Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Tawuran Antar Pelajar Kembali Jadi Momok Generasi Muda di Kota Bogor, Ternyata Ini Biang Keladinya

Reka Faturachman • Kamis, 23 Mei 2024 | 18:20 WIB
ILUSTRASI: Kapoltesta Bogor Kota Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso menunjukkan barang bukti penangkapan pemuda yang akan tawuran.
ILUSTRASI: Kapoltesta Bogor Kota Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso menunjukkan barang bukti penangkapan pemuda yang akan tawuran.

RADAR BOGOR, Dalam beberapa waktu terakhir tawuran kembali menjadi momok di Kota Bogor. Aksi saling serang menggunakan senjata tajam ini kerap dilakukan antar kelompok pelajar atau gengster yang didominasi anak berusia remaja.

Pengamat Pendidikan dari Komnas Pendidikan, Andreas Tambah mengungkapkan, aksi tawuran acap timbul dari lingkungan pergaulan para remaja. Tindakan ini dipicu hasutan dari senior mereka di kelompok bermainnya.

"Tawuran itu biasanya ada waktu-waktu tertentu jadi terpola. Misalnya setelah ujian sekolah atau saat tidak ada kegiatan sehingga ada kekosongan waktu. Di momen itu mereka berkumpul kemudian dihasut provokator yang biasanya berasal dari seniornya," tutur Andreas kepada Radar Bogor, Rabu (22/5/2024).

Ia menyebut, senior yang kerap menjadi provokator itu biasanya tidak melanjutkan pendidikan maupun bekerja sehingga luntang-lantung dan tidak memiliki kegiatan selain nongkrong.

Oleh karena itu, Andreas memandang, perlu adanya upaya lebih dalam dari pihak Kepolisian untuk mengungkap setiap kejadian tawuran. Penanganan tawuran menurutnya tidak cukup berhenti pada para pelaku melainkan keterlibatan pihak luar hingga ke dalang pemicu tawuran tersebut.

"Saya menilai, selama ini Kepolisian kurang berani dan tegas dalam menjalankan tugas. Sehingga mereka ketika ditangkap hanya dinasehati lalu dipulangkan, tidak menimbulkan efek jera. Apalagi mereka (senior) sudah di atas usia pelajar seharusnya bisa dikenakan pasal yang lebih berat," ujarnya.

Ia juga melihat, selama ini peraturan yang dikenakan pasa para pelaku tawuran masih sangat rendah. Terlebih apabila pelaku masih tergolong pelajar. Padahal menurutnya tindakan tawuran kerap lebih kejam tingkatannya dibanding kejahatan lain.

"Ini harus jadi sebuah intropeksi atau evaluasi pihak keamanan hukum bagaimana efek jeranya. Karena mereka merasa nyaman nyaman aja selama ini. Paling ditelanjangi, buka baju, dijemur sehari lalu pulang," keluhnya.

Di samping itu, Andreas juga menilai perlu adanya peran dari sekolah, lingkungan, dan orang tua untuk menanggulangi banyaknya kasus tawuran.

Pihak sekolah bisa menerapkan sanksi tegas supaya para siswanya kapok dan tidak berani lagi tawuran.

Kemudian dari sisi orang tua dapat berkomunikasi lebih intens dengan sang anak. Sehingga terbangun keakraban antara orang tua dan anak.

"Keakraban itu kemudian diisi dengan diskusi membahas tentang tawuran bagimana kalau terjadi, harus gimana, sehingga dampaknya bisa diantidipasi tindakan yang membahayakan diri dan orang lain," terang Andreas.(fat]

Editor : Alpin.
#kota bogor #tawuran