Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Aset BSI Tumbuh 48% Dalam Tiga Tahun Karena Kinerja Solid dan Berkelanjutan

Yosep Awaludin • Senin, 30 September 2024 | 13:53 WIB
Hery Gunardi, Direktur Utama BSI.
Hery Gunardi, Direktur Utama BSI.

RADAR BOGOR—Asset PT Bank Syariah Indonesia Tbk, juga dikenal sebagai BSI, telah meningkat sebesar 48 persen dalam tiga tahun terakhir, dari 2020 hingga Desember 2023.

Pada kuartal kedua tahun 2024, BSI berhasil menorehkan aset sebesar Rp360,85 triliun, menempatkannya di posisi ke enam di Indonesia dan menjadikan BSI sebagai pemimpin di antara bank medium-sized.

Menjaga rasio keuangan DPK, pembiayaan, efisiensi beban biaya, dan optimalisasi dana murah adalah cara BSI menjaga dan meningkatkan kinerja yang solid, sehat, dan berkelanjutan ini. Dibantu oleh berbagai e-channel BSI yang meningkatkan pendapatan berdasarkan biaya.

Kinerja aset juga didukung oleh peningkatan kepercayaan nasabah terhadap BSI dalam bentuk pengelolaan dana pihak ketiga (DPK) dengan 11,86% selama tiga tahun dari 2021 hingga 2023.

Sampai Juni 2024, pengelolaan DPK BSI terus meningkat 17,50%, mencapai Rp296,70 triliun. Selain itu, kinerja tabungan naik 16,09% ke level Rp128,78 triliun, di mana sekitar 39% atau Rp49,96 triliun merupakan tabungan wadiah di mana perusahaan tidak memberikan hasil untuk menjaga tingkat biaya dana. Seiring dengan peningkatan jumlah nasabah menjadi 20,46 juta, likuiditas BSI juga meningkat.

Sebagai contoh, aset BSI pada akhir 2020 sebesar Rp239 triliun, tetapi tumbuh menjadi Rp353 triliun pada akhir 2023, menunjukkan kemampuan BSI untuk berkembang secara pesat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi negara.

"Di industri perbankan, ukuran sangat penting karena kapasitas intermediasi akan ditingkatkan oleh modal dan aset yang lebih besar," kata Hery Gunardi, Direktur Utama BSI.

Melalui kinerja bisnis dan keuangan yang tetap stabil, sehat, dan berkelanjutan, perusahaan berkomitmen untuk terus memberi manfaat berkelanjutan dan mendukung pertumbuhan ekonomi bangsa.

"Selain aset, berbagai indikator utama seperti DPK, laba bersih, dan rasio CASA BSI juga tumbuh secara positif dan berkelanjutan. Pertumbuhan aset yang solid ini menjadi bukti bahwa BSI sebagai bank syariah mampu bersaing dan unggul di tengah dinamika industri yang semakin kompetitif," ujar Hery.

Dengan mempertahankan rasio keuangan DPK, pembiayaan, efisiensi beban biaya, dan optimalisasi dana murah, BSI berhasil menjaga dan meningkatkan kinerja yang solid, sehat, dan berkelanjutan ini. Dibantu oleh berbagai e-channel BSI yang meningkatkan pendapatan berdasarkan biaya.

Pada kuartal kedua tahun 2024, BSI berhasil mempertahankan kinerja keuangan dan bisnis yang sehat dan berkualitas di tengah makroekonomi yang cukup sulit, yang ditandai dengan kenaikan suku bunga acuan seperti BI Rate, yang naik ke level 6,25% pada awal kuartal kedua tahun 2024 untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Output BSI Kuartal II 2024

Kinerja tersebut adalah hasil dari upaya manajemen untuk menerapkan strategi bisnis perusahaan secara konsisten. Manajemen fokus pada pertumbuhan jangka panjang segmen ritel, konsumer, dan UMKM dari sisi dana dan pembiayaan.

Saat ini, komposisi dana murah adalah 62,05 persen, dan komposisi pembiayaan adalah 71,73 persen di segmen ritel dan konsumer, termasuk UMKM. Di sisi lain, biaya overhead dan kualitas kredit tetap stabil.

Selain itu, Hery menyatakan bahwa BSI masih dapat menumbuhkan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp296,70 triliun, naik 17,50% di tengah likuiditas yang ketat akibat kenaikan suku bunga acuan.

Selain itu, kinerja tabungan meningkat 16,09% ke level Rp128,78 triliun. Sekitar 39 persen, atau Rp49,96 triliun, merupakan tabungan wadiah, di mana perusahaan tidak memberikan hasil untuk menjaga tingkat biaya tabungan.

Kinerja pembiayaan BSI, yang tumbuh di atas rata-rata industri perbankan nasional dengan kualitas yang terjaga, didukung oleh peningkatan likuiditas, yang mencapai 20,46 juta pada Juni 2024. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#BSI #kuartal kedua #aset