RADAR BOGOR - Hamparan sawah dan lahan pertanian seolah menjadi pesona tersembunyi yang memanjakan mata begitu menyusuri Desa Cikaso. Berada di wilayah Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, desa ini mungkin belum banyak dikenal.
Berada di wilayah dataran rendah yaitu sekitar 500 mdpl, Desa Cikaso dianugerahi lahan subur yang kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi lahan pertanian untuk mengembangkan desa tersebut.
Bahkan, potensi pertanian dan wisata yang dibangun warga berhasil mendapatkan prestasi luar biasa, salah satunya adalah Desa Cikaso berhasil menjadi Juara 2 dalam ajang Nugraha Karya Desa BRILiaN Tahun 2023.
Baca Juga: 106 Qori dan Qoriah Ikuti Lomba MTQ Tingkat Kecamatan Cibungbulang Bogor
Menurut Saparudin, Ketua BUMDesa Sangga Emas milik Desa Cikaso, BUMDesa ini baru berdiri sejak tahun 2020 lalu. Di bawah naungan BUMDesa Sangga Emas, Desa Cikaso memiliki sederet unit usaha masyarakat unggulan yang membuatnya menjadi desa mandiri.
Berbekal potensi utama lahan pertanian seluas 107 hektar, mereka pun berupaya melakukan pengolahan berbagai hasil bumi.
“Berangkat dari potensi pertanian, kita bekerja sama dengan Dinas Pertanian setempat untuk mengelola lahan. Kebetulan waktu itu kita dipercaya mengelola lahan hortikultura seluas 42,5 hektar. Setelah itu, dari Dinas Pertanian kita juga mendapat bantuanberupa pabrik untuk menggoreng bawang dan pabrik pengolahan padi," ungkap Saparudin.
Baca Juga: Optimalkan Informasi Pilkada 2024, KPU Kota Bogor Lakukan Cara Ini
Pabrik pengolahan padi ini juga sejalan dengan program untuk menciptakan ketahanan pangan dari pemerintah sehingga kebutuhan beras untuk warga bisa kita diproduksi sendiri hingga 6 ton per bulan di lumbung desa.
Pertanian bawang juga menjadi salah satu hasil bumi unggulan yang berhasil dikelola dengan baik oleh masyarakat setempat.
“Hasil dari tanaman bawang itu diolah menjadi bawang goreng yang kita kemas denganmenarik agar meningkatkan daya jual. Lalu dipasarkan ke toko-toko setempat, pasar, dan secara online. Untuk produk bawang goreng kami ini ada pilihan rasa, yaituoriginal, pedas dan udang sehingga berbeda dari bawang goreng kebanyakan,” lanjut Saparudin.
Baca Juga: Kebakaran Asrama Ponpes di Sukamakmur Bogor, Damkar Kesulitan Padamkan Api
Hasil pertanian lain yang juga menjadi unggulan Desa Cikaso adalah budidaya jamur tiram. Dikelola oleh kelompok usaha para petani yang juga di bawah naungan BUMDesa, hasil panen jamur tiram ini tidak hanya dipasarkan di wilayah Kuningan saja, tapi juga dikirim hingga ke kota lain seperti Brebes dan Jakarta.
Sejalan dengan mata pencaharian warga Desa Cikaso yang mayoritas hidup dari sektor pertanian, kebutuhan akan pupuk pertanian jadi hal yang sangat penting.
Peluang inijuga yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok petani dalam memproduksi pupuk hayati secara mandiri.
Baca Juga: Kebakaran Asrama Ponpes di Sukamakmur Bogor, Damkar Kesulitan Padamkan Api
“Tadinya itu kita sempat mengalami kesulitan karena pupuk dan obat pertanian itumahal. Tapi kemudian ada inisiatif dari kelompok petani melakukan uji coba membuatpupuk hayati bersama Dinas Pertanian dan ternyata berhasil. Jadi kami punya produkpupuk penyubur, fungisida dan insektisida yang tak hanya digunakan para petani Desa Cikaso saja tapi juga petani lain dari desa sekitar,” jelas Saparudin.
