Kisah Sukses Taufik Hidayat, Ubah Modal Rp100 Ribu hingga Punya Pabrik Keripik Singkong Rumahan
Yosi Alfa Resti• Jumat, 15 November 2024 | 08:33 WIB
Taufik Hidayat pria asal Malang, Jawa Timur sukses menjalani usaha keripik singkong.
RADAR BOGOR - Taufik Hidayat pria asal Tajinan, Kabupaten Malang, Jawa Timur membagikan kisah sukses menjalani usaha berbahan dasar singkong. Berkat kerja kerasnya ia sukses mengubah modal Rp100 ribu hingga memiliki pabrik keripik singkong rumahan.
Ia mengungkapkan perjuangannya mengubah modal Rp100 ribu dari usaha sendiri dengan bahan singkong. Meski mendapat rintangan, Taufik tidak menyerah. Ia mencari berbagai cara agar usaha yang dijalaninya berbuah manis.
"Namanya juga usaha pasti ada banyak rintangannya," ujar Taufik Hidayat dikutip dari YouTube Kawan Dapur.
Dengan modal Rp100 ribu dan bahan ketela, ia berusaha mengatur penjualan dan bertahan dari modal minim tersebut.
"Pokoknya dengan modal yang kekurangan hanya Rp100 ribu berupa ketela tapi harus tetap bertahan dan maju. Kita harus punya strategi keuangan saat kekurangan modal, harus punya prinsip besok harus ada penghasilan berapa pun itu," ungkapnya.
Taufik menceritakan perjalanannya mengolah ketela dengan modal hanya Rp100 ribu hingga bisa memiliki pabrik rumahan sendiri.
Bermula dari rasa penasaran, Taufik membeli talas, minyak dan plastik kemasan dengan modal Rp100 ribu. Awalnya ia menggunakan talas tetapi tidak berbuah hasil.
“Awal penasaran mau produksi yang mau dijual lagi, kemudian cari awalnya coba talas. Kok talas gagal, cari lagi dapat pisang kok gagal,” cerita Taufik.
Taufik lalu mencoba singkong dan ternyata berhasil.
"Cara motongnya juga tinggal dimasukin ke alat. Dulu juga pernah jadi tukang bangunan,” kata Taufik.
Selain singkong, ia juga pernah mencoba pisang tetapi gagal.
“Modalnya berapa dicoba terus gagal terus. Pokoknya dicoba terus sampai di ketela ini dengan modal Rp100 ribu,” jelasnya.
Modal Rp100 ribu ketika itu terdiri dari minyak goreng Rp50 ribu, singkong Rp25 ribu, dan biaya kemasan serta transportasi Rp25 ribu.
Awalnya keripik singkong hasil olahannya dijajakan dengan keliling ke warung-warung.
Ia bahkan sering mendapat penolakan, di antaranya karena pengemasan yang kurang bagus, isinya sedikit hingga sudah ada produk keripik serupa sudah dijual di warung.
Taufik sempat kehabisan modal dan merantau selama kurang lebih lima bulan. Namun ia bangkit dan akhirnya sukses mengolah singkong dan memiliki pabrik rumahan sendiri dengan para karyawan.
Ia juga mempekerjakan warga sekitar maupun orang di luar desanya untuk menggarap usaha keripik singkong yang dilabeli Ikan Hias tersebut.
“Perjuangannya juga bener-bener cukup menguras tenaga dan pikiran. Ada kalanya roda kan muter ya mas, jadi dinikmati saja,” tambah Taufik.