RADAR BOGOR - Aksi demonstrasi dan penolakan terhadap program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), kembali dilakukan organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di Kota Bogor.
BEM Bogor Raya itu menggelar aksi unjuk rasa di Jalan Sudirman, Kecamatan Bogor Tengah pada Kamis (27/6/2024).
Dalam kesempatan itu, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam BEM, yang datang dari berbagai kampus di Bogor tersebut, menyuarakan protesnya dengan cara berorasi dan membentangkan sejumlah spanduk berisi pesan penolakan.
Ketua BEM se-Bogor, Achmad Sobari menyebut program Tapera sangat menuai kontroversi. Terlebih waktu penetapannya tidak sesuai dan dinilai belum mendesak.
Oleh karena itu, ia melihat bahwa program Tapera tidak perlu diterapkan pasa saat ini.
"Tapera bukanlah tabungan perumahan rakyat melainkan tabungan penderitaan rakyat. Maka dari itu hari ini kami datang untuk menolak program tersebut dan segala kebijakan yang merugikan masyarakat," tegasnya.
BEM se-Bogor juga menuntut agar peraturan mengenai program ini dicabut.
Negaralah yang semestinya bertanggung jawab penuh pada sektor pendidikan, kesehatab, dan tempat tinggal yang layak bagi warganya.
Selain program Tapera, dalam aksi itu peserta aksi juga menyuarakan penolakannya pada proses legalisasi pada RUU tentang Penyiaran, RUU TNI dan Polri.
Sobari menilai RUU Penyiaran memunculkan stigna negatif akan kepentingan politik. Draf RUU ini tidak menyrbutkan secara jelas batasan-batasan aktivitas pers.
"Hal ini jelas akan memberikan ruang bagi pejabat atau oknum lain memanfaatkan UU ini sebagai alat prmbungkaman kebenaran," tuturnya.
Sementara itu RUU TNI dan RUU Polri dilihat Sobari menyebabkan tumpang tindihnya kewenangan di Indonesia.
Langkah perubahan ini disebutnya bisa membuat aparat TNI Polri menguasai negara yang berimplikasi pada konflik kepentingan serta otoritarianisne layaknya yang terjadi di masa orde baru silam.
"Maka dari itu kami juga mendesak dan menolak pengesahan RUU TNI, RUU Polri, dan mendorong DPR RI meninjau ulang RUU Penyiaran," tegas dia.
Aksi demonstrasi ini sempat diwarnai cekcok dan kericuhan antara mahasiswa dengan polisi. Akibat kekecewaan peserta aksi yang gagal menyampaikan tuntutannya pada Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga