RADAR BOGOR - Angka putus sekolah di Kampung Ciguha, Nanggung, Kabupaten Bogor cukup tinggi. Setelah lulus SD, mereka memilih tak meneruskan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Di Kampung Ciguha, mereka yang putus sekolah bukan saja dari keluarga kalangan tidak mampu. Banyak anak-anak dari keluarga mapan ogah untuk melanjutkan sekolah.
Hal itu dikatakan Kasi pendidikan dan kesehatan Kecamatan Nanggung, Ujang Maulana. Ia memaparkan, banyaknya anak-anak di Kampung Ciguha tidak melanjutkan sekolah lantaran menganggap di lingkungan mereka mudah untuk mendapatkan uang.
"Orang tua mampu, anaknya yang biasanya gak mau, karena menganggap di sana gampang cari uang," katanya kepada Radar Bogor.
Padahal, kata dia, para orang tua di Kampung Ciguha menginginkan anaknya untuk sekolah, bahkan hingga ke perguruan tinggi.
Berbagai upaya dilakukan oleh orang tua agar anaknya mau sekolah. "Orang tuanya semua ingin anaknya itu sekolah tinggi," ujarnya.
Sementara itu, bagi sebagian lainnya, tidak melanjutkan sekolah karena banyak anak-anak yang memilih membantu orang tua untuk bertani dan berkebun. "Itu juga salah satu alasannya," tuturnya.
Pilih Kejar paket
Penyesalan tidak melanjutkan sekolah mulai dirasakan warga Kampung Ciguha. Untuk itu, mereka mencoba menebusnya dengan kejar paket melalui PKBM untuk mendapatkan ijazah.
Kebanyakan yang mengikuti kejar paket adalah wanita. Mayoritas, sudah menikah dan memiliki anak. "Kejar paket C dan B lewat PKBM, kebanyakan wanita," ujar Ujang.
Mereka yang ikut PKBM, kebanyakan masih berusia muda. Usianya masih di bawah 30 tahun."Dari 20-25 tahun," ujarnya.
Untuk itu, saat ini kejar paket terus gencar dilakukan di Kampung Ciguha. Selain menyasar mereka yang putus sekolah, juga anak-anak yang melanjutkan ke pondok pesantren.
"Jadi sekarang banyak yang lulus SD, mereka pesantren. Nah, sekarang menyasar ke sana. Jadi nanti sambil pesantren, sambil ikut kejar paket," tukasnya. (all)
Editor : Yosep Awaludin