Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Jadi Potensi Bisnis yang Menjanjikan, Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor Gelar Workshop Beternak Puyuh. Ini Peluang dan Tantangannya!

Yosep Awaludin • Sabtu, 14 September 2024 | 14:46 WIB
Workshop Beternak Puyuh yang digelar Quail Innovation Center STP Bogor, bersama PT. Sukaharja Quail Indonesia dan Asosiasi Puyuh Indonesia, di Kampus STP Bogor, Sabtu (14/9/2024).
Workshop Beternak Puyuh yang digelar Quail Innovation Center STP Bogor, bersama PT. Sukaharja Quail Indonesia dan Asosiasi Puyuh Indonesia, di Kampus STP Bogor, Sabtu (14/9/2024).

RADAR BOGOR – Salah satu bisnis peternakan yang menjanjikan di Indonesia adalah budidaya burung puyuh.

Sebagai hewan penghasil telur terbesar kedua setelah ayam petelur, burung puyuh ternyata memiliki banyak keuntungan.

Di antaranya, produktifitas telur yang tinggi dan memiliki masa produksi panjang hingga 18 bulan. Selain itu, ternak burung puyuh juga tidak membutuhkan banyak lahan, biaya investasi relatif rendah, memiliki pangsa pasar yang luas dan harganya stabil, kotorannya jugaa mengandung banyak protein.

Hal itu terungkap dalam Workshop Beternak Puyuh: Peluang dan Tantangannya, yang digelar Quail Innovation Center Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bogor, bersama PT. Sukaharja Quail Indonesia dan Asosiasi Puyuh Indonesia, di Kampus STP Bogor, Jl. Yasmin Raya, Sabtu (14/9/2024).

Peserta yang hadir antara lain peternak, pengusaha, akademisi, pelaku UMKM, pengusaha Horeka (Hotel, Restoran, Katering), serta media.

Beberapa topik utama dibahas dalam workshop tersebut, di antaranya, Kiat Beternak Puyuh yang Menguntungkan oleh Dr. (HC) Slamet Wuryadi, Ketua Asosiasi Puyuh Indonesia dan Direktur Utama PT. Sukaharja Quail Indonesia.

Kemudian soal peluang investasi di Sukaharja Smart Quail Farm yang disampaikan oleh Prof. Erliza Hambali Guru Besar IPB University.

Dan produk olahan puyuh untuk mendukung program makanan bergizi gratis nasional oleh Chef Saleha, M.M.Par, yang berpengalaman lebih dari 30 tahun di bidang kuliner.

Chef Saleha juga menunjukkan cara kreatif mengolah telur dan daging puyuh untuk membantu mengatasi stunting dan kekurangan gizi pada anak-anak dan ibu hamil di Indonesia.

"Workshop ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang Opportunity Economy atau peluang ekonomi dalam beternak puyuh. Konsep ini menciptakan kesempatan kerja, mendorong inovasi, dan mendukung pertumbuhan yang merata," kata Guru Besar IPB University Prof. Erliza Hambali.

Ia menjelaskan, mengolah produk puyuh semuanya asli dari Indonesia dengan TKDN hampir 100%. Mulai dari penyediaan grand parent stock (GPS), teknologi breeding, teknologi budidaya.

Kemudian teknologi pakan, teknologi kandang dan sangkar, desinfektan untuk kandang dan puyuh, supplement, vitamin, seni mengolahnya, hingga manajemen bisnis dan pemasarannya. "Jadi semuanya asli dikembangkan oleh putra-putri Indonesia,"

Mengapa memilih beternak puyuh? menurut Prof Erliza, burung puyuh ini cepat menghasilkan, 45 hari sudah bisa menghasilkan telur. "Puyuh ini bisa bertelur tiap hari, gak bosan-bosan sampai 18 bulan," katanya.

Ketua Asosiasi Puyuh Indonesia dan Direktur Utama PT. Sukaharja Quail Indonesia Dr. (HC) Slamet Wuryadi, memeparkan hebatnya beternak Puyuh ketimbang unggas lain.

Pertama, kata dia, Puyuh mulai bertelur setelah 45 hari dipelihara dan bisa memproduksi telur selama 18 bulan.

Harga beternak puyuh stabil, dimana biaya produksi telur puyuh sekitar Rp300 per butir, sementara harga jualnya sekitar Rp425 per butir.

Kemudian, permintaan akan telur puyuh juga tinggi. Di tiga provinsi, permintaan mencapai 66 juta butir telur puyuh per bulan, namun PT. Sukaharja Quail Indonesia baru bisa memenuhi 14 juta butir.

Dibandingkan unggas lain, penyakit pada puyuh hampir nyaris tidak ada karena pakan yang diberikan dalam bentuk hebral. "Puyuh lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan unggas lainnya," kata Slamet.

Selain itu, lanjutnya, pengelolaan budidaya ternak Puyuh juga lebih efisian. "Satu pekerja bisa mengurus 5.000 ekor puyuh hanya dengan 4 jam kerja per hari," jelasnya.

Lahan yang dibutuhkan untuk budidaya puyuh juga kecil, hanya butuh 20 meter persegi untuk 5.000 ekor puyuh.

"Kotoran puyuh juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, biogas, pakan ikan lele, dan maggot," paparnya.

Telur dan daging puyuh juga merupakan sumber protein yang baik bagi anak-anak dan ibu hamil. Bagi anak yang alergi terhadap telur ayam atau ikan, puyuh bisa menjadi alternatif. Produk olahan puyuh juga bisa disajikan dengan cara menarik, seperti ekado atau takoyaki.

Quail Innovation Center (QIC) yang berlokasi di Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor akan menjadi pusat informasi dan inovasi tentang budidaya puyuh dari hulu ke hilir, terbuka untuk masyarakat lokal dan internasional.

Baca Juga: Yuk Cicipi Bakso Mang Ono Buka Cabang di Bogor, Kuliner Khas Garut Ini Diburu Banyak Orang, Rasa Dijamin Endol Banget

QuIC akan mendukung pengembangan bisnis puyuh secara berkelanjutan, serta menjadi pusat teknologi dan inovasi terpercaya. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#beternak #workshop #puyuh