RADAR BOGOR - Dalam beberapa hari terakhir, cuaca dan suhu panas di wilayah Bogor terasa lebih terik dari biasanya. Bagaimana penjelasan BMKG?
Forecaster Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat Asri Rachmawati mengungkapkan, suhu panas terjadi lantaran mulai masuknya musim kemarau di sebagian wilayah Bogor dan lainnya di Jawa Barat.
Kondisi itu, menurut data BMKG, membuat intensitas hujan mulai menurun. Sehingga berdampak langsung pada suhu panas di Bogor.
Kondisi itu pun membuat berkurangnya ketersediaan awan di wilayah Bogor. Hal itu pun membuat penyinaran matahari meningkat.
Hal itu mengakibatkan siang hari terasa terik, dan malam hari terasa panas karena bumi melepaskan panasnya ke atmosfer.
"Pantauan kami menunjukkan, intensitas hujan mulai mengalami penurunan sejak 10 hari pertama bulan Mei 2024," terangnya kepada Radar Bogor.
Luasan hujan di Bogor pun turut berkurang. Hujan yang terjadi hanya bersifat lokal dan ringan. Sementara hujan dengan kategori lebat jangkauannya tidak begitu luas.
Asri mengungkapkan, cuaca dan suhu di wilayah Bogor masih akan bertambah panas seiring dengan masuknya musim kemarau di wilayah Jawa Barat pada Juni sampai Agustus 2024.
Suhu diprakirakan mulai turun pada September 2024 mendatang.
"Kalau bicara musim, sebetulnya sebagian wilayah Bogor tidak mengenal musim atau non zona musim. Tapi ini akan berdampak juga pada intensitas hujan yang tidak setinggi biasanya," terang dia.
Meski terasa lebih terik dan panas, Asri menyatakan kondisi yang terjadi di Bogor saat ini masih dalam taraf wajar atau normal.
Dari data yang diperoleh Stasiun Meteorologi Citeko (wilayah Bogor bagian Cisarua) suhu tertinggi mencapai 27,8 derajat Celcius di tanggal 10 Mei 2024.
Sementara berdasarkan data yang didapat Stasiun Klimatologi Jawa Barat (Kota Bogor) suhu tertinggi mencapai 33,9 derajat Celcius pada tanggal 11 Mei 2024.
Menyikapi kondisi ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Sebab peningkatan suhu pada periode transisi menuju musim kemarau adalah hal yang lumrah terjadi
"Kami imbau masyarakat untuk terus mengudate informasi dari kanal-kanal yang BMKG sediakan," ucapnya.
Namun, karena indeks sinar Ultraviolet (UV) di wilayah Indonesia tergolong tinggi
Karena berada di wilayah Khatulistiwa Asri menyarankan agar masyarakat melakukan langkah-langkah pencegahan.
Seperti memakai sunscreen atau pelindung, tidak terlalu lama berada di luar ruangan, menjaga kadar hidrasi tubuh, makan makanan bergizi, dan mengonsumsi vitamin jika dibutuhkan.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga