RADAR BOGOR - Hari Kesiapsiagaan Bencana yang diinisiasi oleh BNPB bertujuan untuk mendorong latihan terpadu, terencana, dan berkesinambungan dalam rangka meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan masyarakat untuk Indonesia yang tangguh bencana.
Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 1 Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sangat menyambut hal ini. Mereka bekerja sama dengan ORARI Jawa Barat, BPBD, dan Kwarcab Kabupaten Bogor menggelar Hari Kesiapsiagaan Bencana di SMKN 1 Cibinong pada 26 April lalu.
Rangkaian kegiatan HKB 2024 diikuti kurang lebih 500 peserta dari wilayah KCD I, termasuk kepala sekolah, pengawas, dan pembina pramuka putra-putri dari SMA, SMK, dan SLB Negeri/Swasta.
Menurut Surat Edaran No. 11385/A.A7/HM.00.00/2024 dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) tanggal 17 April 2024, HKB harus dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia pada 26 April 2024 pukul 10.00 waktu setempat.
"Indonesia Tangguh Indonesia Hebat" adalah subtema Hari Kesiapsiagaan Bencana 2024 dengan tema utama "Siap untuk Selamat".
Dalam gerakan "Siap untuk Selamat", orang melakukan latihan penyelamatan diri, evakuasi mandiri, simulasi kebencanaan, dan sosialisasi JOTA/JOTI (Jambore On The Air/Internet) saat bencana alam terjadi.
Ada beberapa orang yang hadir di acara tersebut, termasuk Agus Ridlloh, S.H., M.H., Kepala Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Bogor, Ade Hasrat, S.IP., M.Si (narasumber), dan Ketua Fosil SMA, Ketua Fosil SMK, Ketua MKKS SMA Kabupaten Bogor, dan Ketua MKKS SMK Kabupaten Bogor.
Mengundang BPBD dan Kwarcan Kabupaten Bogor sebagai narasumber dalam simulasi kebencanaan, serta pihak ORARI sebagai narasumber terkait komunikasi saat bencana terjadi dan cara mencegahnya. Ir. Yana Koryana, M.P., Ketua ORARI Daerah Jawa Barat, hadir secara langsung.
Abur menjelaskan bahwa, kehadiran ORARI sangat penting dalam situasi di mana komunikasi terputus, seperti ketika listrik mati atau internet tidak berfungsi. Dalam hal ini, komunikasi hanya dapat dilakukan melalui haditrasifer, dan ORARI sangat berperan.
"Maka kita ingin di setiap sekolah terpasang antena dan yang bertanggung jawab adalah Pembina Pramuka, sehingga ketika terjadi bencana alam antar sekolah bisa saling berkomunikasi dan bisa segera melakukan penyelamatan," kata Kepala KCD Wilayah I, Kabupaten Bogor.
Target akhir dari Hari Kesiapsiagaan Bencana ini adalah untuk mendorong para Pembina Pramuka yang diundang untuk mengikuti ujian amatir radio (ORARI).
Semua pramuka di Kabupaten Bogor harus mengikuti ujian, terlepas dari apakah mereka berasal dari SMA, SMK Negeri atau Swasta, atau SLB Negeri atau Swasta.
"Saya ingin melegalkan komunikasi secara terbuka antar sekolah, dan jika ada yang bertanggung jawab, itu berarti legal," katanya.
Abur menjelaskan bahwa ujian ORARI telah direncanakan untuk dilakukan di Cipanas Cianjur pada 30 Juni 2024.
"Insya Allah pesertanya banyak, sehingga akan diupayakan untuk didaftarkan ke Rekor MURI, karena selama ini untuk ujian ORARI di daerah manapun belum ada yang mencapai 100 orang dalam satu kali ujian," tandasnya.
Pramuka tetap eksis
Abur Mustikawanto, Kepala Cabang Dinas Provinsi Jawa Barat, merasa kesal dan tidak setuju ketika mendengar bahwa Pramuka akan dihapus oleh Kemendikbud Ristek. karena kepramukaan dapat mengakomodasi berbagai kemampuan.
"Saya berharap pramuka tetap ada, karena mereka memungkinkan berbagai macam kemampuan untuk digabungkan. Misalnya, ada emblem untuk memasak dan emblem untuk amatir radio. Pramuka secara tidak sadar dapat membuat anak bekerja di titik mana dia mampu," ujarnya.
"Alhamdulillah, berkat kerja sama tim, kegiatan berjalan dengan baik. Ini kehebatan semua komponen yang ingin bekerja sama. Menggabungkan persepsi dan mengubah cara berpikir," kata Kepala SMAN 2 Cibinong, Hj. Elis Nurhayati, M.Pd. (*)
Editor : Yosep Awaludin