RADAR BOGOR - Nasib nahas menimpa pasangan lansia Unas (65) dan Ulung (65) yang tinggal di RT 3 RW 2 Kelurahan Sukadamai, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor.
Lima ekor kambing peliharaan lansia di Bogor itu, raib dicuri maling dengan sadis, pada Selasa (23/7/2024) dini hari.
Kambing-kambing itu disembelih dan dikuliti di dalam kandang, dekat rumah kedua lansia di Bogor itu, kemudian dibawa kabur oleh maling.
Unas menuturkan, kejadian itu diduga terjadi pada pukul 02.30 WIB, saat ia dan keluarganya tertidur pulas.
Ia baru mengetahui kambingnya telah raib, saat dirinya hendak memberi pakan di pagi hari.
"Pas saya mau memberi pakan ternyata pintu kandangnya sudah terbuka. Kambing-kambingnya sudah tidak ada. Hanya ada darah berceceran dimana-mana dan jeroan kambingnya saja," tutur Unas saat ditemui Radar Bogor.
Dirinya mengaku tidak mengetahui, atau mendengar saat sang maling melakukan aksi pencurian sadis tersebut.
Ia menduga, maling tersebut memberikan pakan yang banyak, sehingga kambing miliknya tak mengeluarkan suara ketika hendak dicuri.
Kejadian ini membuat Unas dan Ulung begitu terpukul. Sebab, kambing tersebut merupakan tabungan keluarganya yang akan dijual ketika sewaktu-waktu membutuhkan uang.
"Kambing itu kami beli dari hasil arisan bertahun-tahun lalu. Awalnya ada sepasang, kemudian beranak pinak. Beberapa kami sembelih untuk akikah. Tak jarang juga kami jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," terang Unas.
Ia dan sang suami memang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka hanya mengandalkan penghasilan Rp35 ribu per hari dari hasil Ulung 'menarik' becak.
Unas dan Ulung sebetulnya memiliki 4 orang anak, namun 3 di antaranya sudah meninggal dunia. Sementara 1 anak bungsunya masih bersekolah di bangku SMA.
Ia menyebut, 2 di antara 5 kambingnya yang dicuri pada awalnya ingin ia sembelih untuk akikah anaknya yang sudah meninggal.
"Sedih sekali karena hewan ini kami rawat setiap hari. Suami saya yang selalu mencari rumputnya setiap pulang menarik becak. Sekarang semuanya sudah hilang, jahat sekali malingnya," keluh Unas.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga