Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Pesantren, Feodalisme, dan Framing Media, Dosen Sekaligus Peneliti Manajemen Pesantren Unida Bogor: Ketika Tradisi Suci Disalahpahami

Rani Puspitasari Sinaga • Selasa, 21 Oktober 2025 | 06:15 WIB

 

Dosen dan peneliti Unida Bogor soal pesantren.
Dosen dan peneliti Unida Bogor soal pesantren.

RADAR BOGOR - Belakangan ini, jagat maya kembali dihebohkan oleh perbincangan seputar “feodalisme” di lingkungan pesantren.

Isu tersebut mencuat setelah salah satu stasiun televisi nasional menayangkan cuplikan video yang menampilkan santri di Pesantren Lirboyo tengah menunduk dan ”ngesot” ketika berhadapan dengan kiai. Tayangan itu bahkan disertai narasi negatif, seolah-olah perilaku santri tersebut adalah bentuk penindasan dan ketertundukan terhadap figur otoritatif.

Sayangnya, video itu diambil tanpa izin pesantren bersangkutan, dan konteksnya sama sekali tidak dijelaskan. Akibatnya, publik menelan bulat-bulat narasi yang disuguhkan tanpa menyadari bahwa yang mereka tonton bukanlah bentuk feodalisme, melainkan ekspresi luhur adab dalam tradisi keilmuan Islam.

Sebagai seseorang yang pernah hidup di pesantren dan kini menekuni bidang manajemen pendidikan pesantren, saya merasa perlu meluruskan kesalahpahaman ini. Sebab apa yang disajikan dalam tayangan tersebut tidak hanya mengandung kekeliruan konseptual, tetapi juga berpotensi mencederai kehormatan pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang telah berabad-abad berperan membangun peradaban bangsa.

Adab, Bukan Feodalisme

Dalam khazanah keilmuan Islam, adab mendahului ilmu. Seorang santri diajarkan untuk memuliakan gurunya bukan karena sang guru manusia sempurna, tetapi karena darinyalah ilmu yang menjadi cahaya kehidupan itu disampaikan. Menunduk di hadapan kiai bukan tanda takut atau tunduk secara sosial, melainkan simbol penghormatan terhadap ilmu dan penyampainya.

Begitu pula dengan kebiasaan memberikan amplop atau hadiah kepada kiai. Dalam kultur pesantren, hal itu bukan bentuk intimidasi, melainkan ungkapan terima kasih dan rasa cinta.

Tidak ada unsur paksaan, bahkan tidak sedikit kiai yang menolak pemberian seperti itu. Relasi antara santri dan kiai dibangun atas dasar ketulusan, bukan transaksi.

Menuduh budaya pesantren sebagai feodal berarti gagal memahami ruh pendidikan Islam. Pesantren tidak pernah menundukkan manusia kepada manusia lain. Pesantren menundukkan manusia hanya kepada Allah.

Sejarah yang Terlupakan

Narasi negatif terhadap pesantren sering muncul dari pandangan luar yang dangkal dan ahistoris. Padahal, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga pilar peradaban dan perjuangan bangsa. Jauh sebelum kemerdekaan diraih, pesantren telah menjadi pusat perjuangan moral dan fisik melawan penjajah.

Kita tidak boleh lupa, Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dideklarasikan oleh para kiai pesantren menjadi pemantik semangat perlawanan rakyat terhadap kolonialisme. Dari bilik-bilik sederhana di pesantren, lahir semangat kebangsaan yang berpadu dengan nilai-nilai spiritual Islam.

Kiai dan santri tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan semangat kebangsaan, kemandirian, dan keikhlasan. Dari tangan mereka lahir tokoh-tokoh besar bangsa—diplomat, profesor, duta besar, menteri, hingga pemimpin masyarakat—semuanya berawal dari ruang belajar sederhana yang berlandaskan adab dan ketulusan.

Namun para kiai itu sendiri tetap memilih hidup bersahaja di pesantrennya, mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendidik generasi tanpa pamrih. Inilah esensi pesantren: keikhlasan, pengabdian, dan keberkahan ilmu.

Etika Media dan Tanggung Jawab Moral

Dalam konteks pemberitaan publik, media memiliki peran penting sebagai penyampai informasi. Namun, tanggung jawab moral seorang jurnalis tidak berhenti pada “apa yang viral”, melainkan pada “apa yang benar.”

Menayangkan potongan video tanpa izin dan tanpa konteks adalah bentuk pelanggaran terhadap prinsip dasar etika jurnalistik. Apalagi jika kemudian disertai framing yang tendensius dan subyektif, seolah pesantren adalah tempat penindasan atau feodalisme modern. Padahal, justru dari pesantrenlah lahir nilai-nilai kesederhanaan, kesetaraan, dan kepemimpinan moral.

Media seharusnya menjadi jembatan pemahaman, bukan sumber kesalahpahaman. Jika ada kekeliruan di pesantren, tentu bisa dibicarakan dan diperbaiki, tetapi bukan dengan cara menstigmatisasi dan menggeneralisasi seluruh lembaga pesantren di Indonesia.

Benteng Terakhir Pendidikan Karakter

Di tengah krisis moral dan degradasi karakter generasi muda, pesantren tetap menjadi benteng terakhir pendidikan karakter bangsa. Ketika sebagian lembaga pendidikan formal mulai kehilangan arah, pesantren masih istiqamah menanamkan nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab spiritual.

Santri tidak hanya diajarkan untuk cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan sosial. Mereka dididik 24 jam penuh dalam sistem yang menyeimbangkan ilmu, iman, dan amal. Pesantren menjadi ruang yang melahirkan generasi yang tangguh, sabar, dan siap menghadapi tantangan kehidupan dengan ketenangan jiwa.

Maka, jika hari ini pesantren masih menjadi pilihan utama bagi banyak orang tua di seluruh Indonesia, itu bukan tanpa alasan. Masyarakat percaya, di tengah hiruk pikuk dunia modern yang materialistik, pesantren masih menjaga kemurnian nilai dan kemanusiaan.

Menjaga Tradisi, Merawat Peradaban

Kritik terhadap pesantren tentu boleh saja, karena tidak ada lembaga yang sempurna. Namun, kritik yang baik lahir dari pemahaman dan niat memperbaiki, bukan dari tuduhan dan prasangka.

Pesantren bukanlah warisan masa lalu yang harus ditinggalkan. Ia adalah pondasi moral bangsa yang harus dirawat. Di dalamnya tumbuh nilai-nilai keikhlasan, kebersamaan, dan penghormatan kepada ilmu—nilai-nilai yang semakin langka di zaman ini.

Maka, sebelum menilai, datanglah dan lihatlah. Sebelum menghakimi, pahamilah. Karena apa yang tampak sederhana di pesantren seringkali menyimpan kebijaksanaan yang tak ternilai.

Pesantren tidak sedang mempertahankan masa lalu, melainkan sedang menjaga masa depan bangsa.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

 

Tentang Penulis:

Assoc. Prof. Dr. Zahra Khusnul Lathifah, M.Pd.I., M.C.E.

Dosen dan Peneliti Manajemen Pesantren,

Dekan Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru Universitas Djuanda.

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#bogor #UNIDA #pesantren