RADAR BOGOR - Jelang Pilkada Kabupaten Bogor, isu CDOB (Calon Daerah Otonomi Baru) Bogor Barat kembali mencuat.
Sudah sepekan isu CDOB Bogor Barat itu kembali bergulir, di tengah penetapan nomor urut calon Bupati Bogor untuk Pilkada.
Isu CDOB Bogor Barat juga bahkan jadi perbincangan hangat di media sosial hingga WhatsApp group, mengalahkan ramainya pembicaraan Pilkada.
Puncaknya, Selasa siang tadi. Ribuan orang menggelar aksi demo. Meminta Presiden Jokowi membuka kran Moratorium DOB.
AMUK (Aliansi Masyarakat Bogor Barat Untuk Pemekaran) yang memanaskan mesin penggeraknya.
Di dalamnya terdapat berbagai elemen masyarakat. Mulai dari ormas, LSM, Kepala Desa anggota legislatif, Tokoh Agama, tokoh masyarakat dan mahasiswa.
Persiapan demo meminta Jokowi membuka kran Moratorium DOB itu berlangsung cukup singkat.
Modal demonya patungan. Sebagian warga yang demo membuat kaos.
Keuntungan dari kaos itu dijadikan modal untuk aksi demo. Mereka sebut aksi patungan. Kompak.
Kaos itu warna hitam. Bergambar harimau ditengahnya. Kaos itu dibagikan tadi pagi. Sebelum aksi dimulai.
Setelah semua kaos terpakai, para pendemo mulai berjalan menuju lokasi demo yang sudah disiapkan betul.
Lokasinya 50 meter dari pintu masuk kampus IPB university Dramaga.
Sejak pagi buta, aparat gabungan sudah siaga di sana. Ada TNI, Polri, Dishub dan Satpol PP.
Polisi pun melakukan rekayasa lalulintas. Traffic Cone atau yang biasa disebut sebagai kerucut lalu lintas mendadak dipasang di sana.
Membentang dari depan gerbang kampus IPB university Dramaga Bogor hingga depan mapolsek Dramaga.
Pagi itu jalan dibuat lengang. Jika dihari biasa jalan sudah padat saat pagi hari, namun, Selasa pagi tadi jalan sepi. Hingga pada pukul 10.30 WIB, lalulintas yang lengang itu berubah macet.
Rombongan pendemo mulai berdatangan. Pertama rombongan pendemo yang dibawa oleh anggota Dewan.
Mereka datang lebih awal. Memarkir kendaraan orasi di sebelah kiri area yang sudah disiapkan untuk demo.
Koordinator lapangan (Korlap) AMUK Buchori Muslim mengatakan, aksi demo tidak akan berhenti hari ini. Ia mengaku bakal melakukan aksi demo lebih besar di Istana Bogor, jika moratorium tak segera dibuka.
"Kami akan menggerakkan masyarakat lebih besar, karena kami akan menduduki istana Bogor," katanya kepada Radar Bogor Selasa (24/9/2024).
Editor : Rani Puspitasari Sinaga