Pengembangan Sektor Pariwisata untuk Maksimalkan Potensi Desa
Tak hanya terbatas pada pengolahan hasil pertanian, BUMDesa Sangga Emas juga menangkap peluang sektor pariwisata yang ada di Desa Cikaso. Sawah Lope adalah salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi oleh masyarakat di sekitar.
“Waktu pandemi 2019, mobilitas warga di desa kami kan terbatas. Akhirnya orang-orang banyak yang berjemur dan mencari hiburan di kawasan sawah itu. Dari situ kami berpikir kreatif untuk dijadikan wisata dan akhirnya terbentuklah Sawah Lope. Konsepnya wisata pertanian yang dekat dengan alam, sekarang sudah semakindikembangkan dengan membangun gazebo, restoran, permainan anak dan kolamrenang juga ada,” cerita Saparudin.
Baca Juga: Kalahkan Kota Bandung, Kota Bogor Juara GSI Jawa Barat 2024
Inovasi dan kreativitas yang terus dibuat oleh masyarakat Desa Cikaso inilah yang membuat berhasil menjadi Juara 2 Desa BRILiaN Tahun 2023.
Hidayat Noor, selaku Kepala Desa Cikaso menambahkan, keberhasilan tersebut tidakterlepas dari peran aktif BUMDesa dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami membangun desa wisata ini dari nol secara mandiri. Kuncinya adalahmengoptimalkan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola desa. Pemberdayaan itujuga semuanya kembali dinikmati oleh masyarakat karena sampai saat ini ada sekitar90-an orang yang ikut dipekerjakan mengelola BUMDes, sehingga membantu ekonomimasyarakatnya juga,” ungkapnya.
Baik Hidayat maupun Saparudin mengaku bantuan dari BRI berperan penting dalampengembangan dan pembangunan Desa Cikaso yang lebih maju.
Apresiasi pengembangan desa dari BRI sebesar Rp750 juta dialokasikan untuk mengembangkanbumi perkemahan seperti membangun villa dan gazebo, serta pembuatan kolam renangdi Sawah Lope.
“Sampai saat ini kami juga tetap mendapatkan pendampingan dan pelatihan dari BRI untuk menambah ilmu. Bagi saya, ini merupakan bantuan yang tak ternilai,” ungkap Saparudin.
Selain itu, ada juga bantuan sarana prasarana dari BRI untuk pengembangan BUMDesadan klaster usaha di desa.
Desa Cikaso saat ini pun sudah mulai bertransformasi dalam dunia digital denganmembuat website desa CIKASO.GODESA.ID. Digitalisasi dalam keuangan juga didukungpenuh oleh BRI dengan kehadiran agen BRILink dan agen UMi yang membantutransaksi keuangan warga.
Program Desa BRILiaN ini telah diinisiasi oleh BRI sejak 2020. Desa BRILiaN merupakanprogram inkubasi desa yang bertujuan untuk menghasilkan role model dalampengembangan desa. Hingga Juni 2024, program Desa BRILiaN telah diikuti sebanyak 3.602 desa yang aktif berinisiatif serta berkomitmen maju melalui program-program yang telah direncanakan.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan bahwa Desa BRILiaN terbukti mendongkrak aktivitas ekonomi yang berada di desa-desa.
“Dengandilakukan pembinaan melalui program Desa BRILiaN nasabah penabung meningkatdrastis. Tak hanya itu, masyarakat desa yang semula belum berani mengambil kreditjuga mendapatkan pembinaan dalam progam ini. Dari sana, wirausaha yang inginmengembangkan usahanya mulai sadar untuk merapikan administrasi dan mengembangkan kewirausahaannya agar layak mendapatkan kredit dari perbankan,” ujar Sunarso.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga