RADAR BOGOR - Tradisi Ngumbah Tugu Kujang Bogor kembali digelar pada tahun ini.
Pembukaan tradisi ngumbah Tugu Kujang Bogor ini, berlangsung dengan khidmat dengan diisi sejumlah prosesi pada Rabu (12/6/2024).
Ketua Panitia Ngumbah Kujang Tjetjep Thoriq menjelaskan, tradisi ini menjadi bentuk komitmen dan perhatian warga terhadap Tugu Kujang yang telah menjadi icon Kota Bogor selama puluhan tahun.
Oleh karena itu, pada kesempatan itu juga, pihaknya mengundang para Bakal Calon Wali Kota (Bacawalkot) Bogor, supaya memiliki perhatian yang sama pada Tugu yang sudah dibangun pada tahun 1982 ini.
Sebab menurutnya, kini kondisinya telah mengkhawatirkan.
"Di bagian atasnya itu sudah gompal, bergeser, dan ada lubang. Bagian bawahnya juga sudah ada yang rusak-rusak serta tidak rapi. Semestinya simbol Kota Bogor ini bisa dipelihara secara bersama-sama," tekannya.
Namun kesempatan itu hanya dihadiri oleh Sendi Fardiansyah.
Ia menjadi sosok Bacawalkot Bogor satu-satunya, yang hadir dalam pembukaan Tradisi Ngumbah Tugu Kujang tersebut.
Sendi hadir dengan menggunakan pakaian serba putih, dilengkapi totopong atau penutup kepala bermotif batik pada kesempatan itu.
Ia menilai, Ngumbah Tugu Kujang merupakan tradisi yang baik dalam rangkaian Hari Jadi Bogor.
Sebab, kegiatan ini dapat menjaga kebersihan Tugu Kujang yang selama ini menjadi ikon Kota Bogor.
"Hari ini saya kembali hadir di acara Ngumbah tugu Kujang. Alhamdukillah berjalan lancar dan khidmat. Tradisi ini amat baik karena dapat mempertahankan nilai-nilai kebudayaan Sunda di Kota Bogor," tuturnya.
Menanggapi soal kondisi Tugu Kujang saat ini, Sendi menyebut sebagai simbol Kota Bogor seharusnya Tugu Kujang mendapat perhatian lebih.
Terlebih soal kontruksinya.
"Akan sangat bahaya apabila roboh, retak, dan bisa mengakibatkan kecelakaan dan sebagainya. Makanya mesti jadi prioritas ke depan, harus ada penanganan dan dirawat dengan baik," ujarnya.
Di momen HJB tahun ini, dirinya berharap agar tradisi, kebudayaan Sunda dapat terus terjaga dengan baik.
Agar budaya Sunda tidak hilang dan terus menguat di masyarakat.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga