RADAR BOGOR - Disdukcapil merilis data yang menyebut jumlah penduduk Kota Bogor yang berstatus janda lebih banyak dibanding duda. Perbedaannya bahkan mencapai dua kali lipat dari jumlah warga duda.
Berdasarkan semester 1 2024 jumlah janda di Kota Bogor yaitu sebanyak 14.900. Sedangkan jumlah warga berstatus duda berjumlah 6.219.
Kepala Biro Psikologi Rumah Cinta, Bogor, Retno Lelyani Dewi mengatakan tingginya angka janda ini sejalan dengan meningkatnya pemahaman perempuan terkait KDRT.
Saat ini perempuan lebih melek terhadap KDRT sehingga terbuka untuk berpisah dari suaminya.
"Saat rumah tangganya terjadi KDRT secara fisik, psikis, verbal, seksual bahkan penelantaran ekonomi, mereka dengan terbuka melaporkan ke Dinas Perlindungan Perempuan dan anak atau polisi. Ini kemudian ujungnya menggugat cerai suaminya," ungkapnya.
Kemudian pasca cerai, perempuan cenderung tidak akan berfokus lagi untuk mencari suami atau pasangan baru. Mereka biasanya lebih aktif mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga.
Ini yang membuat perempuan cenderung lebih nyaman untuk sendiri. Mereka merasa bisa untuk hidup mandiri tanpa menikah lagi.
"Menikah untuk perempuan ingin dibahagiakan, disejahterakan, dilindungi. Sehingga jika mengalami KDRT, maka bisa mengalami trauma yang perlu disembuhkan dulu sebelum menikah lagi," ungkapnya.
Ini berbanding terbalik dengan laki-laki yang cenderung tidak tahan dengan kesendiriannya. Secara teori laki-laki perlu untuk memenuhi kebutuhan fisiknya seperti hubungan badan.
"Laki laki produksi sperma rata rata 3 hari sekali. Sementara perempuan hanya 1 kali dalam sebulan ingin berhubungan badan. Jadi wajar jika laki laki segera menikah lagi, karena kebutuhan fisiknya," jelasnya.
Lebih jauh, Retno menyebut fenomena janda dan duda ini kemungkinan besar akan terus terjadi. Apalagi secara statistik nasional jumlah perempuan lebih banyak dibanding laki-laki.
"Dalam kondisi perempuan mulai melek hak-hak nya termasuk mandiri, menurut saya kondisi ini mungkin saja (terus) terjadi," sebutnya. (rp1)
Editor : Yosep Awaludin