RADAR BOGOR - Sejumlah tokoh masyarakat dan MUI Desa Tugu Selatan mengunjungi Pakis Hills Puncak, menindaklanjuti persoalan Patung Dewi Kencana.
Kepada pengelola, mereka meminta penjelasan terkait latar belakang dan arti filosofi dari patung dewi Kencana.
Perwakilan tokoh masyarakat Tugu Selatan Arifin mengatakan, sebelum ramai di media sosial, dia bersama unsur masyarakat lainnya sudah membahas terkait patung Dewi Kencana itu.
"Memang pada saat sebelum ke lokasi, kami para tokoh masyarakat dan tokoh agama berpendapat bahwa patung itu harus dibongkar," ungkapnya di Pakis Hills Puncak, Sabtu (27/4) kemarin.
Setelah berbicara dengan pengelola dan mendapat penjelasan secara langsung, dia memahami bahwa patung tersebut tidak berkaitan dengan kegiatan keagamaan.
Patung tersebut juga, menurut pengelola hanya merupakan bagian dari wahana yang ada di Pakis Hills.
"Ternyata patung itu hanya untuk wahana selfie, menarik wisatawan, tidak ada kaitan dengan kegiatan keagamaan, persembahan dan lain sebagainya," jelas Arifin.
Mantan Kepala Desa Tugu Selatan itu mengakui adanya kesalahpahaman di antara masyarakat berkenaan patung tersebut.
Sementara pro kontra terkait patung tersebut akan dibahas di tingkat Kecamatan Cisarua dengan menghadirkan pihak-pihak terkait.
"Belum ada kesimpulan (patung) dibongkar atau tidak, kami sendiri menilai patung itu tidak begitu menganggu, ini hanya kecemburuan sosial, mungkin anggapan masyarakat awam, keberadaan patung itu untuk disembah," tukas Arifin.
Selanjutnya, Humas Pakis Hills Puncak, Jatnika menuturkan, pihaknya membuka diri untuk memberikan penjelasan terkait Patung Dewi Kencana yang telah jadi berbincangan publik.
Namun pihaknya menekankan, bahwa patung tersebut tidak lain hanya bagian dari wahana wisata untuk para pengunjung.
"Dan itu juga bukan permanen, bisa saja kemudian hari kami ganti dengan patung lain, disesuaikan dengan konsep yang kami pilih," tegasnya.
Terpisah, Camat Cisarua Heri Risnandar menjelaskan, bahwa pihaknya siap untuk memediasi pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan selisih paham tersebut. Namun dia berharap, persoalan patung Dewi Kencana itu tidak berkembang, hingga ke isu-isu sensitif seperti agama.
"Soal patung Dewi Kencana, kami selaku unsur pemerintah tentu melihat dari sisi aturan, bagaimana pengelola mematuhi aturan yang berlaku atau tidak. Tentu dengan mengindahkan pendapat tokoh masyarakat setempat," tandasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga