RADAR BOGOR - "Saya tidak mau tanam cabai, (dan hasilnya juga) jual cabai. Semua hasil tanaman itu harus diolah," cetus John Tumiwa.
Itulah prinsip yang mengakar bagi Owner Boja Farm dalam menjaga konsistensi pertanian organiknya di Desa Tajur Halang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Bagi pria berusia 57 tahun ini, "haram" hukumnya untuk menjual mentah semua komoditas yang ditanamnya sendiri.
Radar Bogor berkesempatan bertemu dengan penggiat pertanian organik itu. Meski sehari-harinya tinggal di Jakarta, John Tumiwa meluangkan beberapa jam waktunya untuk bertatap muka di Boja Farm, Sabtu 9 November 2024.
Untuk bisa menjangkau kawasan Boja Farm bukanlah perkara mudah. Sebagian besar kawasan di Kecamatan Cijeruk ini merupakan wilayah dataran tinggi. Kendaraan perlu dipacu melalui gigi satu-dua secara bergantian. Terus menanjak. Sedikit saja mata meleng, jurang-jurang di pinggir jalan bisa mengundang celaka.
Sebagian provider telepon sudah jelas bakal kehilangan sinyal. Cara paling mujarab untuk mencari alamat dengan bertanya kepada warga setempat. Jika mengambil awalan dari Kota Bogor, Boja Farm bisa dijangkau dengan durasi lebih dari 1 jam.
Radar Bogor disambut hangat John Tumiwa di kedai Boja Cafe and Lounge. Kedai tersebut merupakan bagian dari kawasan Boja Farm. Belakangan kami juga baru tahu bahwa semua bahan baku dari bisnis kuliner ini bersumber dari kebun-kebun yang dikelolanya secara organik. Benar-benar membentuk ekosistemnya sendiri.
Area perkebunan Boja Farm menghampar seluas 15 hektare. Bagi orang awam, lahan itu akan terlihat seperti area perkebunan masyarakat pada umumnya. Namun, setelah berjalan-jalan di dalamnya, aneka tanaman hidup dengan membentuk habitatnya sendiri. Bahkan, ia membaginya dalam beberapa zona. Diantaranya zona sayur, rempah, buah, ubi, herbal, herbs, bambu, hingga lebah.
Uniknya, lahan-lahan itu dikembangkan dengan metode organik. Semuanya serba organik. Tentu saja, tak ada lagi bahan kimia yang menjadi musuh bagi tanah dan lingkungan.
"Bertani organik itu harus bersabar, karena tahap awalnya adalah masa konversi tiga tahun. Misal, kalau dulu di sini lahannya pernah menggunakan zat-zat kimia, maka untuk disertifikasi organik, masa konversinya adalah tiga tahun," tutur lelaki berkaca mata ini.
Ia pun mengajak Radar Bogor untuk berkeliling lahan pertanian organiknya. Kami turun dari atas kedai menuju beberapa lahan hijau di bawahnya. Kami bisa melihat beberapa lahan yang ditanami sayur, herbal, pohon, greenhouse penyemaian bibit, hingga bambu lebat yang siap dipanen.
Ia mengakui, butuh waktu cukup lama untuk bisa melihat lahan-lahan Boja Farm itu kembali subur seperti sekarang. Pertama kali membeli lahan ini, paruh 2016 silam, ia sudah menanamkan komitmennya untuk pertanian organik. Pun, lahan di kaki Gunung Salak itu tidak dibelinya sekaligus. Ia mengumpulkannya sedikit demi sedikit hingga utuh menghampar 15 hektare.
"Awalnya kita tidak bisa melakukan sertifikasi organik. Tanaman, begitu tadinya pakai bahan-bahan kimia (untuk mengolahnya), terus diubah (menjadi pengolahan) organik, sakaw tanaman ini. Cabai kecil, keriput, banyak virus," jelasnya.
"Nah, itu membutuhkan kesabaran. Benar-benar membutuhkan kesabaran," sambungnya lagi.
Berbagai tanaman yang telah tumbuh subur di Boja Farm juga berangkat dari berbagai kegagalan yang dialami John. Ambisinya untuk menghidupkan ekosistem organik, membawanya pada banyak percobaan, trial and error. Tak jarang, ia gagal menumbuhkan beberapa jenis tanaman di sana.
"Dulu saya mencoba tanaman herbal. Kita tanam 72 jenis. Ternyata, cuma 40 jenis yang bisa di sini. Ya sudah, 40 jenis itulah yang akhirnya kita kembangkan terus, tanam, panen, bikin produk, tanam lagi, dan seterusnya," kisahnya.
Lelaki beranak satu ini membuktikan bahwa alam ternyata sudah punya rumusnya sendiri. Apa yang sudah ada di alam dan lingkungannya, tak bisa serta-merta diubah untuk kepentingan lahan. Manusialah yang harus menyesuaikan dengan lingkungan itu.
"Jangan kita mencoba reinvent the wheel. Di sini gak ada tanaman A, kita coba tanaman A. Kita lihat alam ini sudah terbentuk sebenarnya. Jadi, kalau tanaman A cocok disini, tapi tanaman A belum tentu cocok di tempat lain. Oleh karena itu, saya kalau bercocok tanam selalu melihat dari alam di sekelilingnya," jelas lelaki yang sudah berkutat dengan hilirisasi ini sejak tahun 2007.
Berbagai komoditas juga telah dihasilkan dari lahan pertanian organik Boja Farm. Namun, John selalu menekankan untuk tidak menjualnya secara "mentah". Hilirisasi sudah menjadi konsep utama dalam pertanian organik miliknya. Selain bernilai ekonomi lebih tinggi, ekosistemnya pun bisa lebih terjaga.
"Kalau kami prinsipnya adalah saya tidak mau tanam cabai, jualnya cabai. Semua jenis tanaman itu harus diolah," tegasnya.
Ia memulai hilirisasi itu pada tahun 2007 melalui komoditas vanilla. Ia menjual produk olahan vanilla yang membuatnya mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat.
Kesadaran itu pun membawa pada produk-produk pengembangan lain dari hasil pertanian Boja Farm. Salah satunya, produk olahan rempah melalui Java Spices. Produk ini pun telah berkali-kali diekspor ke luar negeri. Nilainya bisa mencapai Rp400 juta per bulan. Ada pula produk olahan baru dari buah-buahan, yakni Fruit Chips.
Bagi John, nilai itu belum fantastis. Komoditas ekspor dari tempat lain masih lebih banyak. Hanya saja, ia tetap meyakini ekosistem organik di Boja Farm akan terus berkelanjutan. Tak terkecuali dengan sejumlah pengembangan yang akan dilakukannya, setelah Boja Farm Stay maupun Boja Cafe and Lounge.
Bahkan, Boja Farm juga menyatu dalam konsep paket ekowisata yang ditawarkan untuk pengunjung. Beberapa produk organiknya pun sudah lebih dulu habis oleh para wisatawan yang ingin healing sekaligus belajar. "Kombinasi antara pariwisata, pertanian, dan edukasi itu sangat penting," tekan CEO Boja Farm ini.
Berteman Tanaman Sejak Kecil
Lelaki kelahiran Surabaya ini menceritakan, pengalaman bertani diperolehnya dari orang tua. Sejak kecil, ibunya memang suka bertani. Salah satunya, memelihara tanaman anggrek. Ibunya secara tak langsung mengajarkan bahwa ketika alam dijaga dan diperlakukan sebagaimana makhluk hidup, ia pun akan menghidupi kita.
"Waktu kecil, setiap pagi saya disuruh siram-siram anggrek itu. Lagi siram-siram, saya diteriaki, suruh ajak omong itu tanaman. Dari situlah mungkin terbangun kebiasaan saya suka tanaman, sejak dulu," ungkap lelaki kelahiran 23 Mei 1967 ini.
Ia pun sebenarnya memulai bisnis dan usahanya di bidang teknologi. Akan tetapi, saat beralih ke bisnis pertanian, ia justru seakan nostalgia. "Kenapa malah gairahnya di pertanian. Saya senang ketika jalan (di kebun), ketemu petani, memberikan edukasi kepada petani," tuturnya.
Bisnis jual-beli sudah dilakoninya sejak tahun 1992. Tak terkecuali dengan komoditas pertanian, yang dibelinya dari petani dan dijual kembali. Namun, menurut John, hasilnya biasanya tidak maksimal. Pada tahun 2002, ia pun mulai berpikir bagaimana membina para petani. Ternyata, proses membina petani pun tidak semudah yang dibayangkannya.
