Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kini Jadi Kawasan Favorit khususnya Wisatawan, Yuk Simak Sejarah Kota Bogor

Lucky Lukman Nul Hakim • Jumat, 6 September 2024 | 14:39 WIB
Kantor Wali Kota Bogor
Kantor Wali Kota Bogor

RADAR BOGOR - Tak dapat dimungkiri, kini Kota Bogor menjadi kawasan favorit untuk dikunjungi terutama para wisatawan.

Lantas bagaimana sejarah Kota Bogor? Kota Bogor diyakini memiliki hubungan lokatif dengan ibukota Pajajaran yakni Kota Pakuan.

Dikutip dari laman resmi pemerintah Kota Bogor, dalam naskah Carita Waruga Guru berbahasa Sunda Kuno sekitar tahun 1750-an dijelaskan nama Pakuan Pajajaran berdasarkan di kawasan itu banyak terdapat pohon Pakujajar.

Sementara itu, K.F. Holle tahun 1869. Di tulisan berjudul De Batoe Toelis te Buitenzorg yakni Batutulis di Bogor, dijelaskan K.F. Holle bahwa di dekat Kota Bogor terdapat sungai dan kampung bernama Cipaku.

Di tempat tersebut banyak ditemukan pohon paku.

Sehingga, menurut Holle nama Pakuan berkaitan dengan kehadiran pohon paku dan Cipaku.

Pakuan Pajajaran berarti op rijen staande pakoe bomen atau pohon paku yang berjajar.

Kemudian, G.P Rouffaer di Encyclopedie van Niederlandsch Indie edisi Stibbe pada tahun 1919.

Menurutnya, Pakuan berarti paku, namun harus diartikan spijker der wereld atau paku jagat yang melambangkan pribadi raja seperti pada gelar Paku Buwono dan Paku Alam.

Berdasar Fouffaer, Pakuan sama dengan Maharaja.

Ya, kata Pajajaran diartikan imbangan atau berdiri sejajar.

Nah, yang dimaksud Rouffaer yakni seimbang atau berdiri sejajar dengan Majapahit.

Walaupun Rouffaer tak merangkumkan arti Pakuan Pajajaran, tapi berdasar uraiannya bisa disimpulkan yakni Pakuan Pajajaran menurutnya Maharaja yang seimbang atau berdiri sejajar dengan Maharaja Majapahit".

Rouffaer senada dengan Hoesein Djajaningrat tahun 1913 yakni Pakuan Pajajaran dibangun tahun 1433.

Kemudian, R. Ng. Poerbatjaraka tahun 1921.

Di tulisannya De Batoe-Toelis bij Buitenzorg atau Batutulis dekat Bogor, Poerbatjaraka mengungkapkan, kata Pakuan seharusnya dari bahasa Jawa kuno pakwwan yang dieja pakwan (tertulis pada Prasasti Batutulis yakni satu w).

Di lidah orang Sunda diucapkan pakuan.

Kata pakwan artinya istana atau kemah. Sehingga, berdasar Poerbatjaraka, Pakuan Pajajaran berarti istana yang berjajar atau aanrijen staande hoven.

Insinyur Pertanian, H. Ten Dam sekitar tahun 1957 meneliti kehidupan sosial-ekonomi petani Jawa Barat melalui pendekatan awal perkembangan sejarah.

Di tulisannya, Pengenalan sekitar Pajajaran atau Verkenningen Rondom Padjadjaran bahwa pengertian Pakuan ada hubungannya dengan lingga atau tonggak batu yang terpancang di sebelah prasasti Batutulis yang menjadi tanda kekuasaan.

Diungkapkan Ten Dam, di carita Parahyangan disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi serta Sang Susuktunggal yang dinilainya masih memiliki pengertian paku.

Menurutnya, pakuan bukanlah nama namun kata benda umum yang berarti ibukota yang dibedakan dari keraton atau hoffstad.

Baca Juga: XL Axiata Membawa Revolusi Pengalaman Buat Pelanggan dengan Promo dan Ragam Fitur AI

Kata pajajaran dinilainya berdasarkan kondisi topografi.

Dia merujuk laporan Kapiten Wikler tahun 1690 yang menginformasikan bahwa dirinya melewati istana Pakuan di Pajajaran yang berada antara Sungai Besar dengan Sungai Tanggerang yang disebut pula Cisadane dan Ciliwung.

Ya, Ten Dam berkesimpulan nama Pajajaran muncul sebab beberapa kilometer Sungai Cisadane dan Ciliwung mengalir sejajar.

Sehingga, dalam pengertian Ten Dam bahwa Pakuan Pajajaran yakni Pakuan di Pajajaran atau Dayeuh Pajajaran.

Sebutan Pajajaran, Pakuan dan Pakuan Pajajaran bisa ditemukan di Prasasti Batutulis (nomor 1 dan 2) sementara nomor 3 dapat dijumpai dalam Prasasti Kebantenan di Bekasi.

Dalam naskah Carita Parahiyangan ada kalimat Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata berarti Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yakni pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata.

Gelar lain untuk Sri Baduga adalah Sanghiyang Sri Ratu Dewata.

Sehingga yang disebut pakuan yakni kadaton bernama Sri Bima dan seterusnya.

Pakuan yakni tempat tinggal untuk raja yang biasa disebut kedaton, istana atau keraton.

Sehingga, tafsiran Poerbatjaraka-lah yang sejalan dengan arti yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan yakni istana yang berjajar.

Tafsiran itu makin mendekati lagi jika dilihat nama istana yang cukup panjang namun terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri.

Diprediksi terdapat lima bangunan keraton yang masing-masing bernama Punta, Bima, Madura, Suradipati dan Narayana.

Mungkin itulah yang biasa disebut di peristilahan klasik panca persada atau lima keraton.

Suradipati merupakan nama keraton induk.

Itu bisa dibandingkan dengan nama keraton lain yakni Surakarta di Jayakarta, Surasowan di Banten dan Surawisesa di Kawali pada masa lampau.

Mungkin berdasar nama yang panjang itu orang lebih suka meringkasnya yaitu Pakuan Pajajaran atau Pajajaran atau Pakuan.

Nama keraton bisa meluas jadi nama ibukota serta akhirnya jadi nama negara.

Contoh, nama keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat meluas jadi nama daerah dan ibukota.

Ngayogyakarta Hadiningrat dalam bahasa sehari-hari hanya dipanggil Yogya.

Pendapat Ten Dam yakni Pakuan adalah ibukota benar dalam penggunaan, namun salah dari segi semantik.

Di laporan Tome Pires tahun 1513 disebutkan, ibukota kerajaan Sunda bernama Dayo atau dayeuh serta berada di kawasan pegunungan, perjalanan dua hari dari pelabuhan Kalapa di muara Ciliwung.

Ia mendengar Nama Dayo dari pembesar atau penduduk Pelabuhan Kalapa.

Sehingga jelas, orang Pelabuhan Kalapa menggunakan kata dayeuh bukan pakuan bila bermaksud menyebut ibukota.

Di percakapan sehari-hari, digunakan kata dayeuh sementara di kesusastraan digunakan pakuan untuk menyebut ibukota kerajaan.

Praktisnya, di tulisan berikut dipakai Pakuan untuk nama ibukota serta Pajajaran untuk nama negara, seperti kebiasaan masyarakat Jawa Barat saat ini. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#kota bogor #Pakuan #paku #sejarah #cipaku