Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Petani Alpukat di Probolinggo Berkembang Berkat Program Klasterku Hidupku BRI, Berikut Kisahnya!

Yosep Awaludin • Selasa, 31 Desember 2024 | 14:03 WIB
Dodik Handoko, Ketua Klaster Alpukat Probolinggo
Dodik Handoko, Ketua Klaster Alpukat Probolinggo

RADAR BOGOR - Desa Maron di perbukitan Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, memiliki cerita tentang hasil kerja keras.

Di desa dengan tanah yang subur ini, rimbun pohon alpukat Probolinggo yang ditanam oleh para petani lokal.

Perjalanan Dodik Handoko, Ketua Klaster Alpukat Probolinggo, adalah salah satu cerita yang berasal dari Desa Maron.

Salah satu program pemberdayaan BRI yang dikenal sebagai Klasterku Hidupku adalah Klaster Alupkat Probolinggo, yang membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk terus berkembang.

Dengan bantuan Klaster Alupkat Probolinggo, Dodik telah berhasil memberdayakan diri sendiri dan lingkungan.

Ia menceritakan bahwa pada awalnya mereka menjual 100 kg alpukatlokal dari Probolinggo ke pasar-pasar kecil.

Namun, jumlah alpukat terus meningkat seiring waktu. Dari hanya mampu membeli 1 ton, Dodik sekarang dapat mengirim hingga 30 hingga 40 ton alpukat ke berbagai pasar di Indonesia.

Di Pasar Induk Jakarta, Cikopo, Cibitung, dan Kramat Jati, antara lain, Alpukat Probolinggo telah menjadi sangat populer.

Saat ini, Alpukat Probolinggo telah berkembang menjadi salah satu simbol buah unggulan di wilayah tersebut.

Dodik tidak hanya terkenal di Jawa tetapi juga mengirimkan alpukat ke Medan, terutama saat stok alpukat lokal di Sumatra habis.

"Kalau Medan kekurangan, kami kirim dari Probolinggo. Sebaliknya, kalau Jawa habis, kadang-kadang suplai datang dari Medan." Oleh karena itu, saling melengkapi," kata Dodik. 

Dia juga menyatakan bahwa harga alpukat bervariasi tergantung pada pasar yang dituju. "Kalau untuk supermarket, harganya bisa Rp30 ribu per kilogram. Kalau untuk pasar tradisional, mulai dari Rp10 ribu sampai Rp17 ribu per kilogram," katanya.

Klaster Alpukat Probolinggo, yang dikenal sebagai primadona Daerah Maron, hadir di Bazar UMKM BRIliaN yang diadakan di Area Taman BRI, Jakarta pada 16 Desember 2024.

Alpukat yang dibawa Dodik habis dalam satu hari gelaran bazzar. Dia mengatakan bahwa bazar UMKM BRILiaN sangat membantu klasternya untuk memperkenalkan alpukat Probolinggo ke pangsa pasar yang lebih luas agar bisa menghasilkan lebih banyak uang.

Dia berharap ini dapat menginspirasi pelaku UMKM lainnya, bukan hanya di daerah sekitar kami, tapi menyebar ke seluruh Indonesia.

Berdaya Melalui KlusterkuHidupku BRI.

Dodik menyatakan bahwa dia berkenalan dengan BRI sekitar sembilan tahun lalu, atau pada 2015. Dodik memulai bisnisnya dengan mengajukan KUR sebesar Rp50 juta dari BRI.

Dengan modal ini, bisnisnya sekarang dapat menjual alpukat hingga puluhan ton setiap musimnya. "Alhamdulillah, kami telah berkembang dari modal awal itu," tuturnya.

Menurutnya, sudah banyak keuntungan sampai saat ini. Seiring dengan ekspansi bisnis, Dodik juga meningkatkan pinjaman KUR-nya hingga Rp150 juta. Pembayaran pinjaman selalu berjalan lancar.

"Dengan BRI, kami tidak bingung mencari pinjaman ke mana. Alhamdulillah, pembayaran juga lancar," katanya.

Hal itu menunjukkan kemitraannya dengan BRI sebagai salah satu faktor utama yang membuat usahanya tetap stabil hingga saat ini."Kami sangat terbantu", katanya.

DOdik juga berharap kolaborasi dengan BRI akan berlanjut, khususnya dalam membantu pertumbuhan bisnis kecil dan menengah seperti milik dirinya. Dia berharap usaha kami akan lebih sukses, lebih maju, dan semakin jaya di masa depan.

Menurut Supari, Direktur Bisnis Mikro BRI, Klaster My Life adalah pemberdayaan bagi kelompok bisnis yang memiliki kesamaan bisnis dalam satu wilayah, yang memungkinkan keakraban dan kebersamaan untuk meningkatkan dan mengembangkan bisnis para anggotanya.

"Secara umum, strategi bisnis mikro BRI akan fokus pada pemberdayaan berada di depan pembiayaan. BRI sebagai bank yang berkomitmen kepada pelaku UMKM telah memiliki kerangka pemberdayaan yang dimulai dari fase dasar, integrasi, hingga interkoneksi," kata Supari. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#alpukat #bri #probolinggo