RADAR BOGOR - Sistem produksi pertanian terkena dampak langsung dan tidak langsung dari perubahan iklim.
Modifikasi karakteristik fisik, seperti suhu dan distribusi curah hujan, memiliki dampak langsung pada sistem produksi pertanian tertentu.
Dampak tidak langsung adalah dampak yang mempengaruhi produksi melalui perubahan pada spesies lain, seperti hama, penyerbuk, vektor penyakit, dan spesies invasif.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan bahwa semua pekerja pertanian harus siap menghadapi perubahan iklim tanpa mengurangi produksi pangan.
Dengan menerapkan langkah-langkah yang sangat spesifik untuk sistem dan lokal, sistem pertanian dapat dibuat lebih tangguh, kata Plt. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.
"Petani, penghuni hutan, nelayan, dan orang-orang di rantai pasokan perlu mengadopsi serangkaian tindakan, yang rinciannya akan bergantung pada keadaan masing-masing," katanya.
Dalam rangka memperingati Dies Natalis Polbangtan Bogor yang ke-6, pada Kamis, 25 Juli 2024, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor akan menyelenggarakan webinar internasional On Animal and Plant Health.
Menurut Yoyon Haryanto, direktur Polbangtan Bogor, tujuan dari pelaksanaan webinar adalah untuk memperluas topik Inovasi Perlindungan Hewan dan Tumbuhan untuk Swasembada Pangan melalui penerapan pendekatan Triple Helix.
Polbangtan Bogor mengundang pakar pertanian dari luar negeri setiap tahun untuk berbagi informasi tentang masalah pertanian kontemporer.
Creating Animal and Plant Health Protection Innovation for Food Self-Sufficiency in a Current Climate Change adalah tema webinar internasional tahun ini.
Salah satu pembicara utama tahun ini adalah Wisnu Wasisa Putra, Plt. Deputi Bidang Karantina Hewan, yang memberikan presentasi tentang Kebijakan Biosecurity Hewan dan Tanaman untuk mendukung.
"Melestarikan dan melindungi kelestarian keanekaragaman hayati satwa dan tumbuhan dari ancaman hama dan penyakit hewan dan tumbuhan karantina melalui penerapan tindakan karantina nasional," kata Wisnu dalam pembahasannya.
Webinar internasional ini dibagi menjadi dua sesi oleh panel yang terdiri dari Wisnu Wasisa dan Kim Jeong Man dari Institut Hortikultura Internasional Korea Selatan. Sesi pertama membahas Smart Agriculture Supporting Food Security.
Selanjutnya, Damayanti Buchori, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas IPB, memberikan presentasi tentang inovasi perlindungan tumbuhan saat ini dan masa depan dalam perubahan iklim saat ini; dan Rachmat, direktur perlindungan tumbuhan, Departemen Umum Pertanian.
Arifin Tasrif, dosen di Polbangtan Bogor dan narasumber sesi kedua, bangga dengan pencapaian kampus tersebut, yang dapat menyelenggarakan webinar internasional secara teratur. Arifin berharap, prestasi ini dapat dipertahankan di masa depan.
"Webinar Internasional 2024 adalah Program Tahunan oleh UPPM Polbangtan Bogor yang diselenggarakan bersamaan dengan Hari Ulang Tahun Polbangtan Bogor," kata Arifin.
Ia menyatakan bahwa pemilihan tema ini dilakukan untuk menjawab tantangan perubahan iklim saat ini dan untuk menjaga Ketahanan Pangan secara berkesinambungan dan berkelanjutan.
Arifin menyatakan bahwa masalah penyakit hewan dan OPT adalah masalah utama dalam menjawab ketahanan pangan.
"Isu perubahan iklim yang berdampak pada fluktuasi serangan OPT dan penyakit hewan, serta bagaimana keduanya dikelola, menjadi hal menarik untuk dibicarakan," ujarnya.
Arifin menyatakan bahwa Civitas akademika Polbangtan Bogor berharap dapat memperoleh wawasan lebih lanjut tentang cara meningkatkan kualitas layanan Tridharma perguruan tinggi vokasi melalui paparan para pakar.
Disisi lain menyebarkan kebijakan pemerintah, penelitian, dan pendapat akademisi untuk mendorong penguatan pengelolaan penyakit hewan dan OPT yang bijaksana dan berkelanjutan.
Penggunaan varietas tahan, pemantauan dan prediksi penyakit PLB, praktik pertanian terpadu, penggunaan biopestisida, teknologi pengendalian berbasis nanoteknologi, pengembangan mikroba tanah, dan penggunaan fungisida adalah beberapa cara baru untuk mengontrol PLB. (***)
Editor : Yosep Awaludin