Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Suhu Panas Kota Bogor Semakin Menjadi Setiap Tahun, Pengamat Ilmu Lingkungan Beberkan Alasannya

Fikri Rahmat Utama • Selasa, 22 Oktober 2024 | 21:39 WIB
Pengamat Ilmu Lingkungan sekaligus Ketua Prodi Ilmu Lingkungan UIKA Bogor, Rimun Wibowo.
Pengamat Ilmu Lingkungan sekaligus Ketua Prodi Ilmu Lingkungan UIKA Bogor, Rimun Wibowo.

RADAR BOGOR - Peningkatan suhu udara panas di Kota Bogor yang saat ini terjadi ternyata sudah mulai berlangsung beberapa tahun terakhir. Walau berstatus Kota Hujan namun Kota Bogor tak lagi sedingin seperti dahulu.

Pengamat Ilmu Lingkungan Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor, Rimun Wibowo mengatakan fenomena kenaikan suhu panas di Kota Bogor dan daerah lain di Indonesia mulai dirasakan secara bertahap sejak beberapa dekade terakhir.

Secara umum, tren kenaikan suhu panas, termasuk di Kota Bogor, diakibatkan oleh perubahan iklim global, urbanisasi, dan efek rumah kaca. Peningkatan suhu ini juga tak hanya terjadi pada siang hari namun juga malam hari.

"Peningkatan suhu ini menjadi lebih nyata sejak awal 2000-an, seiring dengan semakin intensifnya pembangunan infrastruktur, pertumbuhan penduduk, dan berkurangnya lahan hijau di kawasan perkotaan seperti Bogor," katanya, Selasa (22/10/2024).

Ia juga menjelaskan, peningkatan suhu panas di Kota Bogor terjadi karena kombinasi antara peningkatan emisi gas rumah kaca secara global dan perubahan penggunaan lahan di tingkat lokal, khususnya di Bogor.

Kemudian urbanisasi yang pesat dan alih fungsi lahan tanpa perencanaan terhadap keseimbangan ekologis juga memperparah kondisi ini. Hal ini menghasilkan efek pemanasan yang lebih terasa di wilayah perkotaan.

"Tahun 1990-an saat kami kuliah masih selalu pake jaket kedinginan dan tiap hari hujan selalu bawa payung kemana," sebutnya.

Intensitas hujan yang menurun sepanjang tahun, kata Ketua Prodi Ilmu Lingkungan UIKA ini, bisa juga adalah efek gas rumah kaca. Namun pengaruh ini tidak bisa dilihat hanya di Bogor saja, karena hal ini merupakan fenomena global.

"Gambarannya yaitu peningkatan emisi gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global, yang memengaruhi sirkulasi atmosfer bumi. Salah satu dampak utama dari perubahan iklim ini adalah perubahan pola curah hujan di berbagai wilayah," jelasnya.

Hal ini membuat sebagian area akan mungkin mengalami peningkatan curah hujan, sementara yang lain menghadapi kekeringan berkepanjangan.

Untuk area yang mengalami peningkatan hujan bisa terjadi karena efek rumah kaca meningkatkan jumlah uap air yang dapat ditampung oleh atmosfer.

"Ketika terjadi hujan, intensitas curah hujan cenderung lebih tinggi. Hal ini menyebabkan hujan lebat dan badai yang lebih intens, sehingga meningkatkan risiko banjir," jelasnya.

Kasus di Indonesia, beberapa wilayah mengalami musim hujan yang lebih deras dan lebih lama, menyebabkan banjir dan tanah longsor. Di sisi lain, beberapa wilayah lain mungkin mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan kering.

"Ini adalah salah satu dampak nyata dari meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer," ujarnya.

Lebih jauh, Ia menuturkan Untuk mengurangi efek gas rumah kaca di Bogor, diperlukan langkah-langkah yang berkelanjutan dan terintegrasi. Ini mencakup kebijakan, partisipasi masyarakat, serta perbaikan infrastruktur.

Upaya ini juga disebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan yaitu meningkatkan Ruang Terbuka Hijau (RTH), pengelolaan transportasi berkelanjutan, perbaikan infrastruktur dan bangunan Ramah lingkungan, dan pengelolaan sampah dan limbah yang lebih baik.

Kemudian perlu dilakukan pengendalian perubahan penggunaan lahan (Land Use Change), edukasi untuk tingkatkan partisipasi masyarakat, mengembangkan sistem drainase dan infrastruktur air, serta membuat kebijakan lingkungan dan penegakan regulasi secara tegas.

"Perencanaan yang baik, pengelolaan lahan berkelanjutan, transportasi ramah lingkungan, serta kesadaran masyarakat yang tinggi membuat dampak pemanasan global di tingkat lokal dapat diminimalisir, sehingga Bogor dapat menjadi kota yang lebih hijau dan sejuk di masa depan," jelasnya. 

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#kota bogor #Ilmu lingkungan #suhu panas