Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Waspada Warga Bogor! Guncangan Gempa Megathrust di Selat Sunda Bisa Mencapai Magnitudo 8.7, BMKG: Itu Kemungkinan Terburuk

Reka Faturachman • Selasa, 20 Agustus 2024 | 18:14 WIB
illustrasi gempa
illustrasi gempa

RADAR BOGOR - Dalam beberapa hari terakhir masyarakat, termasuk Bogor, tengah dihebohkan dengan kabar akan adanya potensi gempa dengan magnitudo besar akibat megathrust. Bencana ini bahkan disebut akan turut menimbulkan tsunami di daerah pesisir.

Dikonfirmasi Radar Bogor, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati membenarkan informasi soal gempa megathrust tersebut.

Meski demikian, dia meminta masyarakat, khususnya warga Bogor tak menanggapi isu soal gempa megathrust dengan keliru.

Sebab menurutnya, informasi potensi ini meruoakan upaya persiapan untuk mencegah resiko kerugian sosial, ekonomi, dan korban jiwa apabila terjadi gempa kuat dan membangkitkan tsunami dengan skenario terburuk.

"Kami belajar ini dari Jepang. Mereka memiliki budaya mengamati perilaku gempa dan dampak tsunaminya yang sudah dilakukan 1137 tahun lalu. Supaya bisa menata mitigasi menjadi lebih baik. Masyarakatnya tidak panik, khawatir, dan memiliki literasi gempa dan tsunami yang baik sehingga tidak kagetan," ujarnya dalam Webinar Waspada Gempa Megathrust yang digelar Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Selasa (20/8/2024).

Ia menjelaskan sumber gempa megathrust pada awalnya terbentuk kontak tumbukan antara lempeng samudra Indo-Australia dengan lempeng benua Eurasia yang akhirnha membentuk zona megathrust dengan ukuran yang besar dan panjang.

Gempa itu kemudian terjadi lantaran terlepasnya akumulasi energi yang tertahan selama puluhan gingga ratusan tahun akibat adanya patahan.

Gempa yang terjadi di zona megathrust tak selalu berkekuatan besar. Terdapat pula gempa dengan skala kecil yang kemudian diamati trennya oleh BMKG dan para pakar.

"Secara tektonik di Indonesia terdapat 13 segmentasi sumber gempa Zona Megathrust. Di antara itu ada 2 segmen yang seharusnya sudah saatnya periode ulangnya bergerak karena sudah 200 tahun lebih," ungkap Dwikorita.

Kedua segmentasi itu yakni Segmentasi Mentawai-Siberimut dengan kekuatan magnitudo 8,9 dan Segmentasi Selat Sunda-Banten dengan magintudo 8,7.

"Bisa berkekuatab kecil dan sering ternyata hanya kecil. Namun ini adalah skenario terburuknya. Karena ini untuk mitigasi. Kami bukan bikin gaduh, heboh, atau cari perhatian. Tapi mengingatkan untuk bersiap," ujar dia.

Terlebih potensi gempa dan tsunami di Indonesia akan selalu ada karena berada dalam zonasi tumbukan lempeng aktif. Karena waktu gempa belum dapat diprediksi saat ini ia mengimbau masyarakat bersiap dengan mitigasi yang harus terus dilakukan.

Ia mengatakan pihaknya selama ini sudah menghimpun seluruh pakat dalam Konsorsium Nasional Gempa dan Tsunami. Hingga saat ini sudah ada 533 sensor seismograf yang dipasang untuk menghadang megathrust.

Peringatan dini mengenai bencana yang berpotensi terjadi akibat gempa kemudian akan djsampaikan ke Pemerintah Daerah masing-masing untuk melakukan evakuasi.

"Kami juga selama ini sudah melakukan pemetaan peta bencana. Peta ini digunakan untuk tata ruang zona rawan bencana. Bangunan yang dibangun di zona merah mesti tahan gempa atau tidak dibangun sama sekali," ujarnya.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#bogor #gempa megathrust #bmkg