RADAR BOGOR - Gaya hidup masyarakat yang semakin memburuk diduga membuat kondisi penyakit gagal ginjal di Kota Bogor kian meningkat.
RSUD Kota Bogor bahkan mencatat adanya peningkatan pada jumlah pasien penyakit gagal ginjal ini yang hampir melonjak hampir 2 kali lipat.
Hingga Juni 2024, RSUD Kota Bogor mencatat terdapat 916 pasien yang menjalani rawat jalan akibat penyakit gagal ginjal. Jumlah ini terdiri dari 901 pasien dewasa dan 15 pasien anak.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno membenarkan adanya peningkatan prevalensi penyakit diabetes akibat konsumsi gula berlebih di masyarakat.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukan bahwa terjadi peningkatan prevalensi penyakit diabetes pada penduduk usia di atas 15 tahun berdasarkan hasil pengukuran kadar gula darah, yaitu dari 10,9 persen naik menjadi 11,7 persen.
"Sebanyak 59,1 persen penyebab disabilitas (melihat, mendengar, berjalan) pada penduduk di atas 15 tahun adalah penyakit yang didapat, dimana 53,5 perseb penyakit tersebut adalah Penyakit Tidak Menular (PTM), terutama hipertensi (22,2 persen) dan diabetes (10,5 persen)," ujarnya kepada Radar Bogor, Senin (5/8/2024).
Retno menerangkan, gula memang merupakan salah satu sumber energi yang dibutuhkan manusia. Namun, jika berlebihan, gula dapat menyebabkan obesitas dan diabetes tipe 2.
Mengkonsumsi gula berlebih lanjut Retno, dapat berisiko menyebabkan obesitas, sehingga menyebabkan adanya penumpukan lemak etopik di dalam otot. Hal ini kemudian menyebabkan adanya resistensi insulin.
"Resistensi insulin berarti bahwa sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik yang mengakibatkan kadar glukosa darah tetap tinggi. Inilah yang kemudian menyebabkan diabetes melitus tipe 2," jelas dia.
Selain menyebabkan diabetes, Retno menyebut, konsumsi gula berlebihan juga dapat mempengaruhi kesehatan ginjal. Kadar glukosa darah yang tinggi akibat konsumsi gula yang berlebihan dapat merusak pembuluh darah di ginjal dan mengganggu fungsi ginjal.
Konsumsi gula berlebihan, misalnya dari minuman manis dan makanan olahan juga dapat meningkatkan risiko hipertensi.
Tekanan darah tinggi inilah yang menjadi salah satu faktor utama yang dapat merusak pembuluh darah di ginjal dan berkontribusi pada penyakit gagal ginjal kronis.
"Pada orang yang sudah menderita diabetes, konsumsi gula yang tidak terkontrol dapat memperburuk kondisi ginjal. Peningkatan kadar glukosa darah mempercepat kerusakan ginjal pada penderita diabetes yang dapat mengarah pada penyakit ginjal diabetik yang dapat menyebabkan gagal ginjal jika tidak diobati," paparnya.
Untuk mengurangi risiko diabetes tipe 2 dan gangguan ginjal, Retno mengatakan masyarakat mesti mengendalikan konsumsi gulanya.
Adapun anjuran batas konsumsi Gula Garam Lemak GGL yang disarankan oleh Kemenkes RI yaitu gula per orang per hari 50 gram (4 sendok makan), garam per orang per hari 2.000 miligram natrium/sodium atau 5 gram (1 sendok teh), dan lemak per orang per hari 67 gram (5 sendok makan).
Langkah yang bisa dilakukan di antaranya, memperhatikan Label Makanan (Nutrition Facts), kurangi minuman manis, memilih karbohidrat kompleks, serta didukung dengan meningkatkan aktivitas fisik.
Retno mengungkapkan, Dinkes telah melakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup sehat.
Misalnya menggelar pertemuan dengan dokter, perawat, dan ahli gizi dari 25 Puskesmas yang ada di Kota Bogor membahas soal pencegahan pada prediabetes.
Selain kegiatan pertemuan, dilaksanakan juga kegiatan pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular dan kesehatan jiwa melalui kegiatan deteksi dini, pemantauan kesehatan secara berkala Pamong Walagri bagi seluruh ASN di Kota Bogor. (fat)
Editor : Yosep Awaludin