Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Buat Warga Bogor yang Anaknya Tantrum, Jangan Dikasih Gadget. Begini Saran Dokter!

Reka Faturachman • Jumat, 26 Juli 2024 | 14:51 WIB
Dokter Fisik Dan Rehabilitasi Medik RSUD Kota Bogor, dr Adilla Hikma Zakiati dalam Pocast Kesehatan (PodKes) di Youtube RSUD Bogor Daily mengatakan penggunaan gadget pada anak perlu ada pembatasan.
Dokter Fisik Dan Rehabilitasi Medik RSUD Kota Bogor, dr Adilla Hikma Zakiati dalam Pocast Kesehatan (PodKes) di Youtube RSUD Bogor Daily mengatakan penggunaan gadget pada anak perlu ada pembatasan.

RADAR BOGOR - Gadget sering kali menjadi jalan pintas bagi orang tua ketika menghadapi anak yang sedang tantrum. Padahal nyatanya cara ini tidak disarankan karena membuat anak menjadi ketergantungan serta memberikan deretan dampak buruk penyerta.

Dokter Fisik Dan Rehabilitasi Medik RSUD Kota Bogor, dr Adilla Hikma Zakiati dalam Pocast Kesehatan (PodKes) di Youtube RSUD Bogor Daily mengatakan penggunaan gadget pada anak memang perlu ada pembatasan. Terlebih pasa anak di bawah usia 7 tahun.

"Menurut WHO, screen time pada anak di bawah 2 tahun sama sekali tidak disarankan diberi gadget. Sementara pada anak di ausia 2-7 tahun hanya boleh 10 menit dalam sehari. Karena di usia tersebut semestinya anak memiliki keaktifan fisik yang lebih dominan," jelasnya.

Ia menyebut, semestinya anak yang berada di usia emas (2-6 tahun pertama) lebih banyak mengeksplorasi dan mengenal lingkungan. Sehingga terbiasa menerima tantangan baru supaya memiliki kemampuan penyelesaian masalah yang lebih baik.

Sementara dirinya mengungkapkan, rata-rata masyarakat Indonesia sudah memberikan gadget dan screentime kepada anak sejak usia 6 bulan dengan alasan agar anak tenang dan nafsu makan.

Kondisi ini menurut Adillah akan memberikan sejumlah dampak buruk pada anak. Di antaranya anak akan tidak memahami lapang geraknya sehingga cenderung ceroboh, sembrono, tidak waspada, dan tidak perhatian dengan lingkungan sekitar.

"Lebih jauh anak akan mengalami gangguan makan bahkan mengalami kerusakan otak secara seluler yang memberikan efek gejala klinis autis. Kejadiannya banyak terjadi pasca pandemi hingga 200-300 persen," beber Adilla.

Oleh karena itu, Adilla mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan anak gadget agar tenang dan mau makan. Dirinya menyarankan agar para orang tua lebih sabar saat menghadapi anak yang tantrum.

"Orang tua harus konsisten dan tahan. Rasakan emosi yang disamlaikan anak. Karena mereka berhak untuk marah, yang terpenting orang tua mesti ada di sampingnya supaya anak merasa nyaman," terangnya. (fat)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #rsud #tantrum #gadget