Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

BRI Punya Modal Kuat, Laba Dalam Bentuk Dividen Layak Diberikan

Yosep Awaludin • Senin, 2 September 2024 | 08:31 WIB
Direktur Utama BRI Sunarso pada konferensi pers kinerja keuangan Triwulan II 2024 di Jakarta pada Kamis, 25 Juli 2024.
Direktur Utama BRI Sunarso pada konferensi pers kinerja keuangan Triwulan II 2024 di Jakarta pada Kamis, 25 Juli 2024.

RADAR BOGOR-Permodalan perseroan yang masih kuat, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI akan tetap membagikan dividen dengan menjaga rasio pembagian dividen yang ideal.

Dalam acara Public Expose Live 2024 di Jakarta pada Kamis, 29 Agustus 2024, Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan hal itu.

Sunarso menyatakan bahwa pembentukan Holding Ultra Mikro (UMi) bersama PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Pegadaian memberikan tambahan modal sebesar Rp41 triliun kepada BRI.

Selain itu, pada akhir Triwulan II 2024, rasio kecukupan modal BRI sebesar 25,13%, yang berarti bahwa BRI tidak perlu menahan laba.

"Dalam kapasitas saya sebagai CEO, saya percaya bahwa, selama lima tahun ke depan, berapa pun keuntungan BRI, layak didistribusikan dalam bentuk dividen. Untuk alasan apa? untuk memperkuat modal, tidak perlu menahan laba," katanya.

Menurut Sunarso, otoritas, termasuk Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), akan menentukan bagaimana dividen BRI akan dibagi.

"Dividen BRI pasti di level yang tinggi, karena itu tidak masalah bagi permodalan BRI," ujarnya.

Jika rasio dividend payout tinggi, itu harus. Namun, bagaimana membayarnya? Apakah langsung atau dicicil secara bertahap? Menurutnya, otoritas harus menyetujuinya.

Sunarso juga menunjukkan optimisme BRI untuk masa depan. Optimisme ini tumbuh dengan sehat dan berkelanjutan meskipun BRI Group mencatatkan kinerja positif hingga Triwulan II 2024.

Hingga akhir Triwulan II 2024, BRI secara konsolidasi berhasil mencetak laba Rp29,90 triliun melalui pertumbuhan yang hati-hati dan cermat. Penyaluran kredit BRI mencapai Rp1.336,78 triliun, tumbuh 11,20% setiap tahun (yoy).

Sebagian besar penyaluran kredit BRI masih berasal dari segmen UMKM, yang mencapai 81,96% dari total penyaluran kredit, atau sekitar Rp1.095,64 triliun.

Dengan peningkatan dua digit dalam penyaluran kredit, aset BRI tercatat meningkat 9,54% yoy menjadi sebesar Rp1.977,37 triliun. Perseroan mampu mempertahankan kualitas kredit yang disalurkan melalui peningkatan kredit yang cermat dan selektif.

Sunarso menyatakan bahwa rasio pinjaman dan risiko (LAR) tercatat naik atau turun, dari 14,94% pada akhir Triwulan II 2023 menjadi 12,00% pada akhir Triwulan II 2024.

Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) berada di kisaran 3,05% dengan rasio NPL coverage sebesar 211,60%.

Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI tercatat tumbuh 11,61% yoy menjadi Rp1.389,66 triliun. Dana murah, atau CASA (Tabungan dan Giro), masih mendominasi struktur DPK BRI, dengan porsi CASA mencapai 63,17% dari total DPK.

"BRI optimistis dapat terus menorehkan kinerja positif dan berkelanjutan dengan fundamental keuangan yang baik, kemampuan BRI untuk melayani masyarakat yang semakin luas, ditambah dengan adanya sumber pertumbuhan baru dari holding ultra mikro," tutupnya. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#deviden #bri #modal