Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Sukses Dikembangkan Jadi Cemilan Khas yang Diminati, BRI Bawa Kacang Nepo dari Desa ke Kancah Nasional

Yosep Awaludin • Senin, 25 November 2024 | 08:10 WIB
Stand Kacang Nepo pada bazar yang digelar BRI.
Stand Kacang Nepo pada bazar yang digelar BRI.

RADAR BOGOR - Desa Nepo yang terletak di Kecamatan Malusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan menyimpan sumber daya alam yang luar biasa. Salah satunya Kacang Nepo.

Ya, Suparman, pengusaha lokal yang memproduksi camilan Kacang Nepo, telah melakukan inovasi untuk mengubah hasil bumi yang biasanya dijual mentah menjadi produk yang dapat dimakan.

Dengan rasa gurih dan renyah, Kacang Nepo tersedia dalam berbagai varian, termasuk kacang disco, kacang tempe, kacang sembunyi dengan gula pasir, dan kacang crispy.

“Saya melihat banyak hasil bumi di desa ini dijual mentah ke luar, sehingga tercetus ide untuk mengolahnya agar punya nilai tambah bagi masyarakat sekitar,” kata Suparman.

Dengan kemasan awal yang sederhana, BRI mendukung produk ini di tahun 2023 melalui program Desa BRILiaN.

Pemasaran, kemasan, dan penggunaan teknologi digital adalah semua bidang yang ditawarkan oleh BRI. Pemberdayaan ini telah membuat produk Kacang Nepo tampak lebih menarik dan dikenal lebih luas.

Bisnis Suparman sangat dipengaruhi oleh Program Desa BRILiaN dari BRI. Pelatihan khusus dari BRI dan kolaborasi dengan Politeknik Pariwisata membantu Suparman meningkatkan kualitas produknya, terutama dalam hal rasa dan pengemasan, sehingga lebih kompetitif di pasar.

Selain itu, BRI menyediakan UMKM Desa Nepo dengan teknologi digital seperti QRIS, yang memperluas pasar dan memudahkan sistem pembayaran non-tunai.

Suparman menjelaskan bahwa QRIS sekarang membuat pemasaran di toko lokal dan supermarket lebih mudah.

Ia juga mengatakan bahwa pelanggan memiliki lebih banyak pilihan dan transaksi yang lebih cepat berkat teknologi ini.

Saat ini, Suparman dan beberapa warga yang ia pekerjakan bergantung pada kacang Nepo, yang menghasilkan pendapatan hingga belasan juta dolar per bulan.

Dengan meningkatnya permintaan, Suparman berharap dapat memperluas tim dan melibatkan lebih banyak warga dalam produksi.

"Harapannya, UMKM di desa kami semakin maju dan semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaatnya," tutur Suparman.

Suparman juga berharap produk lokal seperti Kacang Nepo akan menjadi ikon kuliner khas Desa Nepo yang dikenal bukan hanya di komunitas lokal.

"Kami ingin kacang dari desa ini dikemas dengan nilai tambah daripada hanya bahan mentah," tegasnya.

Dengan produk yang semakin diminati, Suparman berharap dapat memasarkan Kacang Nepo di seluruh negeri.

Pada kesempatan yang berbeda, Supari, Direktur Bisnis Mikro BRI, menegaskan komitmen BRI sebagai bank yang berfokus pada sektor UMKM.

Menurutnya, BRI tidak hanya berfungsi sebagai lembaga intermediasi keuangan, tetapi juga memberikan nilai sosial melalui pemberdayaan lembaga desa dan individu pelaku usaha.

Mengingat perkembangan desa di Indonesia relatif belum merata dan menjadi tantangan bersama, pemberdayaan wilayah pedesaan menjadi masalah yang perlu diperhatikan.

"Kami berharap program ini menjadi salah satu wadah yang dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh desa-desa dan seluruh UMKM yang ada di dalamnya, yang pada akhirnya mampu mendorong kemajuan desa di Indonesia," ujar Supari. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#bri #Kacang Nepo #sulawesi selatan