Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Pemberdayaan BRI Bantu Pengolahan Produk Kearifan Lokal Pisang Sale Mades Terus Berkembang

Yosep Awaludin • Rabu, 2 Oktober 2024 | 13:52 WIB
Ketua Kelompok Pisang Sale Mades, Ni Made Suryani, berhasil mengubah pisang menjadi produk cemilan lokal seperti Pisang Sale
Ketua Kelompok Pisang Sale Mades, Ni Made Suryani, berhasil mengubah pisang menjadi produk cemilan lokal seperti Pisang Sale

RADAR BOGOR—Ketua Kelompok Pisang Sale Mades, Ni Made Suryani, berhasil mengubah pisang menjadi berbagai produk cemilan lokal pisang sale, yang mendorong pertumbuhan ekonomi warga setempat. Ini dimulai dengan gagasan memanfaatkan kearifan lokal.

Tiga jenis keripik utama dibuat oleh klaster ini: keripik singkong, ubi talas, dan keripik pisang sale. Salah satu kelompok UMKM yang dibangun oleh BRI dalam program Klasterku Hidupku adalah klaster pengolahan hasil pertanian, terutama pisang.

Ni Made menceritakan bagaimana dia pertama kali membuat pisang sale. Pada 2015, dia memiliki ide untuk mengolah buah pisang yang banyak di sekitar rumahnya di daerah Kabupaten Parigi, Sulawesi Tengah.

Dia mengatakan bahwa buah pisang pada saat itu terkesan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat, sepertinya hanya dibuang-buang.

Misalnya, dibiarkan matang di pohon untuk makanan burung-burung jika tidak habis dimakan. Selain itu, ternak masyarakat hanya makan buah pisang yang dipotong-potong jika tersedia banyak.

Dari sana, ia dan beberapa warga lainnya mengamati pengolahan pisang untuk meningkatkan nilai guna.

"Setelah percobaan mengolahnya menjadi kue, keripik, kemudian saya dan warga lain juga mencoba mengolahnya menjadi pisang sale," tuturnya.

Pisang Sale Mades memiliki rasa manis karena madu, hasil fermentasi pisang, yang membuatnya enak, gurih, dan lembut.

Klaster Pisang Sale Mades menghasilkan puluhan juta dolar setiap bulan dan telah menjadi terkenal di masyarakat lokal dan di banyak kota di Indonesia.

Selain itu, keberhasilan ini tidak terlepas dari upaya yang terus-menerus dari kelompok untuk memastikan kualitas produk dan inovasi. Mereka juga sering menampilkan barang-barang mereka di pameran regional dan nasional.

Dengan partisipasi dalam pameran, kelompok dapat memperluas jaringan pemasaran dan memperkenalkan produk mereka kepada khalayak yang lebih luas.

Perkembangan ini terjadi meskipun BRI mendukung kelompok UMKM. "Tentunya saya banyak belajar setelah saya dan pembuat pisang sale lainnya bergabung dengan BRI," tutur Ni Made.

Ni Made merasa bahwa BRI membantu memasarkan produk mereka. Misalnya, ketika ada acara tertentu, BRI mengikutsertakan produknya dalam pameran atau bahkan dalam bingkisan suvernir.

Menurutnya, pengalaman pelatihan dan banyak kemudahan yang ditawarkan BRI membuat pemasaran produk Pisang Sale semakin dikenal masyarakat. Selain itu, dia mengantisipasi peningkatan penjualan karena ekspornya.

Menurut Supari, Direktur Bisnis Mikro BRI, perusahaan berkomitmen untuk memberikan pendampingan dan pemberdayaan melalui program Klaster Usaha "Klasterku Hidupku".

Dengan demikian, usaha kecil dan menengah (UMKM) dapat menjadi lebih tangguh dan naik kelas. Hingga Agustus 2024, BRI memiliki 32.449 klaster usaha di seluruh Indonesia.

Agar UMKM dapat terus berkembang, modal usaha harus disertai dengan pelatihan usaha dan program pemberdayaan lainnya.

"Usaha yang dilakukan Kelompok Petani di Tuban diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di bidang pertanian, dan tentunya akan menjadi cerita inspiratif untuk usaha lain," tutur Supari.

Sebagai bank yang berkomitmen pada pelaku UMKM, BRI telah merancang kerangka pemberdayaan yang dimulai dari fase dasar, integrasi, hingga interkoneksi, sebagai fokus strategi bisnis mikro BRI pada tahun 2024.

Ini akan berfungsi sebagai dasar bagi program pemberdayaan yang digagas BRI, seperti Desa BRILiaN, KlasterkuHidupku, Figur Inspiratif Lokal (FIL), dan LinkUMKM (platform pemberdayaan online). (***)

Editor : Yosep Awaludin
#bogor #pisang sale #bri