarakat terkait pencegahan DBD ini," ujarnya.
Pihak Puskesmas Cibinong sendiri menurutnya tidak banyak menangani pasien kritis DBD. Sebab apabila ada laporan terkait pasien yang memasuki masa kritis maka akan langsung dirujuk ke RSUD. "Ini agar mereka mendapatkan penanganan yang lebih lanjut," ujarnya.
Namun mereka tetap akan melakukan perawatan terhadap pasien dengan gejala awal. Untuk mengetahui kondisi pasien seringkali dicek trombosit darahnya.
"Apabila masih tinggi akan kami rawat namun bila sudah menurun drastis akan dirujuk ke RSUD," jelasnya. (rp1)
Editor : Administrator