RADAR BOGOR - Sejumlah restoran dan kafe ternama di Kota Bogor bertumbangan atau tutup di tahun 2024 ini. Mereka tak mampu bertahan di tengah persaingan ketat dengan kafe lain.
Hal ini diungkapkan Pengamat Ekonomi, yang menyebut dalam usaha F&B nama besar tak menjadi jaminan. Karena ini merupakan usaha berbasis persaingan monopolistik atau saling mengungguli dengan produk yang nyaris sama.
"Menurut saya persaingannya yang terjadi saat ini semakin ketat. Jadi sangat mengandalkan aspek kreativitas, Itu masalahnya bukan besar atau kecilnya resto atau kafe," katanya kepada Radar Bogor, Jumat (20/12/2024).
Kafe dan restoran saat ini perlu melakukan inovasi dan kreativitas secara berkelanjutan. Ini menyesuaikan dengan perubahan selera konsumen yang sangat cepat juga.
Inovasi ini mencakup mulai dari menu, fasilitas, pelayanan, dan sebagainya. Bila manajemen resto tidak siap dengan inovasi yang membuat diferensiasi maka mau tidak mau akan digilas oleh restoran lain.
"Sekarang itu yang penting bukan pada keunggulan, tetapi bagaimana menciptakan keunggulan yang berkelanjutan, Itu kuncinya," ujarnya.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pakuan Bogor ini menganggap ini merupakan fenomena yang sering terjadi di era ketidakpastian. Sehingga hanya pelaku bisnis yang memiliki konsep yang kuat baik dalam sisi branding atau inovasi lah yang bisa bertahan lama.
Tak hanya di bisnis F&B tetapi juga dalam bisnis lain seperti supermarket besar yang kemudian tutup karena tak bisa berinovasi.
"Itu menurut saya banyak usaha pasti tidak akan bertahan lama sekarang ini. Jadi kompetisi yang kita katakan sekarang ini hyperkompetisi yang membutuhkan aspek kreatifitas dan inovasi," bebernya.
Mengenai lesunya perekonomian yang saat ini terjadi, Dewan Pakar Pusat Kajian dan Advokasi Persaingan Usaha itu menjelaskan juga memiliki sangkut paut dengan penutupan kafe dan restoran.
Sebab penopang utama konsumen resto adalah masyarakat kelas menengah sedangkan saat ini masyarakat menengah banyak yang turun kelas. Serta daya beli masyarakat menurun sehingga sangat berdampak ke usaha F&B.
"Kelas menengah itu kan mengalami kondisi pengurangan, jumlahnya menurun sekarang, kalau gak salah sekitar 9 juta orang. Ini berarti mereka jatuh miskin otomatis tidak lagi datang ke restoran," ungkapnya.
Tak hanya itu, perekomian saat ini juga membuat masyarakat cenderung menahan diri untuk tidak berbelanja berlebihan. Mereka tak lagi makan siang atau malam di restoran tapi lebih memilih membuat makann sendiri.
"Kelas menengah itu adalah unsur atau faktor yang paling besar berkontribusi pada produk domestik bruto. Keuntungan restoran itu banyak yang termobilitas dari masyarakat menengah kalau turun kelas sudah tidak ada yang belanja lagi," katanya.
Lebih jauh, selain menyarankan ke pemilik bisnis F&B untuk meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam dunia usaha. Towaf juga menyarankan agar Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk ikut terlibat agar tidak semakin banyak bisnis F&B yang tutup.
Cara yang bisa dilakukan dengan mengurangi beban pajak kepada pelaku bisnis sehingga tak terlalu banyak beban yang harus ditanggung. Terlebih dengan naiknya PPN menjadi 12% menjadi pukulan cukup telak bagi pelaku bisnis.
Mereka mesti merogoh kocek lebih dalam untuk memproduksi makanan atau minuman. Sebab perdagangan merupakan mata rantai sehingga harga bahan baku yang sampai ke pelaku usaha dipastikan akan ikut naik.
"Bila di setiap fase produksi, distribusi, dan sebagainya itu diberikan 1%, kan semua kena nanti. Ini maka konsumen dan restoran itu juga yang akan terdampak," jelasnya. (uma)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim