RADAR BOGOR—Infeksi cacing kremi adalah jenis infeksi cacing usus yang paling umum terjadi di dunia. Cacing kremi betina dapat bertelur di lipatan kulit di sekitar anus seseorang saat mereka tidur.
Beberapa orang yang terinfeksi cacing kremi mengalami anus gatal dan gangguan tidur, tetapi kebanyakan orang tidak menunjukkan gejala apa pun.
Karena telur cacing kremi dapat dengan mudah menyebar dari satu anak ke anak lain, anak-anak usia sekolah adalah yang paling sering terkena infeksi cacing kremi.
Ada banyak makanan yang dapat menyebabkan cacing kremi yang harus Anda waspadai. Penasaran dengan apa saja? Baca lebih lanjut di bawah ini.
Makanan Apa yang Menyebabkan Cacing Kremi?
Seseorang dapat terinfeksi cacing kremi karena kebiasaan buruk dan makanan tertentu. Ini adalah beberapa makanan yang dapat menyebabkan cacing kremi:
1. Daging yang dimasak setengah matang
Cacing kremi dapat ditemukan dalam daging setengah matang. Bakteri dengan mudah bertahan dalam pengolahan yang tidak optimal.
Bakteri Salmonella typhi, misalnya, dapat hidup di usus ayam, membuat ayam mudah tercemar saat dijual. Untuk menghindari infeksi cacing, pastikan Anda makan daging yang matang dan bersih.
2. Sayuran dan buah-buahan mentah
Konsumsi buah dan sayuran mentah yang tidak dicuci juga dapat menyebabkan infeksi cacing kremi.
Oleh karena itu, sangat penting untuk mencuci dan mengolahnya buah dan sayuran dengan benar sebelum dimakan. Proses pembersihan yang tepat dapat menurunkan risiko infeksi cacing kremi.
3. Ikan setengah matang
Makan larva yang terinfeksi dari ikan setengah matang dapat menyebarkan cacing kremi. Jika ini terjadi, mungkin ada reaksi alergi atau batuk.
Cacing akan menembus jaringan usus dan menyebabkan reaksi kekebalan yang parah, seperti radang usus buntu atau penyakit Crohn.
4. Susu non-pasteurisasi
Susu yang tidak dipasteurisasi tidak hanya memiliki cacing kremi, tetapi juga dapat menyebabkan infeksi dan penyebaran banyak bakteri, parasit, dan virus yang berbahaya.
Baik cacing kremi dapat masuk ke sapi secara langsung, menyebabkan susu sapi juga mengandung cacing kremi, maupun melalui kontak langsung dengan sapi yang tidak bersih saat memerah susu sapi.
Pasteurisasi menjadi penting dalam pengolahan susu karena membunuh mikroba berbahaya dalam susu tanpa mengubah rasa, nutrisi, atau nilai gizinya.
Untuk membantu anak mereka mengatasi penyakit cacing kremi, ibu harus menghubungi dokter ini jika anak mereka terinfeksi cacing kremi. Ini karena anak-anak sangat rentan terhadap infeksi ini.
Bagaimana Mengobati Infeksi Cacing Kremi
Infeksi cacing kremi biasanya ditangani dengan obat. Untuk membantu membersihkan infeksi, dokter akan meresepkan dua dosis mebendazole atau albendazole. Dosis kedua biasanya diberikan dua minggu setelah dosis pertama.
Di antara hal-hal berikut sangat penting untuk mengikuti gaya hidup bersih:
- Cuci tangan secara teratur
- Jangan menggigiti kuku Anda
- Jaga kuku Anda pendek dan bersih
- Pakai pakaian dalam yang nyaman dan bersih
- Cuci pakaian dalam Anda dengan air panas setiap hari
- Ganti pakaian tidur Anda secara teratur
Sebagian orang juga menggunakan pengobatan rumahan untuk mengobati cacing kremi. Berikut adalah tiga pengobatan rumahan yang dapat digunakan untuk infeksi cacing kremi:
1. Bawang putih mentah
Bawang putih dapat membunuh telur cacing kremi dan mencegah cacing kremi betina bertelur lagi. Anda dapat menelan sedikit bawang putih atau membuatnya menjadi salep.
Untuk membuat salep, potong dan haluskan bawang putih, kemudian campurkan dengan minyak zaitun. Celupkan kapas bersih ke dalam campuran dan oleskan salep ke anus. Jangan gunakan jika kulit Anda sensitif.
2. Minyak kelapa
Sebagian orang percaya bahwa sifat kelapa antibakteri dan antivirus dapat membantu menghilangkan infeksi cacing kremi. Perawatan ini dapat digunakan secara oral (satu sendok teh) atau digosokkan ke anus.
3. Makan Wortel Mentah
Anda dapat menghilangkan cacing kremi dengan memakan wortel mentah yang sudah dibersihkan.
Perlu diingat bahwa sebelum mencoba pengobatan rumahan di atas, cobalah berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu untuk memastikan apakah itu aman atau tidak. (***)
Editor : Yosep Awaludin