"Akhirnya saya mikir bagaimana kalau saya bertani sendiri. Saya mulai pada tahun 2015 bertani sendiri, kecil-kecilan. Awalnya belum disini, tapi di Tangkil, Cimande (Bogor). Akhirnya pindah ke Mulyaharja, beli lahan mulai bercocok tanam. Kemudian ada orang yang nawarin tanah disini, dulu masih hutan," kisahnya.
Ilmu yang dipelajarinya di bangku kuliah pun tidak mengajarkan dasar-dasar pertanian. Dirinya lulus dari salah satu universitas di Honolulu dengan berbekal ilmu kepariwisataan. Sementara program S2-nya di bidang teknologi. Namun, kombinasi pengalaman dan passion itulah yang membawa John Tumiwa bisa membangun ekosistem organik di Boja Farm.
Kalau bukan karena cinta, John mungkin sudah lama angkat kaki dari urusan pertanian organik. Mengembalikan lahan kembali ke sifat alaminya bukan perkara mudah. Butuh kesabaran ekstra. Selain itu, tentu butuh topangan finansial yang mumpuni. Lantaran proses "menunggu" selama tiga tahun itu tidak akan menyumbangkan keuntungan.
Berkat kegigihannya itu, Boja Farm bisa memperkenalkan metode organik kepada masyarakat secara luas. Boja Farm menjadi bagian dari pengembangan Desa Sejahtera Astra (DSA) di Kabupaten Bogor. Program perpanjangan tangan dari Astra ini membawa begitu banyak angin segar bagi Boja Farm. John membeberkan,
Ekosistem organik sudah mulai hidup di kawasan Desa Tajur Halang itu. Menurut John, beberapa petani di sekitar Boja Farm juga sudah mulai memakai konsep yang sama. Hal ini pula yang menjadi tujuan kehadiran Boja Farm.
DSA Boja Farm menjadi percontohan bagi wilayah lainnya yang ingin menerapkan konsep pertanian organik. John Tumiwa telah menjadi mentor bagi DSA lainnya di Indonesia. Sebagai Ketua Yayasan Mitra Organik, John tentu punya tanggung jawab untuk terus menyebarkan metode organik. Selain mengembalikan kesuburan lingkungan, masyarakat pun bisa lebih berdaya dan sejahtera.
Tanpa Listrik
"Saya nanti gak mau pakai listrik lagi," tegasnya di tengah perbincangan kami.
Dalam waktu dekat, John bakal "memutus" semua sambungan listrik di Boja. Ia hendak menerapkan konsep renewable energy melalui tanaman jarak. Sumber energi listrik berasal dari tanaman-tanaman yang sudah dibudidayakan di Boja Farm tersebut.
"Saya sudah punya tanaman jarak di sini. Kita tanamnya masih sistem tumpang tindih. Tapi, saya rasa cukup untuk menyuplai kebutuhan sumber daya listrik yang dibutuhkan di Boja," terang lelaki beranak satu ini.
Ambisinya itu bukan tanpa alasan. Ia sudah punya pengalaman dalam menyuplai bahan bakar untuk genset dengan tanaman jarak tersebut. Bahkan, ia sudah pernah memanfaatkan biodiesel dari tanaman jarak itu untuk bahan bakar mobil.
Menurutnya, hanya butuh sekira 50 liter bahan bakar untuk genset yang menyuplai sambungan listrik di Boja Farm. Tanaman-tanaman jarak yang ada di lahan Boja Farm masih sangat memadai untuk menyediakan kebutuhan pengolahan bahan bakar alternatif tersebut.
Sebenarnya, suplai listrik dari sumber daya terbaharukan bisa lebih mudah diaplikasikan melalui alternatif panel surya. Banyak daerah pelosok yang memanfaatkan energi alam dari matahari tersebut. Akan tetapi, menurut John, paparan matahari di kawasan perbukitan Kecamatan Cijeruk tidak begitu maksimal.
Oleh karenanya, ia memilih untuk memanfaatkan bioenergi dari tanaman jarak. Di samping itu, lahan-lahan pertanian organik yang dimilikinya bisa lebih dimaksimalkan. Tujuan sustainability pun bisa benar-benar paripurna diwujudkan Boja Farm.
"Banyak orang yang pakai kata 'sustain' itu cuma gimmick. Kita (Boja Farm) berupaya untuk benar-benar menerapkannya," kuncinya.(mam)
Editor : Pipin Apriani