Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Warga Bogor yang Suka Naik Gunung Hati-Hati dengan Penyakit Ketinggian, Berikut Penyebab dan Cara Mengatasinya

Yosep Awaludin • Selasa, 20 Agustus 2024 | 09:30 WIB
Ilustrasi penyakit ketinggian
Ilustrasi penyakit ketinggian

RADAR BOGOR—Penyakit ketinggian adalah kondisi medis yang sering dialami pendaki gunung saat berada di atas ketinggian.

Hal ini bisa terjadi karena kadar oksigen yang rendah di dataran yang sangat tinggi. Selain itu, orang yang sudah terbiasa dengan ketinggian memiliki risiko penyakit ketinggian ini lebih tinggi.

Para pendaki, terutama mereka yang berada di ketinggian lebih dari 2000 meter di atas permukaan laut, cukup sering mengalami penyakit ketinggian atau penyakit ketinggian yang akut.

Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, termasuk penurunan tekanan udara dan konsentrasi oksigen, serta udara kering dan suhu yang dingin di dataran tinggi.

Penyebab dan Gejala Penyakit Ketinggian

Jika Anda berada di tempat yang tinggi, seperti di puncak gunung atau bukit, napas Anda dapat menjadi lebih cepat karena jumlah oksigen yang menipis di udara. Ini adalah reaksi alami tubuh untuk memenuhi kebutuhan oksigennya.

Namun, tekanan udara dan kadar oksigen menurun pada ketinggian tertentu, menyulitkan tubuh untuk beradaptasi, menyebabkan penyakit ketinggian.

Mereka dapat mengalami kesulitan konsentrasi, sakit kepala, pusing, tidak nafsu makan, sesak napas, mual, lemas, dan lelah saat jumlah oksigen dalam tubuh mereka berkurang karena penyakit ketinggian.

Pendaki dapat mengalami halusinasi, linglung, kesulitan bergerak, gangguan pendengaran, sakit kepala parah, nyeri dada, dada berdebar, penurunan kesadaran, dan pingsan jika kondisi menjadi lebih parah.

Cara Mengobati Penyakit Ketinggian

Jika Anda melihat atau menemukan seseorang yang menderita penyakit ketinggian, lakukan hal-hal berikut:

Baca Juga: Marselino Ferdinan Resmi Gabung Klub Divisi Championship Milik Erick Thohir, Siap Berikan 100 Persen Kemampuan

1. Beristirahat segera

Jika seseorang mengalami gejala penyakit ketinggian, mereka harus segera berhenti mendaki dan beristirahat selama 24 hingga 48 jam atau hingga gejala hilang sepenuhnya.

Jika kondisi pendaki yang menderita penyakit ketinggian belum membaik setelah 24 jam, mereka disarankan untuk turun setidaknya 500 meter atau 1.000 kaki dengan dipandu orang lain.

2. Lakukan terapi oksigen

Memberi oksigen tambahan atau oksigen murni dapat membantu masalah pernapasan yang disebabkan oleh penyakit ketinggian. Pernapasan mungkin lebih baik, meskipun itu hanya untuk waktu yang singkat.

Namun, jika dibandingkan dengan turun ke ketinggian yang lebih rendah, efek terapi oksigen sebenarnya kurang efektif.

Bahkan dengan terapi oksigen, orang yang menderita penyakit ketinggian dengan gejala yang parah atau buruk harus mendaki ketinggian minimal 4.000 kaki.

3. Penggunaan obat

Keluhan nyeri seperti sakit kepala atau nyeri telinga yang disebabkan oleh penyakit ketinggian dapat diobati dengan obat penghilang rasa sakit, seperti ibuprofen atau paracetamol.

Untuk mengatasi sekaligus mencegah penyakit ketinggian, Anda disarankan untuk mengonsumsi jumlah air putih yang cukup, menghindari alkohol dan minuman beralkohol.

Kemudian tidak melakukan olahraga, merokok, dan tidak menggunakan obat tidur. Selain itu, penting untuk mengikuti semua petunjuk keamanan selama pendakian.

Penyakit ketinggian juga dapat dicegah dengan mendaki secara bertahap dan berjalan perlahan-lahan. Baik gejala ringan maupun berat, pastikan untuk selalu memberi tahu teman-teman atau pemandu Anda saat naik gunung. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #ketinggian #penyakit