RADAR BOGOR - Banyak orang tua yang suka berteriak kepada anaknya saat mereka marah dan emosi. Padahal, kebiasaan ini dapat membahayakan anak.
Ketahui dampak negatif apa saja yang bisa terjadi pada anak karena kebiasaan berteriak orang tua dan cara menghindarinya.
Tidak diragukan lagi, membesarkan dan mendidik anak adalah tugas yang sulit bagi Bunda dan Ayah.
Banyak orang tua yang menjadi tidak sabar, seringkali berteriak atau bahkan berkata kasar pada anaknya saat mereka marah dan marah.
Namun, disiplin yang terlalu keras, seperti berteriak atau memarahi anak terlalu sering, bisa berdampak buruk pada pertumbuhan dan karakter anak di masa depan. Sering berteriak saat bertengkar dengan pasangan juga tidak baik.
Berteriak pada anak dapat berdampak berikut:
1. Membuat perilaku anak menjadi lebih buruk
Jika Bunda atau Ayah berpikir bahwa berteriak pada anak akan membuatnya berperilaku lebih baik, itu salah. Studi menunjukkan bahwa berteriak justru dapat membuat sikap Si Kecil menjadi lebih buruk.
Anak-anak mungkin menjadi suka membangkang dan lebih agresif ketika mereka sering diteriaki dan dimarahi.
Berteriak pada mereka juga bisa membuat mereka merasa tertekan, yang meningkatkan kemungkinan mereka berperilaku menyimpang.
2. Menurunkan keyakinan anak
Selain itu, kebiasaan orang tua berteriak pada anak mungkin membuat anak merasa tidak disayangi oleh orang tuanya. Lebih parahnya lagi, anak mungkin merasa tidak penting atau membenci dirinya sendiri.
Anak-anak mungkin mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi karena stres dan tertekan karena sering diteriaki. Ini dapat memengaruhi prestasi mereka di sekolah.
3. Menyebabkan masalah pada kesehatan mental anak
Sering meneriaki anak juga dapat menyebabkan stres dan ketakutan bagi anak. Anak juga mungkin menjadi perfeksionis agar tidak lagi dimarahi.
Hal ini dapat lama-kelamaan meningkatkan kemungkinan anak mengalami gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.
Bahkan, dalam beberapa kasus, depresi anak dapat menyebabkan trauma dan luka batin yang terus mereka tanggung hingga dewasa.
4. Menyebabkan masalah dengan kesehatan fisik anak
Stres yang dialami anak karena terlalu sering diteriaki dapat berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mentalnya.
Studi menunjukkan bahwa kekerasan verbal pada anak-anak dapat menyebabkan nyeri jangka panjang seperti sakit kepala, sakit leher, atau sakit punggung.
Ketika anak merasa stres karena sering dimarahi dan diteriaki, mereka juga mungkin tidak nafsu makan atau makan terlalu banyak.
5. Menghilangkan rasa hormat anak
Ketika anak-anak sering dimarahi, seperti dimarahi atau diteriaki, mungkin sulit bagi mereka untuk menanamkan rasa percaya dan hormat pada orang yang sering memarahi mereka, termasuk orang tua mereka.
Tips untuk Mendisiplinkan Anak Tanpa Teriakan
Bunda, tidak selalu perlu berteriak atau melakukan kekerasan verbal untuk mendisiplinkan dan mendidik anak Anda.
Berikut adalah beberapa cara Anda dapat mendisiplinkan anak Anda tanpa menggunakan kekerasan verbal atau marah:
- Setiap kali Anda melihat tingkah laku Si Kecil yang tidak disukai, coba tenangkan diri. Kemudian nasihati dia dengan bijak:
- Tarik napas panjang atau pergi sejenak setiap kali Bunda dan Ayah merasa ingin berteriak;
- Beri peringatan yang jelas dan tegas, tanpa menggunakan kalimat yang menyakitkan;
- Berikan konsekuensi yang tegas jika Si Kecil tidak mau menurut, seperti melarang dia bermain selama beberapa hari ke depan; dan
- Beri penjelasan dan alasan kepada Si Kecil mengapa perilakunya tidak menyenangkan Bunda dan Ayah. Ini akan membantunya memahami kesalahan yang dia lakukan.
Ini adalah beberapa informasi tentang bagaimana berteriak pada anak dan cara mencegahnya.
Namun, jika Bunda atau Ayah membuat Si Kecil stres karena berteriak terlalu sering, cobalah untuk berbicara dengan lebih sabar dan minta maaf kepadanya.
Bunda dan ayah juga dapat berbicara dengan profesional melalui obrolan online jika mereka masih memiliki pertanyaan tentang cara mendidik anak tanpa berteriak sering. (***)
Editor : Yosep Awaludin