RADAR BOGOR - Sekolah swasta biasanya menjadi alternatif para orang tua saat anaknya tak lolos ke sekolah negeri.
Namun, saat ini sekolah swasta justru lebih menjadi prioritas bagi para orang tua. Tak ayal sekolah swasta kian menjamur.
Di Leuliwiang misalnya, jumlah SMA negeri hanya ada satu. Pun dengan SMK Negeri. Sementara untuk sekolah swasta, ada tujuh. Sedangkan SMK swasta ada delapan.
"Untuk jumlah sekolah negeri memang sedikit, kalah jumlah dengan sekolah swasta,"kata
Camat Leuliwiang WR Pelitawan kepada Radar Bogor Rabu (12/6/2024).
Kata dia, merujuk data 2023/2024 jumlah siswa SMA negeri di Kecamatan Leuliwiang berada di angka 1.965 siswa. Kemudian untuk di SMK negeri sebanyak 1.024 siswa.
Sedangkan untuk di SMA swasta, total ada 1.953 siswa dan di SMK swasta total ada 2.218 siswa.
"Jika ditotal, yang sekolah di SMA Negeri dan SMK negeri itu ada 2.989 siswa. Sedangkan di swasta itu ada 4.171 siswa. Untuk Madrasah Aliyah, jumlahnya hanya 386 siswa," paparnya.
Kata dia, selain karena faktor jumlah sekolah swasta lebih banyak, sistem zonasi membuat banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta.
Apalagi saat ini banyak orang tua yang beranggapan sekolah swasta juga lebih bagus ketimbang di sekolah negeri.
"Jadi banyak juga yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang di luar Kecamatan Leuliwiang," tuturnya.
Sementara itu, Erna salah satu warga Desa Leuwiliang mengaku, tak memaksakan anaknya diterima di sekolah negeri.
Kata dia, saat ini justru pendidikan di sekolah swasta jauh lebih baik ketimbang di sekolah negeri. Sehingga ia tidak terlalu khawatir jika anaknya masuk sekolah swasta.
"Kalau dulu sistem testing, itukan berlomba-lomba masuk negeri. Kalau sekarang, zonasi, sekolah negeri juga gak banyak, daripada buang-buang waktu daftar ke negeri, karena zonasi pasti gak lolos, mending dari awal saja daftarkan ke swasta," katanya kepada Radar Bogor.
Ia mengaku dari lima anaknya, tiga di antaranya sekolah di sekolah swasta, dari mulai jenjang SMP hingga SMA. "Kalau SD, semuanya negeri, pas SMP dan SMA, ada yang ke swasta ada yang ke negeri," tuturnya.
Ia mengaku, ketimbang anaknya dipaksakan masuk ke sekolah negeri dengan cara curang, lebih baik ke swasta. Yang terpenting mencari sekolah swasta yang bagus.
"Jangan asal juga, cari yang bagus, walau mahal sedikit gak apa-apa. Alhamdulillah selalu ada rezekinya," ujarnya.
Hal senada dikatakan oleh Irawan. Ia mengaku memilih menyekolahkan anaknya di pesantren. Hal itu dilakukan agar anaknya lebih banyak mendapatkan bekal agama.
"Alhamdulillah anaknya juga maunya pesantren, jadi saya dukung aja. Walau harus jauh ke Jawa," tukasnya. (all)
Editor : Yosep Awaludin