Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Jaga Satwa Liar Dugong dan Kelelawar dari Ancaman Kepunahan, Ini Rekomendasi Guru Besar IPB University

Yosep Awaludin • Rabu, 12 Juni 2024 | 11:53 WIB
Prof. Aryani Sismin Satyaningtijas, M.Sc., Guru Besar Tetap Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University bersama satwa liar dugong.
Prof. Aryani Sismin Satyaningtijas, M.Sc., Guru Besar Tetap Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University bersama satwa liar dugong.

RADAR BOGOR - Prof. Aryani Sismin Satyaningtijas, M.Sc., Guru Besar Tetap Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, berbicara tentang peran dan manfaat ilmu faal dalam menjaga satwa liar dugong dan kelelawar.

Ia mengatakan bahwa, satwa liar dugong dan kelelawar harus dilindungi karena mereka menghadapi ancaman keberlangsungan hidup akibat perburuan ilegal, perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan penyakit, serta penurunan populasi.

"Satwa liar juga dilaporkan memiliki potensi sebagai sumber penularan penyakit (reservoir), yang mendorong kejadian penyakit zoonosis pada manusia dan hewan," kata Prof Aryani Dalam konferensi pers pra-orasi ilmiah. 

Ia menunjukkan bahwa, masalah ini harus dipertimbangkan saat mengelola program konservasi satwa liar di Indonesia.

Dalam pengelolaan konservasi satwa liar, ilmu faal (fisiologi) sangat penting, terutama dalam hal penurunan populasi melalui penelitian nilai baku faal.

"Nilai baku faal dapat dipengaruhi oleh lingkungan eksternal seperti iklim, pemanasan global, dan lingkungan internal seperti penyakit, sehingga pemeriksaan nilai baku faal menjadi penting bagi zona nyaman satwa," katanya.

Prof. Aryani juga mengatakan bahwa penetapan nilai baku faal sangat penting sebagai sistem peringatan dini tentang adanya perubahan lingkungan, yang disebabkan oleh perubahan parameter iklim yang mendorong nilai kenyamanan habitat (zona nyaman) bagi satwa liar.

Ilmuwan faal juga membantu mencegah dan mengadaptasi satwa liar terhadap kemungkinan penularan penyakit zoonosis.

"Nilai baku faal berguna dalam mendukung pelestarian hewan karena mereka dapat beradaptasi dan hidup lebih lama dengan menjaga kesehatannya dan mencegah penyakit," ujar Prof. Aryani.

Ia menyarankan dua hal penting untuk mendukung program konservasi satwa liar di Indonesia. Pertama, perlu adanya upaya untuk menekan penurunan populasi melalui penentuan nilai baku faal satwa.

"Kedua, perlu adanya upaya untuk menekan kemungkinan zoonosis pada migrasi satwa liar, dengan melakukan pemeriksaan cepat di habitat atau wilayah konservasinya," tandasnya. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#satwal liar #guru besar #ipb university