RADAR BOGOR - Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) menjadi salah satu prnyakit yang mesti diwaspadai oleh masyarakat Kota Bogor. Terlebih bagi mereka yang merupakan perokok aktif.
Dokter Spesialis Paru RSUD Kota Bogor, dr Evelsha Azzahra menerangkan PPOK merupakan penyakit heterogen yang diakibatkan adanya kerusakan berupa penyempitan pada saluran nafas.
"PPOK ditandai dengan gejala pada sistem pernafasan seperti sesak nafas, sesak pada bagian dada, dan batuk (berdahak maupun tidak)," terangnya dalam Podcast Kesehatan (Podkes) RSUD Kota Bogor.
PPOK memiliki gejala yang hampir serupa dengan penyakit asma.
Namun kedua penyakit ini disebut Evelsha memiliki sejumlah perbedaan.
Jika pada asma grjala yang dirasakan dapat kambuh dan kembali membaik, sementara pada PPOK lebih bersifat progresif atau menetap.
Asma biasanya kambuh lantaran adanya faktor alergi yang mrmicu timbulnya gejala. Sedangkan pada PPOK pajanan radangnya kronik dan menetap.
Pada umumnya PPOK akan menyerang seseorang yang berusia 30-40 tahun ke aras. Penyakit ini juga dapat terjadi pada seorang pasien anak yang mengalami kelainan genetik.
"PPOK utamanya disebabkan kebiasaan merokok. BUkan hanya rokok konvensional namun juga rokok elektrik seperti vape, pod, atau rokok herbal sekalipun. PPOK juga dapat terjadi akibat paparan asap industri, pembakaran sampah, asap kendaraan yang menimbulkan sakit pada saluran pernafasan secara berulang," jelas dia.
Kebiasaan merokok yang terus berlanjut dapat membuat kondisi pasien PPOK kian bertambah buruk.
Oleh karena itu kebiasaan merokok perlu untuk dihentikan.
"Jika tidak, saluran pernafasannya akan seperti pipa yang mengeras dsn mengalami keruskaan. Semakin meroskok akam semakin rusak, sempit, dan lama-lam: tertutup. Kondisi ini akan membuat pasien tidak bisa bernafas dan ujungnya bisa beresiko pada kematian," tekan Evelsha.
Upaya pengobatan yang mesti dijalani penderita PPOK ialaj dengan pengobatan pelegaan nafas serta pemberian anti radang.
Pasien penyakit ini juga disarankan menjalani olahraga sebagai teeapi pengobatan. Beberapa jenis olahraga yang bisa diikuti antara lain senam PPOK, renang khusus PPOK, dan berjalan kaki.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga