RADAR BOGOR – Bill Gates melalui lembaga Breakthrough Energy kembali melakukan investasi hijau.
Kali ini, Bill Gates menggelontorkan dana 40 juta dolar AS (sekitar Rp650 miliar) kepada start-up Deep Sky di Kanada.
Upaya itu dilakukan untuk mendukung percepatan riset penyerapan karbon langsung dari udara atau direct air capture (DAC).
Komitmen tersebut diumumkan kedua belah pihak pada Rabu (18/12) waktu setempat.
CEO Deep Sky Damien Steel menjelaskan, proyek itu dilaksanakan dengan pendekatan paralel.
Tujuannya, mempercepat proses penyerapan meskipun memunculkan risiko.
’’Biasanya, langkah-langkah ini dilakukan secara berurutan karena tidak ada yang ingin mengambil risiko. Namun, kita tidak punya cukup waktu,’’ ujar Steel.
Para ilmuwan PBB menegaskan bahwa dunia perlu menghilangkan miliaran ton karbon dioksida dari atmosfer setiap tahun.
Hal itu dilakukan untuk membatasi dampak perubahan iklim.
Selain mengurangi emisi saat ini, langkah tersebut membutuhkan inovasi seperti DAC, yang dianggap mampu menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar dari udara sekitar.
Namun, teknologi itu terkendala biaya tinggi, konsumsi energi besar, dan lambatnya proses pengembangan hingga skala komersial.
Untuk mempercepat pengembangan, Deep Sky kini membangun fasilitas uji coba bernama ’’Alpha’’ di Alberta, Kanada.
Fasilitas tersebut akan menjadi tempat bagi delapan perusahaan untuk menguji teknologi DAC mereka dan menyempurnakannya sebelum diadopsi secara luas.
Kanada, sebagai salah satu produsen minyak terbesar dunia, juga memanfaatkan fasilitas itu untuk menguji kinerja DAC di iklim dingin.
Langkah tersebut sejalan dengan komitmen negara itu untuk mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 50 persen pada 2035.
Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi batu loncatan penting dalam mempercepat adopsi teknologi hijau yang efektif.
Mario Fernandez, kepala Breakthrough Energy Catalyst, menegaskan pentingnya dukungan terhadap teknologi hijau yang masih dalam tahap awal pengembangan.
’’Misi utama Catalyst adalah menurunkan green premium dan mendorong teknologi ini menuju profitabilitas,’’ katanya, sambil mengakui bahwa DAC masih menghadapi banyak tantangan.
Tujuh dari delapan perusahaan yang akan berpartisipasi dalam fasilitas itu telah diumumkan, termasuk Airhive, Mission Zero, Skyrenu, Skytree, NEG8 Carbon, Greenlyte, dan Phlair.
Uji coba tersebut diharapkan dapat menghasilkan teknologi DAC yang lebih efisien dan siap untuk diimplementasikan dalam skala komersial. (din/c7/bay)
Sejumlah Investasi Hijau Bill Gates
1. Commonwealth Fusion System
Investasi 115 juta dolar AS (Rp 1,8 triliun) untuk pengembangan pembangkit listrik energi fusi.
Baca Juga: Masuki Libur Nataru, Pemesanan Hotel di Kawasan Puncak Bogor Masih Sepi
2. KoBold Metals
Investasi 5 juta dolar AS (Rp 81 miliar). KoBold menggunakan AI untuk menemukan endapan logam seperti litium, kobalt, dan nikel; bahan baku energi terbarukan untuk panel surya; serta baterai kendaraan listrik.
3. Mainspring Energy
Investasi 83,3 juta dolar AS (Rp 1,3 triliun). Mainspring mengembangkan generator linier yang mampu menggunakan berbagai bahan bakar seperti biogas dan hidrogen hijau.
4. Fervo Energy
Investasi 11 juta dolar AS (Rp 179 miliar). Fervo merupakan perusahaan yang memiliki teknologi pengeboran sumur horizontal. Tujuannya, mencari energi panas bumi sebagai sumber listrik bebas karbon.
5. Koloma
Investasi 55,7 juta dolar AS (Rp 910 miliar). Disebut sebagai perusahaan hidrogen geologis, Koloma menerapkan teknologi untuk mendapatkan hidrogen dengan metode yang bersih, berkelanjutan, dan hemat biaya.