RADAR BOGOR - Perubahan iklim dan alih fungsi lahan dinilai Pakar IPB University Bogor berpotensi meningkatkan intensitas pertemuan antara ular dan manusia.
Menurut Pakar IPB University Bogor, perubahan iklim, suhu, pola curah hujan, hilangnya habitat alami, hingga pergeseran sumber pakan membuat sejumlah spesies ular semakin sering berpindah ke wilayah yang dekat dengan aktivitas manusia.
Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Mirza Dikari Kusrini, menjelaskan bahwa perubahan iklim berdampak langsung terhadap perilaku, persebaran, serta pola pergerakan ular di alam.
Baca Juga: POW Kota Bogor Gelar Pagelaran Budaya Meriah di AEON Sentul, Rayakan HJB ke-544 dan HUT ke-74
Menurutnya, ular merupakan hewan ektotermik yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan untuk mengatur suhu tubuh.
Kenaikan suhu rata-rata dapat mengubah pola aktivitas harian maupun musiman ular, mulai dari waktu berburu, reproduksi, hingga pemanfaatan habitat.
Selain itu, perubahan pola hujan, banjir, kekeringan berkepanjangan, dan berbagai cuaca ekstrem turut menurunkan kualitas habitat alami.
Kondisi tersebut mendorong ular mencari lokasi baru yang masih menyediakan tempat berlindung dan sumber makanan yang memadai.
Permukiman manusia menjadi salah satu lokasi yang menarik bagi ular karena banyak menyediakan sumber pakan seperti tikus, ayam, kolam, saluran drainase, serta area persembunyian yang aman.
Ketika populasi mangsa seperti rodensia dan amfibi berpindah akibat perubahan lingkungan, ular pun cenderung mengikuti pergerakan mangsanya.
Prof Mirza menilai fenomena pergeseran habitat ular sangat mungkin terjadi di Indonesia. Kenaikan suhu dan perubahan pola hujan diperkirakan memengaruhi distribusi berbagai spesies, terutama yang hidup di kawasan pertanian dan pinggiran permukiman.
Beberapa jenis ular yang perlu diwaspadai antara lain ular kobra, welang, dan weling yang bergantung pada hewan pengerat sebagai sumber makanan. Pergeseran habitat spesies-spesies tersebut berpotensi meningkatkan interaksi dengan manusia.
Meski demikian, Prof Mirza menegaskan bahwa alih fungsi lahan dan fragmentasi habitat sering kali menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan perubahan iklim dalam memicu konflik antara manusia dan ular.
Hilangnya habitat alami memaksa ular mencari tempat berlindung, pasangan, dan sumber makanan di kawasan yang lebih dekat dengan permukiman.
Untuk mengurangi risiko konflik maupun kasus gigitan ular, masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, menutup celah pada bangunan, serta tidak mencoba menangkap atau membunuh ular tanpa keahlian khusus.
Baca Juga: Kanada Gagal Maksimalkan Dominasi, Irlandia Paksa Hasil Imbang 1-1 di Montreal
Ia menekankan bahwa upaya mitigasi yang tepat bukan dengan menghilangkan keberadaan ular, melainkan meminimalkan risiko interaksi berbahaya sambil tetap menjaga peran ekologisnya. Ular merupakan predator alami yang berfungsi mengendalikan populasi tikus dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Selain itu, pemerintah didorong untuk memperkuat sistem penanganan konflik satwa liar, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam menangani kasus gigitan ular, serta mendukung penelitian dan pengembangan antivenom maupun Venom Detection Kits (VDK) guna meningkatkan efektivitas penanganan korban gigitan ular.
Perlindungan habitat dan koridor ekologis juga dinilai penting untuk mengurangi perpindahan satwa liar ke kawasan permukiman.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga