RADAR BOGOR, Presiden Kedua RI, Soeharto, dikabarkan memiliki banyak bangunan dan asset berupa tanah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Selain villa mewah di Kaki Gunung Salak, satu lagi bangunan peninggalan Soeharto yang cukup terkenal, yakni Hotel Garuda.
Hotel Garuda ini berada di Desa Dayeh, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Nasibnya jauh lebih tragis dibandingkan Villa Soeharto di Kaki Gunung Salak.
Bangunannya yang dulu terlihat megah dan menyerupai burung Garuda, kini material bangunannya habis dicuri orang-orang tidak bertanggung jawab.
Tidak hanya bangunan Hotel Garuda yang habis dicuri, tanah merah di lokasi juga dikeruk. Meski sudah sering ditutup Satpol PP, galian tanah merah di lahan eks Hotel Garuda Cileungsi terus beroperasi.
Para pelaku galian ilegal tidak pernah kapok. Bahkan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum, sudah sempat turun tangan beberapa tahun lalu.
Mereka melakukan Operasi Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama Bareskrim Polri, Brimob Polda Jabar dan Denpom III/1 Bogor, sempat menutup galian ilegal tersebut.
Galian C illegal di lahan seluas 44 hektare itu sudah beberapa kali beroperasi. Padahal, bangunan Hotel Garuda ini dahulunya sempat menjadi kebanggaan masyarakat Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Hotel megah bernama Graha Garuda Tiara Indonesia (GGTI) atau lebih dikenal dengan sebutan Hotel Garuda ini dibangun pada tahun 1995.
Bangunan megah itu menempati area 5 hectare dari total lahan 44 hektare. Kini, Hotel Garuda itu tinggal nama dan menyisakan tanah merah tanpa pepohonan hijau akibat jadi lokasi galian ilegal.
Menurut cerita warga sekitar, bangunan yang jika dilihat menggunakan citra satelit berbentuk Burung Garuda Raksasa itu, dibangun pada tahun 1995.
Namun, pembangunan Hotel Garuda ini mangkrak di tahun 1998 akibat kejatuhan Presiden Suharto.
Sejak itulah bangunan Hotel Garuda yang dahulunya megah dibiarkan terbengkalai dan perlahan hancur akibat material bangunannya dicuri.
Menurut sejumlah sumber, anggaran pembangunan proyek prestisius GGTI cukup fantastis, yakni Rp 75 miliar dengan kurs kala itu Rp 2.194 per dolar AS.
Jika disetarakan dengan kurs dolar saat ini sekitar Rp15 ribu lebih, maka pembangunan Hotel Garuda ini bisa mencapai Rp 600 miliar lebih.
Hotel Garuda ini, merupakan proyek yang ditujukan sebagai wisma atlet yang konon untuk menyaingi kawasan olahraga Senayan, peninggalan Presiden Soekarno.
Saat itu, rtusan pekerja dikerahkan untuk membangun Hotel Garuda. Kualitas bangunan hotel ini pun kelas 1.
Pembangunan dilakukan dalam 2 tahap, setelah membuka area yang dahulunya hutan karet dan membangun pondasi.
Pengerjaan dihentikan sementara pada akhir 1995. Bangunan Hotel Garuda di atas lahan seluas 44 hektar itu sempat mengundang decak kagum masyarakat.
Sayangnya, bangunan megah telah tiada. Dulunya kompleks Garuda Tiara ini terdiri atas wisma A, B, C, D, dan E, yang merupakan bagian sayap.
Masing-masing terdiri dari 3 lantai dengan total 456 kamar. Satu kamar bisa diisi 4 orang untuk tipe D dan E.
Seentara tipe kamar A, B, dan C bisa diisi 8 orang. Bagian dada dan kepala Garuda, terdapat lobi dan ruang konvensi yang bisa menampung 3 ribu orang.
Sedang di bagian ekor diperuntukkan bagi hotel dengan total 196 kamar. Sebagai fasilitas penunjangnya, ada juga lapangan parkir yang luas.
Lapangan parkir bisa menampung 100 bus, dan landasan helipad. Fasilitas olahraga juga tersedia, yakni 2 lapangan tenis, 2 lapangan basket, dan 2 lapangan voli serta 2 kolam renang.
Sebelum lengsernya Presiden Soeharto, Mbak Tutut, putri keluarga Cendana, nyaris setiap bulan bertandang ke Hotel Garda.
Putri kesayangan Presiden Soeharto ini datang untuk memantau pembangunan atau menginap di hotel.
Saat itu, GGTI dikelola yayasan yang diketuai Mbak Tutut. Kala itu, Mbak Tutut sedang menggalakkan kegiatan Kirab Remaja.
Para peserta kirab biasanya menginap di GGTI Cileungsi Bogor. Pembangunan Gedung atau Hotel Garuda ini terhenti total pada 1998.
Padahal, proses pembangunannya baru sekitar 80 persen, seiring dengan jatuhnya Presiden Soeharto.
Netizen sempat dikejutkan dengan penampakannya Hotel Garuda lewat google earth 10 tahun kemudian.
Kini, bangunan Hotel Garuda yang hanya berjarak sekitar 2 KM dari Taman Buah Mekarsari Cileungsi, sudah tiada.
Bekas bangunan Hotel Garuda telah ditutupi ilalang. Hotel Garuda yang terletak sekitar 30 KM dari Jakarta itu dikabarkan diratakan pada 2014.(*)
Editor : Alpin.