RADAR BOGOR - Perhatian untuk warga Bogor, penggunaan galon tua untuk air minum bisa membahayakan kesehatan. Bahkan dampak terburuknya bisa mengganggu sistem hormon manusia.
Hal itu diungkapkan oleh Dosen Fakultas Kedokteran IPB University Bogor, dr Widya Eka Nugraha. Galon air minum umumnya terbuat dari palstik polikarbonat.
“Dalam kondisi normal, galon yang masih layak pakai, bersih, tidak rusak, dan digunakan sesuai aturan seharusnya tetap aman untuk air minum,” jelas Eka pada Radar Bogor.
Kondisi berbanding terbalik pada galon yang sudah uzur. Wadah air minum ini biasanya sudah tergores, retak, kusam atau bahkan sering terpapar panas matahari.
Eka menyebut ada dua resiko utama, jika galon dengan kondisi tersebut masih digunakan. Pertama sangat mudah terkontaminasi dengan kuman.
“Kedua, risiko migrasi bahan kimia dari kemasan ke air, misalnya bisfenol A atau BPA pada plastik polikarbonat,” ujar Eka, Kamis, 12 Mei 2026 sore.
BPOM disebut Eka sudah menetapkan batas migrasi BPA dalam kemasan pangan. Jumlahnya yaitu sebear 0,6 Bagian Per Juta atau BPJ.
Baca Juga: Rupiah Ditargetkan Kembali ke Rp15.000 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Beberkan Strategi Pemerintah
BPA sendiri dikenal sebagai salah satu bahan kimia yang dapat menganggu sistem hormon pada manusia. Hal ini biasa disebut dengan Endocrine Disrupting Chemical.
“Dan pubertas dikendalikan oleh sistem hormon, secara biologis memang ada alasan mengapa paparan bahan seperti BPA perlu diperhatikan, terutama pada anak-anak,” terang Eka.
Namun kondisi tersebut bukan jadi penyebab utama anak-anak menjadi pubertas lebih dini. Baginya teori tersebut tidak tepat.
“Bukti ilmiah pada manusia masih belum cukup kuat untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat langsung seperti itu,” terang Eka dikonfirmasi lebih lanjut.
Baca Juga: BPOM Bongkar 22 Obat Herbal Berbahaya, Ada yang Bisa Picu Stroke hingga Kematian Mendadak
Sejumlah penelitian disebut Eka menemukan adanya hubungan antara BPA dan proses pubertas manusia. Tapi hasilnya tidak selalu konsisten.
Sebab pubertas dini pada anak juga dipengaruhi oleh banyak faktor. Pertama karena genetik, status gizi, obesitas, pola makan, hingga faktor psikososial.
Tidak hanya itu Eka juga menjelaskan penggunaan galon tua juga bisa menyebabkan gangguan kesehatan lain. Misalnya infeksi bakteri e coli.
“Kalau berkaitan dengan BPA bisa berisiko mengalami hipertensi, DM tipe 2, penyakit jantung koroner, dan gangguan endokrin,” terang Eka.
Baca Juga: Sidak 4 Warung Klontong di Kota Bogor, 16 Ribu Batang Rokok Ilegal Disita
Belum ada standar pasti mengenai usia maksimal penggunaan galon. Meski ada anggapan galon hanya layak digunakan setahun atau 40 kali isi ulang, kondisi fisik galon tetap menjadi faktor utama.
“Usia layak pakai galon sangat bergantung pada bahan, proses produksi, frekuensi penggunaan ulang, proses pencucian, cara distribusi, dan cara penyimpanan,” jelasnya.
Karena itu masyarakat diminta tidak hanya berpatokan pada usia galon. Galon yang sudah retak, banyak goresan, berubah warna, kusam berat, berbau, bocor, atau tutupnya tidak rapat sebaiknya tidak digunakan lagi.
Baca Juga: Bansos 2026 Rp600.000 Cair di BRI dan BNI, KPM NTB hingga Yogyakarta Bisa Tarik Tunai
Galon juga disarankan tidak disimpan di tempat panas, terkena sinar matahari langsung, atau dekat bahan kimia rumah tangga.
Selain risiko BPA, galon tua juga disebut berpotensi menjadi sumber kontaminasi bakteri. Terutama jika pencuciannya tidak baik atau dispenser jarang dibersihkan.
“Akibatnya bisa berupa keluhan saluran cerna seperti sakit perut, mual, diare, atau muntah, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah,” bebernya.
Kesadaran masyarakat terkait kondisi fisik galon juga dinilai masih perlu ditingkatkan. Banyak warga disebut lebih fokus pada merek air minum dibanding kelayakan wadahnya.
“Jangan hanya bertanya airnya merek apa, tetapi juga galonnya masih layak atau tidak,” ujar Eka.
Ia menyarankan masyarakat memilih galon dari produsen resmi, memastikan segel masih baik, serta menghindari galon yang terlihat sangat aus.
Dispenser juga diminta rutin dibersihkan agar tidak menjadi sumber kontaminasi tambahan. Dengan begitu keamanan air minum keluarga tetap terjaga.
“Galon yang baik, pengolahan air minum yang terstandar, penyimpanan yang benar, dan dispenser yang bersih, kombinasi penting untuk menjaga keamanan air minum keluarga,” pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga