RADAR BOGOR – Pertumbuhan ekonomi global ke depannya masih melambat. Kondisi itu bakal berdampak terhadap fiskal nasional.
Meliputi aspek penerimaan, pengeluaran, dan pinjaman.
Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) alias USD bisa memicu pembengkakan utang.
Data-data di negara maju maupun berkembang menunjukkan bahwa proyeksi dua tahun mendatang terjadi perlambatan pertumbuhan (ekonomi).
"Melihat dari sektor keuangan, ada outflow di pasar SBN (surat berharga negara) sebesar Rp 7,1 triliun di Juni 2024," ungkap Imaduddin Abdullah selaku Direktur Kolaborasi Internasional Institute for Development of Economics and Finance atau Indef ketika diskusi di Jakarta, Kamis (4/7).
Bahkan, di pasar saham per 21 Juni, terjadi capital outflow sebanyak Rp 1,98 triliun.
Sejalan dengan sentimen depresiasi rupiah yang cukup dalam 6,51 persen.
Jika dibandingkan dengan yen Jepang (JPY) atau baht Thailand (THB), memang penurunan nilai tukar mata uang RI relatif lebih baik.
Namun, jika disandingkan dengan rupee India (INR), rupiah hanya minus 0,4 persen.
Menurut Imaduddin, transmisi gejolak ekonomi terhadap risiko fiskal bisa dilihat dari tiga aspek.
Yaitu, penerimaan, pengeluaran, dan pinjaman. Dari sisi penerimaan, gejolak ekonomi mengakibatkan penurunan ekspor.
Tentu pajak-pajak yang berkaitan dengan kegiatan ekspor akan merosot.
Di saat yang sama, pengeluaran meningkat. Jadi, kebutuhan stimulus dan jaminan sosial meningkat.
"Dan, ini akhirnya juga menjadi sebuah tantangan buat pembiayaan karena di saat yang bersamaan penerimaan mengalami penurunan," jelasnya.
Di sisi lain, ketidakpastian global membuat biaya pinjaman meroket.
Menurut dia, muncul risiko kurs yang wajib ditanggung maupun diantisipasi pemerintah melalui manajemen fiskal ke depannya.
Nilai tukar rupiah diprediksi masih tertekan memasuki kuartal III 2024 dan mungkin baru turun menjelang akhir tahun.
Dengan asumsi The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuannya.
Equities Specialist DBS Group Research Maynard Arif menyatakan, bank sentral AS itu bakal memilih untuk soft-landing.
Bukan hanya inflasi sebagai acuan, tetapi juga memperhatikan data-data lainnya seperti nonfarm payrolls dan sentimen pemilu di semester kedua.
Pemilu akan memberikan dampak terhadap perekonomian AS.
Sebab, mungkin akan ada perubahan policy ketika pemimpinnya baru.
"Dan, kami melihat sebetulnya inflasi mungkin cukup sulit untuk mencapai 2 persen," kata Arif dalam diskusi Navigating the Currency Volatility: Exploring Economic Projections and FX Investments.
DBS Group Research memproyeksikan The Fed dua kali menurunkan suku bunga pada semester kedua tahun ini.
Sejalan dengan pelemahan perekonomian AS. USD juga diperkirakan mencapai puncaknya di kuartal III 2024.
Perbedaan suku bunga acuan antara The Fed dan Bank Indonesia (BI) yang cukup tipis mengakibatkan investor gampang menarik dana dan memindahkannya ke negara lain.
Bersamaan dengan itu, hampir seluruh mata uang dunia melemah terhadap USD.
Lebih lanjut ia mengatakan, Bank Indonesia tetap pertahankan suku bunga acuannya di level 6,25 persen sampai dengan akhir tahun.
Bank sentral baru akan memangkas Bank Indonesia rate ketika Fed funds rate turun lebih dulu. (han/c14/dio)
Nilai Tukar Rupiah terhadap USD Sepekan Terakhir
4 Juli: Rp 16.341
3 Juli: Rp 16.387
2 Juli: Rp 16.384
1 Juli: Rp 16.355
28 Juni: Rp 16.394
27 Juni: Rp 16.421
Sumber: Jisdor Bank Indonesia
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim