RADAR BOGOR – Bogor yang selama ini dikenal berhawa sejuk kini mulai terasa lebih panas. Dalam beberapa pekan terakhir, suhu udara atau cuaca pada siang hari bahkan mencapai 32–34 derajat Celsius, disertai curah hujan yang lebih rendah dari biasanya.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University Dr. Givo Alsepan menjelaskan, bahwa kondisi cuaca Bogor tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni fenomena El Nino, perubahan iklim global, dan pesatnya urbanisasi yang mengurangi ruang terbuka hijau.
Menurutnya, secara klimatologis suhu rata-rata di Bogor berkisar 25,5–27 derajat Celsius. Namun, perkembangan El Nino di Samudra Pasifik menyebabkan berkurangnya pembentukan awan di Indonesia sehingga sinar matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi.
Baca Juga: 8 Syarat Jadi Petugas IT di RS Annisa Bogor, Lulusan Fresh Graduate Bersertifikat Bisa Daftar
Fenomena ini diperkirakan masih berlangsung hingga akhir 2026.
Meski demikian, Dr. Givo menegaskan bahwa El Nino hanya menjadi pemicu jangka pendek. Peningkatan suhu yang terus terjadi sejak sekitar tahun 1990 menunjukkan adanya dampak perubahan iklim global yang membuat tren pemanasan di Bogor terus meningkat.
Selain itu, berkurangnya ruang hijau akibat pembangunan juga memicu fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan.
Baca Juga: Lowongan Kerja di SPPG Citeureup Bogor Untuk 2 Posisi, Berikut Syarat dan Informasi Lengkapnya
Penelitian menunjukkan selisih suhu antara kawasan perkotaan dan pinggiran Bogor meningkat dari sekitar 1,36 derajat Celsius pada 1990 menjadi hampir 2,26 derajat Celsius pada 2017.
Ia menilai upaya penghijauan, penambahan ruang terbuka hijau, serta pembangunan yang ramah iklim menjadi langkah penting untuk menekan kenaikan suhu di masa mendatang dan menjaga kenyamanan lingkungan Kota Bogor.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga