RADAR BOGOR - Rendahnya jumlah beasiswa yang diberikan Pemkot Bogor untuk pendidikan Perguruan Tinggi disinyalir menjadi penyebab minimnya Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi (APKPT) di Kota Bogor.
Kondisi rendahnya jumlah beasiswa kuliah ini pun dianggap menjadi salah satu penyebab belum selesainya persoalan kemiskinan di Kota Bogor ini.
Kualitas Sumber Daya Manusia yang kurang akhirnya tidak dapat memutus mata rantai kemiskinan dengan maksimal.
Pengamat Pendidikan, Professor Endin Mujahidin menyebut APKPT di Kota Bogor pada 2022 lalu bahkan tak lebih dari 50 persen, hanya sebesar 41 persen. Dan angka penyerapan tenaga kerja di Kota Bogor hanya sebesar 7 persen.
"Berarti hanya 48 persen yang kuliah dan bekerja. Sisanya 52 persen kemana? Padahal angka lulusan SMA di Kota Bogor pada tahun ini diperkirakan mencapai 18 ribu orang. Pemkot belum hadir di sini karena setiap tahun hanya mengalokasikan beasiswa hanya untuk 20 orang," ujarnya.
Dirinya menganggap, besaran itu masih sangat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan yang sebenarnya. Terlebih beasiswa yang diberikan hanya berupa uang SPP.
Keseriusan Pemkot Bogor dalam menangani kemiskinan pada warganya pun ia pertanyakan. Sebab menurut Endin, pendidikan menjadi aspek yang paling penting dalam memutus mata rantai kemiskinan.
Lewat pendidikan masyarakat dapat menjadi orang terdidik dan memiliki kompetensi. Dengan begitu maka kualitas SDM akan meningkat dan bisa memutus rantai kemiskinan.
"Oleh karena itu kami pimpinan-pimpinan Universitas di Bogor bertemu dan membicarakan hal ini. Kami akan mendorong Bogor menjadi kota pendidikan dan Pemkot mesti lebih memperhatikan terkait pendidikan warganya," tekan pria yang juga Rektor Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor itu. (fat)
Editor : Yosep Awaludin